Wednesday, 3 August 2016

Sungai Kinabatangan Dan Tanah Leluhur (Kumpulan Puisi Indah)*

Di dadamu, Sungai Kinabatangan
aku meletakkan telinga mendengar
kelembutan nafasmu yang mengirim
riak-riak ke tebing sebuah harapan runtuh.

Gema suara hutan jati telah lama
kehilangan lidah dan tanah-tanahnya
telah terbongkar, akar-akar telah menjadi
kering dan terdedah pada langit matahari

Hujan yang turun menyentuh wajahmu
seakan berkata penyesalanmu selama ini
melihat air lumpur yang menolak ke muara
tanah leluhurmu sunyi dan hewannya berpergian.

Kayu balak yang tenggelam di dalam sungai
suatu malam terapong seperti berkabung
hanyut dalam arus dari tebing ke tebing
mengirimkan peringatan dalam mimpimu.