Sunday, 9 June 2013

Puisi-Puisi Dalam Almari*(ALBDSM)

Telah bertahun-tahun
kau menghimpun
kata-kata sukmamu
yang diperas dan
titiskan di atas kertas.
Kesabaranmu
adalah gunung
yang bertahan.

Di dalam kata-kata
tersirat impian dan harapan
Kau telah mencapai puncak
kini menuruni lembah begitu
cepat dan nekad.

Kau melantangkan
suaramu, bergema dan
bersayap di pergunungan
jauh di lembah dan samudera lautan. 
Kaulah perindu pada kebenaran

Kebenaran adalah suatu yang abadi
tak hapus ditelan musim dan waktu.
Apapun demi kebenaran, perjuangan
kebenaran hakiki, manis sekalipun didera
atau dihukum dari musuh-musuh durjana.
Kebenaran, suara langit turun ke bumi
dan kembali ke langit.

Kau, petualangan kebenaran
membelakang segala hukum dan
martabat manusia.
Deralah tubuh ini sepuasmu,
kelentang-kelentung rangka tengkorak
maut mengintip senyap di sebalik daun pintu

Kau telah membaca puisi-puisi
tentang orang kecil yang didiamkan
suara yang terpinggir dan dipotong lidah
dan dipaku ke dinding sebagai peringatan.
Kegusaranmu dan ketidakadilan
yang ditimpakan ke atasmu mengganggu
tidur seorang penyair dan menjadi
bayangan raksasa yang menyiksa
lalu sukmamu siap turun ke medan.
Puisi-puisi pun mengalir sebagai tongkat
dan fir'aun-fir'aun gegabah, kehilangan akal
dan sukmanya tertebok.

Berdiri di depan almari, kau melihat
tenang puisi-puisimu dalam almari buku
lalu memandang keluar ke langit khatulistiwa
dan tanah pribumi.

Kota Kinabalu
10 Jun 2013

*Antologi Puisi, 'Lirik Bulan Di Sukma Malam', Sabahuddin Senin dan Kamaria Buang, Borneo Top Publishing House, 2013