Tuesday, 4 June 2013

Penumpang Sukma*(ALBDSM)

Mentari masih mendakap kotaraya
belum ingin melepaskan
Pemandu bus masih mengejar
penumpang pinggir jalan
ke kota. Sesekali membunyikan hon.
Pembantunya memberi isyarat
tempat duduk masih ada.

Lampu isyarat, satu lepas satu.
Jalan ke kota tak semestinya
langsung ke terminal. Baru
saja menekan minyak harus
berhenti, kalau bukan
penumpang di belakang menekan
isyarat berhenti, ada penumpang
menunggu di depan stesyen bus.

Ada
lagu-lagu, menghibur penumpang.
Ketika dalam bus
boleh menunggang mimpi
jauh ke kaki langit.


Bus berhenti, di jalan panjang
sekumpulan penumpang masuk
9 wanita, bayi dan anak lelaki
dan anak perempuan, bukan
berdiri, duduk di tengah bus.

Kulitnya terbakar matahari
baunya, bau lautan. Gerak-geraknya
hati-hati. Dan waspada. Mulut mereka
kering dan lapar.

Bus terus
menyerbu kotaraya. Tanpa bertanya
dan peduli, penumpang baru masuk.

Tiap mata memandang
dan tak berkata apa-apa.
Aku pun hanya memandang
seperti memandang alam dalam
sesaat. Sosok-sosok tubuh ini
adalah orang kecil yang
mencari dinding untuk menempel.

Mereka ingin menempel pada langit
terlalu tinggi dan luas untuk dijangkau
mereka ingin menempel pada lautan
terlalu memabukkan dan berhempas
pulas mencari daratan. Mereka ingin
berteduh pada sukmamu walau sebentar
lalu meneruskan perjalanan nanti.

Adakah kau akan berhenti di tepi jalan
membiarkan penumpang sukma masuk
sebagai penumpangmu?

Kota Kinabalu
5 Jun 2013

*Antologi Puisi, 'Lirik Bulan Di Sukma Malam', Sabahuddin Senin dan Kamaria Buang, Borneo Top Publishing House, 2013