Wednesday, 3 September 2014

Pendatang Malam buat Aziz Zitan (Boat People)

Aku mengikuti jejak perjalananmu di petala bumi ini
kakimu melangkah tak berhenti hanya ketika kau
merasa kantukmu berkali-kali memberi peringatan
tidurlah, supaya esok kakimu dapat melangkah
dan menyeberangi sempadan ke negeri asing
tak pernah kau mimpikan di sini kau akan tiba
tanpa ada orang berkumpul mengucap selamat datang.

Tiap perhentian, berhenti sebentar, mencari ketenangan
meredahkan denyut jantung supaya kau dapat tersenyum
tanpa dicurigai. Kau adalah musafir di alaf 21,
pengembara yang dirinya tak pasti esok mau ke mana.
apakah ia mengejar bayang-bayangnya atau
ia segaja membiarkan dirinya hanggus ditelan waktu
sebagai pendatang malam.

Kau tak pernah berundur, langkahmu ke depan
ingatanmu tentang tanah leluhur makin gelap
lupa pada keindahan dan kehebatan bangsamu
sebenarnya kau adalah musafir rohani yang
menyerahkan dirimu kepada Tuhan Semesta Alam
membawamu ke pohon rendang  tempatmu
beristirehat memandang bintang malam
menceduk mimpi dan harapan.

Ketika mereka menyuruhmu pulang
melangkah balik ke sempedan sebelumnya
kau adalah musafir tak punya apa-apa
Passport mati dan tak ada jalan pulang.
kau seperti berdiri di sejengkal tanah
yang terapong di tengah samudera lautan.

Kau tak akan berhenti mencuba terus
mereka tak akan dapat mematahkan
semangat dan pengorbanan ini.
Kebenaran yang kau pegang
suatu hari akan membawamu pulang
kemenanganmu adalah kesabaran
dan keberanianmu adalah lautan tak bertepi
doa-doamu adalah cahaya yang tak akan padam.
Bertahanlah seperti gunung
pasti ada siang yang membawa khabar dan harapan.