Sunday, 12 October 2014

Kejuitaan Sebuah Malam Dalam Kembara Bahasa* (Puisi)(Metamorposis)

Aku hanya dapat berkata
kaulah purnama

dan kejuitaan sebuah
malam
hingga tersingkapnya
siang.

Sipitang malam ini
turun berhias
lautmu tak berombak
langitmu seperti
dinding silam
yang teranyam dari
tangan-tangan bidadari
memital kain tenun
di penjuru malam
dan melihat siang
dari gelas Krystal.

Merapok dan Palakat
tersimpul mati
wira yang berpulang
menjadi tanah gembur
di hujung desa.
Gema tilawatmu
menyentuh sukma
bintang Kartika
kejuitaan sebuah Malam.

Kembaramu adalah tari gerak
puisi yang melukiskan
keindahan khat di dinding
sukma.
Bahasamu adalah
anugerah sebuah cinta
lahir dari budaya
bumi dan samawi.
Di Tanah Peribumi ini
cinta bahasamu tumbuh
hidup hingga kiamat.
Bukankah di tanah leluhur ini
lahir penyairmu yang
menganyam malam
menjadi lautan inspirasi
menghirup udara siang
lalu melafazkan kata-kata
bagai rimbunan hijau
dalam sukmamu.
Siapapun tak akan
datang dan lalu
mempersendakan
bahasa dan budayamu.

Ruh sebuah bangsa
hadir di dalam Kembara Bahasa
Ruh sebuah puisi
hadir dalam doa
yang melangkarkan
kata-kata dan kalimat.