Musim banjir
dingin turun
menyerap ke hujung kaki
dan bergenang di kalbumu
terkurung di dalam rumah
malam panjang
siang menunggu
air surut.
Belum ada tanda-tanda
hujan berhenti
tiada khabar jiran sebelah
di pojokan ada
anak kucing baru lahir
sejak pagi
anak-anak telah
berbaju seragam
sekejap-sekejap menjenguk
jendela.
Nadi air berdenyut cepat
pohon jambu tenggelam separuh
matamu memandang arah ke dapur
musim demam dan selesma
gelisahmu
terbayang pada anak mata.
Nilai
5 Januari 2017
*Disiarkan oleh akhbar Harian Ekspress 22 January 2017
This collection of poetry is the work of Sabahuddin Senin. All the poems are copyright of the poet. Any publication must get permission from the poet. Most of the poems are written in the Malay language. Sabahuddin Senin is a writer from East Malaysia, Sabah.He studied at the Universiti Sains Malaysia, Penang, NIDA, University New South Wales and the Australian National University, Canberra. He spends most of his time in Malaysia, Australia and Solomon Islands. 13th April, 2011
Wednesday, 4 January 2017
Bom Mencederakan Anak-Anak Syria (Syria)*
Dari runtuhan bangunan kota
kabus debu berlinggar dalam udara
sebentar tadi bom jatuh tepat
suasana panik dan cemas
memandang langit
ke mana lagi sasarannya?
Ada suara terperangkap
di situ berkumpul
anak, ibu dan orang tua
yang terkepung
telah berapa kali
bom yang meletup
jatuh di bangunan
persembunyianmu.
Dalam sesaat
letupannya kuat dan
memusnahkan apa saja
yang bergerak.
Bom berjatuhan dari
langit siang dan malam
selepas ini siapa yang maut?
Anak-anak Syria
tertindih dari runtuhan
batu-batu bangunan
dadanya sesak menyedut jerebu tebal.
Tiap bom yang gugur
telah membunuh anak-anak
wanita dan warga tua
mereka tak ada kaitan
dengan perang
tapi kalian telah menjadi
mangsa keganasan kanca perang.
Kau terperangkap dalam
kotamu sendiri
perang beberapa penjuru
telah membingungkanmu
kau ingin langit damai
dan setenang lautan teduh.
Nilai
Januari 2017
kabus debu berlinggar dalam udara
sebentar tadi bom jatuh tepat
suasana panik dan cemas
memandang langit
ke mana lagi sasarannya?
Ada suara terperangkap
di situ berkumpul
anak, ibu dan orang tua
yang terkepung
telah berapa kali
bom yang meletup
jatuh di bangunan
persembunyianmu.
Dalam sesaat
letupannya kuat dan
memusnahkan apa saja
yang bergerak.
Bom berjatuhan dari
langit siang dan malam
selepas ini siapa yang maut?
Anak-anak Syria
tertindih dari runtuhan
batu-batu bangunan
dadanya sesak menyedut jerebu tebal.
Tiap bom yang gugur
telah membunuh anak-anak
wanita dan warga tua
mereka tak ada kaitan
dengan perang
tapi kalian telah menjadi
mangsa keganasan kanca perang.
Kau terperangkap dalam
kotamu sendiri
perang beberapa penjuru
telah membingungkanmu
kau ingin langit damai
dan setenang lautan teduh.
Nilai
Januari 2017
Halaman Rohingya (Rohingya)*
Di lantai bumi
puing-puing rumah hanggus
barah apinya masih tak padam
bau mayat hitam terbakar
dulu perkampungan damai
riuh anak-anak Rohingya
bermain di halaman
langitmu tenang dan jernih
bumimu lembah subur.
Suatu siang
kamu melihat polis-polis tentera
berarak memasuki halamanmu
bukan datang membela
tapi membiarkan penceroboh
dan penjahat memusnahkan
harapan dan impianmu.
Tirani dan kezaliman
seteru kejahatan
telah mengusirmu
dan ingin menghapus
jejak-jeajak sejarahmu
di bumi Arakan.
Kata dan tindakan
telah diputar belit
anjing jalanan pun tak dapat
kau bohongi
kerana kamu memang
seorang penzalim
menyakiti Rohingya.
Nilai
Januari 2017
puing-puing rumah hanggus
barah apinya masih tak padam
bau mayat hitam terbakar
dulu perkampungan damai
riuh anak-anak Rohingya
bermain di halaman
langitmu tenang dan jernih
bumimu lembah subur.
Suatu siang
kamu melihat polis-polis tentera
berarak memasuki halamanmu
bukan datang membela
tapi membiarkan penceroboh
dan penjahat memusnahkan
harapan dan impianmu.
Tirani dan kezaliman
seteru kejahatan
telah mengusirmu
dan ingin menghapus
jejak-jeajak sejarahmu
di bumi Arakan.
Kata dan tindakan
telah diputar belit
anjing jalanan pun tak dapat
kau bohongi
kerana kamu memang
seorang penzalim
menyakiti Rohingya.
Nilai
Januari 2017
Tuesday, 3 January 2017
Tenda-Tenda Pelarian dekat Sempadan (Syria)*
Hujan telah berhenti
malam masih mendaki
ada dataran dilimpahi air
kau sendiri mengumpul
huruf-huruf yang bertaburan
kedamaian telah sirna
ada suara mengigau
dalam tenda-tenda pelarian.
Ia bermula dari satu orang
lalu semua di dalam tenda
bercakap-cakap dalam tidur
dunianya sendiri
gema suara itu makin besar
seperti ribut datang dengan kekuatan
kemudian senyap dan sepi.
Tiap malam ribut di dalam tenda
walau mereka sebenarnya tidur
kejadian ini terjadi hanya pada malam
ketika siang tiba semua
tak pernah ingat kejadian
semalam.
Dataran tenda pelarian ini
masih di situ
seperti penjara tanpa pagar berduri
penghuninya bebas
tanpa penjaga
dan das tembakan
Nilai
3 Januari 2017
malam masih mendaki
ada dataran dilimpahi air
kau sendiri mengumpul
huruf-huruf yang bertaburan
kedamaian telah sirna
ada suara mengigau
dalam tenda-tenda pelarian.
Ia bermula dari satu orang
lalu semua di dalam tenda
bercakap-cakap dalam tidur
dunianya sendiri
gema suara itu makin besar
seperti ribut datang dengan kekuatan
kemudian senyap dan sepi.
Tiap malam ribut di dalam tenda
walau mereka sebenarnya tidur
kejadian ini terjadi hanya pada malam
ketika siang tiba semua
tak pernah ingat kejadian
semalam.
Dataran tenda pelarian ini
masih di situ
seperti penjara tanpa pagar berduri
penghuninya bebas
tanpa penjaga
dan das tembakan
Nilai
3 Januari 2017
Datangnya Langit Biru (Kumpulan Puisi Indah)*
Langit masih gelap
hujan turun di perbukitan
kepala air datang membawa lumpur
dataran dan halamanmu
tenggelam berhari-hari
Sedikit demi sedikit
anak tangga digenangi air
Kembang api di langit
menyambut Tahun Baru
kau tak sangka wajah hari
berubah
pantai timur dilanda banjir
udara dingin meresap
sampai ke tulang.
Sekolah-sekolah ditutup
anak-anak mengelamun
di anjung
suara ibu resah
air masih tak berubah
naik dalam diam.
Januari tiba
terkurung dalam rumahmu
esok, pasti kekuatan air
menurun
dan langit biru
sungai-sungaimu kembali
pada aras
kau dibenarkan
pulang.
Nilai
3 Januari 2017
hujan turun di perbukitan
kepala air datang membawa lumpur
dataran dan halamanmu
tenggelam berhari-hari
Sedikit demi sedikit
anak tangga digenangi air
Kembang api di langit
menyambut Tahun Baru
kau tak sangka wajah hari
berubah
pantai timur dilanda banjir
udara dingin meresap
sampai ke tulang.
Sekolah-sekolah ditutup
anak-anak mengelamun
di anjung
suara ibu resah
air masih tak berubah
naik dalam diam.
Januari tiba
terkurung dalam rumahmu
esok, pasti kekuatan air
menurun
dan langit biru
sungai-sungaimu kembali
pada aras
kau dibenarkan
pulang.
Nilai
3 Januari 2017
Monday, 2 January 2017
Syria, Menunggu Musim Bunga (Syria)*
Sehari dalam hidupmu
yang terbunuh dan dibunuh
perang masih belum usai
tiap penjuru ingin
meraih selangkah
tak ada batas waktu
semua sedang berjalan.
Kau yang kandas
dan terjerat
bingung dalam
lingkaran
hujungnya tak
kau temui.
Masih mengharap
langitmu tenang
dan bumimu damai
malam-malam keliru
kau lumpuh
dalam kisaran waktu.
Kau dalam gelap
seperti menghitung
anak bintang
kota samar-samar
siang kehilangan jejak
kau, pengungsi
yang terkurung dalam
jerebu perang.
Syria
menunggu datang
musim bunga
sekalipun kotamu
hancur dan musnah.
Nilai
2 Januari 2017
yang terbunuh dan dibunuh
perang masih belum usai
tiap penjuru ingin
meraih selangkah
tak ada batas waktu
semua sedang berjalan.
Kau yang kandas
dan terjerat
bingung dalam
lingkaran
hujungnya tak
kau temui.
Masih mengharap
langitmu tenang
dan bumimu damai
malam-malam keliru
kau lumpuh
dalam kisaran waktu.
Kau dalam gelap
seperti menghitung
anak bintang
kota samar-samar
siang kehilangan jejak
kau, pengungsi
yang terkurung dalam
jerebu perang.
Syria
menunggu datang
musim bunga
sekalipun kotamu
hancur dan musnah.
Nilai
2 Januari 2017
Sunday, 1 January 2017
Rohingya Anak Jati Arakan (Rohingya)*
Ketika kamu ditanya
tentang Rohingya
jawabmu liar ke mana-mana
tak berpancang bumi
Rohingya anak jati
Arakan
fitnah kau lontarkan
seperti bola-bola api
ingin membakar
dan melenyapkan
langit dan bumi
Rohingya.
Kau makin buas
sepak terjangmu
dan amarahmu
telah sampai ke puncak
jahanam.
Tenteramu turun bukan
sebagai penyelamat
tapi, sebagai penindas
pemburu zalim
di lapangan terbuka.
Kau tak peduli
teguran dan peringatan
matamu api dendam
memburu seperti hygena
Rohingya, tanah leluhur.
Di hujung senjatamu
darah Rohingya menitis
sampai di sempadan
malam panjang Rohingya
harus berakhir.
Berhenti bertindak algojo
Rohingya anak Jati Arakan
dalam kalbunya damai
Myanmar, kau bukan
sebuah pulau yang terasing.
Nilai
2 Januari 2017
tentang Rohingya
jawabmu liar ke mana-mana
tak berpancang bumi
Rohingya anak jati
Arakan
fitnah kau lontarkan
seperti bola-bola api
ingin membakar
dan melenyapkan
langit dan bumi
Rohingya.
Kau makin buas
sepak terjangmu
dan amarahmu
telah sampai ke puncak
jahanam.
Tenteramu turun bukan
sebagai penyelamat
tapi, sebagai penindas
pemburu zalim
di lapangan terbuka.
Kau tak peduli
teguran dan peringatan
matamu api dendam
memburu seperti hygena
Rohingya, tanah leluhur.
Di hujung senjatamu
darah Rohingya menitis
sampai di sempadan
malam panjang Rohingya
harus berakhir.
Berhenti bertindak algojo
Rohingya anak Jati Arakan
dalam kalbunya damai
Myanmar, kau bukan
sebuah pulau yang terasing.
Nilai
2 Januari 2017
Subscribe to:
Posts (Atom)