Monday, 2 September 2013

Pulau Lankayan (Lanskap)

Namamu disebut dalam igau mimpi
terlentang di pantai pasir putih laut biru
memandangmu tanpa mengerdipkan mata
melihat kuda semberani datang dari titik
di horizon, berlari meluruh ke depan
melebarkan kepak dan aku penunggangnya.

Dari sukma muncul matari cahayanya tak panas
seperti suam air di hujung jari. Perlahan-lahan
lanskap bertukar warna, cahaya matari menjadi
hijau. Aku tak mengharap selebihnya.

Ketika menunggang kuda semberani aku
berkejar-kejar dengan bola matari kekadang
meluncur  sampai ke puncak langit samawi
lalu turun lagi ke bumi. Orbit tanpa sempadan.

Pulau Lankayan, aku menakluki sukmamu
dengan perutusan damai tanpa air mata.
Tiap kenangan tumbuh menjadi pohon cemara
di pulaumu.

Di pantai pulau ini kau datang dan pergi
meninggalkan warisanmu.

Kota Kinabalu
3 September 2013