Thursday, 11 September 2014

Derhaka dan Pengkhianat* (Ketuhanan)

Terlalu banyak kenangan dan catatan
membakarkannya perlu kesabaran
tragiknya tak mungkin semuanya akan
bertebaran menjadi debu.

Serpihannya berpusing-pusing
digolong angin musim kering
di depan matamu yang redup.
Kau lupa dan melepaskan
dari genggaman memori
tapi akarnya tetap kuat
bertahan tak ingin melepaskan.

Sebuah memori indah cukup
mengumpul puluhan memori
ingin melepaskan diri
hilang terbakar seperti komet.
Kau tak rasa dikhianati
sekuntum bunga ros pun
mengalami musim luruh.

Dalam rimbunan malam
kau terus berkata-kata
melafazkan dalam sepi malam
kesepian itu bukan musuh
adalah sahabat baik tak
dapat dipisahkan.

Sampai kiamat mendatang
kebenaran bukan suatu
yang abstrak dan keliru.
Kata-kata benar
bertahan dari dimamah waktu
atau dipanggil derhaka
atau pengkhianat.