Monday, 3 August 2015

Tamu Siang Itu* (Ketuhanan)

Tamumu akan datang dari Benua Selatan
ia bukan Petualang Malam atau orang asing
pintu telah tak berkunci sejak malam tadi
kau menganyam memori yang terperosok.

Apa yang ingin kauberitakan tak ada yang baru
segalanya jadi grafiti pada dinding-dinding silam
suara itu adalah artifak saksi kebenaran abadi
rahsia ini telah menjadi pohon kayu malam.

Kita merelakannya dengan hamparan kasih
dan berhenti bicara tentang malam majnun
lepa-lepamu belayar dalam samudera malam
di atol lautan kau telah melepaskan sauhu.

Sekalipun  mata angin telah berubah haluan
layarmu tetap berkembang membaca gelombang
bila malam tiba kau melihat keramaian bintang
dan letus komet berjarak di langit sukmamu.

*Dikirimkan pada Daily Express 12 August 2015
















Bumimu Hidup (Ketuhanan)

Pertanyaanmu telah menyingkap tabir malam
kau tak mungkin bersembunyi pada huruf
bermain sembunyi-sembunyi di tanah belian
hari pun telah jauh di pinggir malam.

Kau melihat seperti ada keramaian tanglung
yang jelas ia bukan tamu di hujung minggu
orang tak bertanya menurut mengikut langkah
suara tak jelas seperti semua orang bercakap.

Mengapa bertanya kalau kau telah tau jawabnya
bukan pertanyaan mencipta kekeliruan dan panik
malammu penuh sangsi gemuruh angin dari utara
kau melihat ke arah jendelamu yang terbuka itu.

Bacalah gerak langit tak akan meninggalkamu
di tanah leluhur ini doa-doamu terhimpun
baunya tak hilang telah menyerap dalam sukma
kau bumi tak akan mengalah sampai kiamat.







Air Lumpur* (NST) (Cemar)(Terbit)

Hujan  jauh di puncak bukit  mengalir
menuruni sungai berlumpur ke kuala
mengheret segala tanpa kompromi
satu kekuatan datang tak dapat dihalangi.

Kau menyaksikan ketika amarah air
melunsur jauh menghentam dinding kota
mengoncang sukma dan meregut maut
mengikis harapanmu di musim hujan.

Di tanah pedalaman hujan pun tak berhenti
kebimbangan empanganmu akan pecah
desa-desa mulai terapung di tanah peribumi
suara penghuni rimba raya mulai bergema.

Ketika alam tak terkawal dan berlenggang
peringatan datang tak berhenti di depan pintu
tapi kau masih berdalih dan menidakkan
tindakanmu telah melampau selama ini.

*Tersiar Di New Sabah  Times 16 August 2015

Rimba Raya Telah Sunyi* (Cemar)

Kau tak mendengar lagi suara itu pada rimba raya
seperti telinga ingin mengesan bunyi telah menjauh
suara itu terputus sangat lemah sukar dimengerti
hilang dalam kegelapan malam hening dan sepi.

Suara itu kau kenali kerana kau mengenalnya
di dalamnya terkandung kasih-sayang dan cinta
kerinduan ini saling terisi dan sangat didambakan
ketiadaanmu menyiksakan yang lain di pojokan.

Salam ukhuwah kubawamu sampai ke alam mimpi
cinta ini tak akan pernah putus pada gelombang
atau ditelan waktu gerhana dan malam panjang
rimba raya kehilangan suaramu di tanah leluhur.

Memandang purnama tergantung pada dahanmu
firasat memberi peringatan padamu siang itu
api menjulang ke langit membakar rimba raya
angin membawa jerebu tebal menyeberangi lautan.

*Dikirim ke DS 16 August 2015






Saturday, 1 August 2015

Kalau Kami Tak Bersuara (Cemar)

Kalau aku berdiam diri selama ini
bukan bererti aku tak ambil tahu
tentangmu bukan perkara kecil
selamanya akan terus jadi perhatian.

Kalau aku berdiri dan bersuara
membela dan prihatin supaya
kalian tak tertipu dengan bual mereka
perkara sebenarnya berlaku di sini.

Kalau kau tak ambil tau siapa lagi
tanah ini adalah hak warisan esok
perlu dilindungi dan dipelihara
tapi masih ada lagi tak ingin tahu.

Kalau mereka masih tak ambil pusing
jangan berhenti selalu memberi ingatan
laksanakan hukum supaya mereka tau
kami tak akan diam menjadi penonton.

Pencerobohan pada tanah simpanan
perosakan pada flora dan fauna
penzaliman pada hidupan binatang liar
kalian tak akan bisa lari ke gunung.

*Dkirimkan ke NST 8 September 2015

Thursday, 30 July 2015

Nilai Sebuah Puisi* (Puisi)(Metamorposis) (HE)(Terbit)

Siapa akan bertanya harga sebuah puisi
memang tak ada yang ingin memajaknya
tak laku di pasaran atau tamu hujung minggu
sebuah puisi hanya sebuah coretan dan reaksi.

Kau tak perlu menyesal orang pun tak ribut
menulis tanpa berharap ada yang menoleh
kalau yang kau tulis ini seperti anak panah
maka kau siap sedia menerima amarah badai.

Saudaraku, tulislah di rimba mana kau berada
di pulau samudera lautan teduh yang terasing
purnama di gunungmu ketika kau bertafakur
di kota sesak dan bising dari malam ke siang.

Kau cari simpati mereka telah menutup pintu
gema suaramu melantun mencari dinding
kata-katamu masih dari sukma seorang penyair
damailah kerana samawi tetap mendengarkanmu.

*Tersiar Di Harian Express 9 Ogos 2015.

Ke mana Perginya Deru Angin*(HE)(Terbit)

Ke mana larinya deru angin sejak semalam
kau mendengar tadi dari laut ke pesisir pantai
tenang sebentar lalu terdengar lewat di gunung
kini menghilang di rimba raya hening dan sunyi.

Suaramu telah terucap pada malam gerhana
tak ada yang bertanya kalau kau berdiam diri
tapi kekuatan ingin menyatakan pada dunia
kau telah tertawan sukmamu masih merdeka.

Kau melihat ada perubahan langit dan bumi
tapi Rawana masih berusaha mengoda Sita
tiap pejuang berusaha mengalahkan musuh
tanpa mengira malam panjang dan berliku.

Waktu seperti butiran pasir jatuh ke dalam laut
dan kau tak pernah mengalah walaupun sekali
kerana langkahmu utuh menuju ke garis penamat
akhirnya kau ingin menjolok purnama di langit.

*Tersiar di Daily Express 23 August 2015