Monday, 5 August 2013

Menjelang Aidil Fitri, Ogos 2013

Kau melihat di Langit Samawi bulan hilal
mengembang menjadi bulan Qamar dan
purnama penuh lalu mengecil kembali di-
seantero langitmu Ramadan Al Mubarak.

Hukum alam, kau terpaksa melepaskannya
sekalipun terlalu berat dalam benak seorang
manusiawi. Gazel, kau menunggu datang
anak bulan seperti anak bermain kembang
api di Malam Takbir.

Pernah kau berceritakan tentang ibu tua
menyiapkan sepasang baju kurung dan
sepasang baju melayu buat anak jiranmu.
Dapatkah dibayangkan bagaimana degup
jantung ibu tua ingin menyempurnakan
harapannya di malam itu dan sebelum
datangnya mentari pagi.

Di Tanah Peribumi ini, kau kembali
menyedut udaramu bukan sebagai
pendatang malam atau musafir yang
kelelahan mencari oasis dan pohon
rendang di bawah langit selaksa bintang.

Kau mulai menghimpun kekuatan
memakan buah impian bukan dalam
mimpi atau dalam mitos dan legenda
kerana di sini kau datang kepadanya.
Kau pernah melangkahi sempadan dan
memanggilmu dengan kasih-sayang.
Aku telah mengiyakan sekali lagi
Kaulah penghibur dan membuka pintu masuk.

Dapatkah kau menyakin kepada
langit dan bumi sekalipun musim
bertukar dan tsunami kau tak akan
berganjak dan menyerah kalah.

Mereka telah melepaskan
binatang-binatang buas dan menjadi
sekutu di malam ngeri.
Tapi kekuatan buruj dunia
tak akan menderamu. Sekalipun
mimpi musuhmu sangat kejam.

Malam terakhir Ramadan Al Mubarak
Kau menunggu di hujung tanjung
memandang langit seperti menanti
kedatangan seorang Kekasih Sejati
dengan perhiasan yang sempurna.
Datanglah Idul-Fitri, biar semangatmu
terkandung di dalam sukma ini.
Kau merayakan Idul-Fitri dengan
kembang kasih-sayang dan harapan
pada esok.

Kota Kinabalu
6 Ogos 2013