Thursday, 20 November 2014

Pemuda Rohingya Di Kota Lunsur (Boat People)

Di Kota Lunsur ini, siang rebah satu demi satu
ke atas pundak dan malamnya ia seakan
terlempar ke cakerawala tanpa kuasa untuk pulang
kembali.

Sukmanya merontah-rontah mau ke mana
di kota lunsur ia bagaikan terpenjara dan
kegelisahannya telah mencapai puncak
Di tengah-tengah kesibukan kota
ia lupa dirinya seorang Rohingya,
Pendatang Malam.

Ketika ekor gelombang menghempas
perut kapal
ditelan gelap malam dan deru angin lautan.
Ia tak menyangka ada pantai dan tanah darat
di pinggir mata.

Ia adalah pemuda terakhir desa Arakan
tiap malam igaunya mencari ibu dan adek perempuan
ketika mereka berpisah suatu malam
bulan gerhana di Arakan
mereka menjadi binatang buruan
di tanah peribumi sampai di tanah sempadan.
Sejak itu ia merindukan pada purnama
yang berselindung di langit Myanmar.

Di Kota Lunsur
ia mengharapkan pertemuan itu
meskipun bulan malap di perbatasan
suara ibu terbawa angin makin jauh
dan adek perempuan jejaknya tak ditemukan.