Puisi-puisi ini lahir
seperti bumi yang tersentuh
air hujan dalam kalbu penyair
kata-kata yang membina kalimat
menjadi gema suara pabila melihat
kezaliman pada tindakan lalu
berjatuhan tubuh-tubuh dan mayat
tak berwajah, terbakar hanggus.
Kegilaan yang tak terkawal
membuka halaman sejarah hitam
dan akan tinggal dan terpahat
pada dinding-dinding bangsamu
satu pengkhianat atas nama bangsa
menjadi laknat di malam panjang.
Gema suara Rohingya
telah menganggu tidur saudaramu
dalam doa-doa tengah malam
telah mengerakkan hati nuranini
panah-panah langit turun
pada sasaran.
Puisi-puisi ini ditulis
atas solidaritas kemanusiaan sejagat
kezaliman harus berhenti
Myanmar, kamu harus mendengar
suara hatimu
dan kembali pada kedamaian
itu, keselamatan yang terjamin
pada bangsa yang beradab.
This collection of poetry is the work of Sabahuddin Senin. All the poems are copyright of the poet. Any publication must get permission from the poet. Most of the poems are written in the Malay language. Sabahuddin Senin is a writer from East Malaysia, Sabah.He studied at the Universiti Sains Malaysia, Penang, NIDA, University New South Wales and the Australian National University, Canberra. He spends most of his time in Malaysia, Australia and Solomon Islands. 13th April, 2011
Thursday, 8 December 2016
Nur Yang Bersimbah, Rohingya (Rohingya)*
Ketika ummah dizalimi
kau mencari perlindungan
pada langit dan gelombang lautan
menyeberangi sempadan
mencari suaka.
Malammu menjadi panjang
dan siangmu dalam ketakutan
di hujung jalan itu mungkin
bersembunyi soldadu Myanmar.
Tiap simpang dan lereng bukit
alir sungai dan lembah hijau
dan pohon-pohon rimba telah
membuka jalan Rohingya bersembunyi.
Langit meminjamkan bulan dan
matari pabila kamu dalam ketakutan
mimpi rohingya hidup
kedamaian Arakan gunung tak runtuh
rimbamu adalah jiwa berpaut
pada panah-panah malam
nur yang bersimbah dalam
hidup rohingya.
Nilai
Disember 2016
kau mencari perlindungan
pada langit dan gelombang lautan
menyeberangi sempadan
mencari suaka.
Malammu menjadi panjang
dan siangmu dalam ketakutan
di hujung jalan itu mungkin
bersembunyi soldadu Myanmar.
Tiap simpang dan lereng bukit
alir sungai dan lembah hijau
dan pohon-pohon rimba telah
membuka jalan Rohingya bersembunyi.
Langit meminjamkan bulan dan
matari pabila kamu dalam ketakutan
mimpi rohingya hidup
kedamaian Arakan gunung tak runtuh
rimbamu adalah jiwa berpaut
pada panah-panah malam
nur yang bersimbah dalam
hidup rohingya.
Nilai
Disember 2016
Tuesday, 6 December 2016
Mimpi Anak Rohingya (Rohingya)*
Sejak terakhir
anak Rohingya ini
didatangi mimpi
kepulangan mereka
ke tanah Arakan.
Ia melihat
Arakan bertahan
dari segala musim
rimbanya masih perkasa
gema suara
memanggilnya pulang
sungainya tetap mengalir.
Kehijauan desa dan
langitnya tetap mesra
bau buminya, utuh
airnya dingin
kerinduan Rohingya
hidup dalam mimpi.
Kota-kotamu
melambaimu pulang
dan mimpi Rohingya
Arakan, tanah leluhur
abadi.
Mimpi anak Rohingya
hidup sepanjang zaman.
Nilai
Disember 2016
anak Rohingya ini
didatangi mimpi
kepulangan mereka
ke tanah Arakan.
Ia melihat
Arakan bertahan
dari segala musim
rimbanya masih perkasa
gema suara
memanggilnya pulang
sungainya tetap mengalir.
Kehijauan desa dan
langitnya tetap mesra
bau buminya, utuh
airnya dingin
kerinduan Rohingya
hidup dalam mimpi.
Kota-kotamu
melambaimu pulang
dan mimpi Rohingya
Arakan, tanah leluhur
abadi.
Mimpi anak Rohingya
hidup sepanjang zaman.
Nilai
Disember 2016
Doa-doa Rohingya (Rohingya)*
Kau melihat duka lara Rohingya
langit kalbumu menitis di lantai
kemanusiaan
penderitaanmu telah mengetuk
pintu nilai sejagat
kekerasan dan dendam akan gagal.
Selama ini Myanmar
di sudut penjuru sendiri
ketika kau diterima
hidup berbangsa
di rantau nusantara
dalam satu malam
kau merobek layar
kemanusiaan sejagat
menzalimi Rohingya.
Demonstrasi hari ini
persaudaraan ummah
tiap bangsa punya hak hidup
Rohingya, kau warga dunia
dan bangsa cinta pada kedamaian.
Jauh di bumi Rohingya
suara-suaramu menjadi buruan
ketika tubuhmu dizalimi
kau tak pernah mengaduh
api yang membakar
tubuh Rohingya menjadi dingin.
Rohingya,
kebijaksanaanmu adalah
kekuatan
dan doa-doa kalbu
orang yang teraniaya.
Nilai
Disember 2016
langit kalbumu menitis di lantai
kemanusiaan
penderitaanmu telah mengetuk
pintu nilai sejagat
kekerasan dan dendam akan gagal.
Selama ini Myanmar
di sudut penjuru sendiri
ketika kau diterima
hidup berbangsa
di rantau nusantara
dalam satu malam
kau merobek layar
kemanusiaan sejagat
menzalimi Rohingya.
Demonstrasi hari ini
persaudaraan ummah
tiap bangsa punya hak hidup
Rohingya, kau warga dunia
dan bangsa cinta pada kedamaian.
Jauh di bumi Rohingya
suara-suaramu menjadi buruan
ketika tubuhmu dizalimi
kau tak pernah mengaduh
api yang membakar
tubuh Rohingya menjadi dingin.
Rohingya,
kebijaksanaanmu adalah
kekuatan
dan doa-doa kalbu
orang yang teraniaya.
Nilai
Disember 2016
Rohingya, Rohingya (Antologi Kemanusiaan Rohingya 2017)*
Mereka seperti melupakan sejarah
kebencian dan
penghapusan ethnik
hujungnya adalah
kekalahan dan
tunduk pada
kedamaian.
Ketika kegelapan
menutupi
pandanganmu, Rohingya
mimpi-mimpi buruk
datang
dalam tidurmu.
Mereka memilih
kezaliman
dan kejahatan
berada
pada puncak.
Massa digerakkan
Rohingya, hakmu
dirampas.
Satu bangsa yang
beradab
bertukar wajah
pada satu malam
pemburu maut
di lorong-lorong
kota
di desa-desa
Arakan
menzalimi Rohingya.
Kau diperingatkan
tak selamanya kau
berada di atas
membakar
musuh-musuhmu
merogol wanita
Rohingya
menyiksa sampai
menyeberang
sempadan.
Rohingya, Rohingya
solidaritas langit
dan bumi
satu rasa dan satu
bantahan
Regim Myanmar,
hentikan kegilaaan
ini
kembali pada
kedamaian.
Nusantara tak akan
berdiam
PBB saksi
kejahatanmu
aung san suu kyi,
melihat keburukan
bangsanya
dan menyepi.
Rohingya, Rohingya
kesabaranmu
mengalahkan
kebuasan Rakhine
dan
pendeta-pendeta dirinya
sebenarnya hewan
ratapan Rohingya
di malam panjang
telah bersambut.
Rohingya, kau tak
sendiri.
Nilai
Disember 2016*Tertibkan dalam Antologi Puisi Kemanusiaan Rohingya 2017 diselenggarakan oleh Hasyuda dan Jasni Matlani.
Langit Merah Di Bumi Rohingya (Rohingya)*
Myanmar,
para pendeta turun
sebagai penabur fitnah
maut memburu Rohingya
Arakan, dalam kepayahan
kau bertahan
kemanusiaan terseret dalam
lumpur Rakhine.
Mereka ingin mematikan suaramu
dan menghilangkan jejak di bumi
leluhurmu.
Kegilaan ini tanpa ampun
kezaliman bertahta
ditubuh-tubuh Rohingya
wanitamu dicabul
mayat berjatuhan dalam
rumahmu.
Raksasa haus darah
keganasan ini
merubah Myanmar
kau telah
mencipta mimpi-mimpi gerun
penderitaan Rohingya
telah mengetuk pintu
kemanusiaan sejagat.
Bangsa-bangsa beradab
mengingatkan
siasahmu membawa
kehancuran
suara majoritasmu
hanya membina tembok-tembok
aung san suu kyi
kehilangan kata landasan
berpijak.
Ektremis ashin wirathu
pendeta Budha
menyalakan api
tiap halaman Rohingya
bumimu bergolak
sempadanmu menjadi panjang.
Rohingya,
langit dan bumi telah
menghidupkan mimpi
dan harapanmu
sejarah perjuangan
dan
penderitaanmu
menyingkap tabir samawi.
Nilai
Disember 2016
para pendeta turun
sebagai penabur fitnah
maut memburu Rohingya
Arakan, dalam kepayahan
kau bertahan
kemanusiaan terseret dalam
lumpur Rakhine.
Mereka ingin mematikan suaramu
dan menghilangkan jejak di bumi
leluhurmu.
Kegilaan ini tanpa ampun
kezaliman bertahta
ditubuh-tubuh Rohingya
wanitamu dicabul
mayat berjatuhan dalam
rumahmu.
Raksasa haus darah
keganasan ini
merubah Myanmar
kau telah
mencipta mimpi-mimpi gerun
penderitaan Rohingya
telah mengetuk pintu
kemanusiaan sejagat.
Bangsa-bangsa beradab
mengingatkan
siasahmu membawa
kehancuran
suara majoritasmu
hanya membina tembok-tembok
aung san suu kyi
kehilangan kata landasan
berpijak.
Ektremis ashin wirathu
pendeta Budha
menyalakan api
tiap halaman Rohingya
bumimu bergolak
sempadanmu menjadi panjang.
Rohingya,
langit dan bumi telah
menghidupkan mimpi
dan harapanmu
sejarah perjuangan
dan
penderitaanmu
menyingkap tabir samawi.
Nilai
Disember 2016
Monday, 5 December 2016
Rohingya, Mimpi Kemenanganmu (Antologi Puisi Kemanusiaan Rohingya 2017)*
Jangan kamu
berhenti dari bermimpi
gema suara-suara Rohingya
tak akan hilang ditelan
api amarah durjana.
Walaupun layar kedamaian ini
bagai kain yang robek
luka-luka Rohingya makin parah.
Kemanusiaan seperti
permainan siasah
dan tukang sulap
maut Rohingya berjatuhan
di bumi Myanmar.
Kata-kata mereka
telah menjadi pedang
yang membunuh
di siang yang celaka.
Rohingya, Rohingya
api dendam dan khianat mereka
usah membunuh
mimpi kemenanganmu.
Bebaskan
dirimu dari malam-malam
derhaka dan pembalasan dendam
perjuanganmu tak berhenti di sini
kerana kedamaian itu adalah
air yang mengalahkan kezaliman.
Nilai
2016
*Diteribitkan dalam Antologi Puisi Kemanusiaan Rohingya 2017 diselenggarakan oleh Hasyuda dan Jasni Matlani.
berhenti dari bermimpi
gema suara-suara Rohingya
tak akan hilang ditelan
api amarah durjana.
Walaupun layar kedamaian ini
bagai kain yang robek
luka-luka Rohingya makin parah.
Kemanusiaan seperti
permainan siasah
dan tukang sulap
maut Rohingya berjatuhan
di bumi Myanmar.
Kata-kata mereka
telah menjadi pedang
yang membunuh
di siang yang celaka.
Rohingya, Rohingya
api dendam dan khianat mereka
usah membunuh
mimpi kemenanganmu.
Bebaskan
dirimu dari malam-malam
derhaka dan pembalasan dendam
perjuanganmu tak berhenti di sini
kerana kedamaian itu adalah
air yang mengalahkan kezaliman.
Nilai
2016
*Diteribitkan dalam Antologi Puisi Kemanusiaan Rohingya 2017 diselenggarakan oleh Hasyuda dan Jasni Matlani.
Subscribe to:
Posts (Atom)