Saturday, 22 June 2013

Hujan Jerebu di Langitmu*(UB) (Cemar)

Di wajahmu yang murni
kini menjadi kabut.
Udara menekan
jerebu dalam diam
memasuki ruang langitmu.

Di kotaraya berjatuhan
sekawan burung
sukmanya rawan
tak dapat melawan
kabus gelap yang
mengurung rongga dadanya.

Ini adalah musim jerebu
buatanmu
membakar hutan
merentas jalan pendek
serakah tanpa sempadan.

Di tengah malam
kau terbangun
dan melihat rembulan
menjadi gelap lalu
kelihatan seperti warna
gerhana menyeliputi
cahaya rembulan.

Aku menatap wajahmu
pucat dan matamu tak bermaya.
Ada yang masih berani dan
tak ambil kisah.
Bermain sembunyi
di tanah pribumi
terbakar hanggus.

Nusantara
hawamu khatulistiwa
tapi masih diciptakan orang
musim jerebu
siapakah membakar hutan
dan masih tak peduli.

Tenang-tenanglah langit
kau selalu menjadi saksi
sabar-sabarlah bumi
kau melihat kerakusan
dan ketamakan
bermaharajalela di
belantaramu.

Meskipun suara ini
seperti orang berbisik
tapi gemanya menusuk-nusuk
gendang telinga
dan merayau-rayau dalam
igau mimpi tengah malammu.

Aduhai, belantara rimba jati
ruh dari samudera lautan teduh
hujan dari langit samawi
turun dan menghapuskan
api petualang di malam durjana.

Aku tak akan berhenti bersuara
atau diam tanpa memperingatkanmu
kesabaran belantara rimba jati
kini telah bergolak.

Kota Kinabalu
22 Jun 2013


*Antologi Puisi, 'Lirik Bulan Di Sukma Malam', Sabahuddin Senin dan Kamaria Buang, Borneo Top Publishing House, 2013
*Tersiar Di Utusan Borneo 30 Jun 2013