Tuesday, 18 November 2014

Budak Rohingya di Khemah Pelarian (Boat People)(HarianEkspress)*


Hujan Khatulistiwa mengurung
anak-anak Rohingya
di khemah-khemah pelarian
di sempadan.
Siang terasa panjang
dingin menusuk tulang-belulang.

Di dalam khemah ini
ada seorang budak lelaki, gundah
gundah memandang keluar
tapak-tapak kaki di atas lumpur
ada yang telah ditenggelami air.

Lalu budak lelaki itu duduk melipat
kertas buku membuat kapal terbang
sambil bercerita sendiri tanpa pendengar.
Ia bayangkan kapal terbang angkasa raya
penumpang adalah dirinya sendiri.
Ia nekad akan berlepas sekalipun
cuaca buruk.

Khemah Pelarian Rohingya ini
digenangi air, hujan belum berhenti
jelas semua Rohingya ketiduran.

Budak lelaki itu membesarkan
bunyi suara mulutnya
kapal ini akan berangkat
lalu ia pilotnya sendiri melingkari
langit dan tanah perbatasan.

Ia melihat Arakan, tanah leluhur
kapal terbang kertas melayang
di langit biru
timur ke barat langit perbatasan
dihirupnya udara sambil melihat
desa-desa Rohingya yang kosong.

O Arakan, aku datang kepadamu
O Arakan, namamu tak akan kulupakan

Hutan Khatulistiwa
menyimpan rahsia leluhur Rohingya
kau tak akan dapat dipisahkan
dengan bumi Arakan.
Kapal terbang kertas naik ke atas
udara monsun lalu menjunam ke bawah.

Langit ini adalah langit Rohingya
bumi Arakian adalah tanah leluhur Rohingya.

Ketika hujan Khatulistiwa menampar pipinya
ia telah berada di luar khemah.
melihat kapal terbang kertasnya
menjunam ke bumi
jatuh ke dalam lumpur jalanan
khemah Perbatasan Pelarian Rohingya.

*Terbit di Harian Express 7 Mei 2015