Monday, 15 February 2016

Menolak Kekerasan*(ISIS)

Kekerasan hanya membuka pintu kekacauan dan huru-hara
mengalihkan langit cerah pada mendung yang panjang
kemelut politik telah menjulang dalam badai jerebu
jalan pulang  mengabur dan tak pasti.

Dalam kemabukan maka meletus kanca perang
korban berjatuhan dan kedamaian makin gelap
suara-suara seperti berkata, cukup, cukup semua ini
kita sekarang di tepi curang yang dalam.

Pembuat api berselindung dalam kegelapan malam
mereka memulai lalu dalam senyap-senyap hilang
sedang api mulai menjalar dan membakar kesejahteraan
keamanan sebuah negeri lalu melangkah sempadan.

Ketika tak ada ketenangan dalam keluarga
mimpi-mimpimu gerun dan penuh dengan raksasa
mengintai dari penjuru mencari sasaran
sebagai algojo upahan siang malammu makin sibuk.

Kekerasan tak akan pernah bertahan lama
kau hanya terpedaya pada suara yang meniru
kebohongan yang mengabui kau melihat kebenaran
yang menutup pintu-pintumu mendekati samawi.


Laungkan Anti Terorisme*(ISIS)

Tiada masa depan pada kekerasan
Budaya Tradisimu telah menentang kezaliman
membelenggu fitrat manusia berbuat baik
Terorisme jelas kejahatan dan penghasut.

Mereka tak mempedulikan kesejahteraan ummah
membuat hura-hara dan pertumpahan darah
ketika perang terjadi mereka bermaharajalela
pembunuhan massa kembali ke zaman kegelapan.

Kita tak akan kompromi membawahkan martabat manusia
HAM dan memecah-belah rakyat jelata di negara sendiri
mereka ingin mencipta malam panjang kegelapan tebal
melemparkan grenade dan melarikan diri tanpa jejak.

Mereka tiada lain dibualkan tentang kehancuran
mimpi-mimpi yang tak akan berputik dan maut
lihat apa yang mereka lakukan di Timur Tengah
kerosakan, kemusnahan dan pelakuan buruk terhadap wanita.

Mari kita berganding membenteras kekerasan apa pun
jangan biarkan mereka menetas dan bersarang di tanah leluhur
biar jelas laungkan Anti Terrorisme pada semua telinga
yang baik sampai ke samawi, kejahatan dan derhaka dimurkai.










Ma Terima Kasih Aku Anti Terorisme*(ISIS)

Ma mengajarku berkasih sayang sejak aku masih kecil
suaranya lembut ketika menegur kesalahanku
tak pernah ia membentak atau memakai bahasa biadap
apa lagi menempeleng dan memukul sampai lebam.

Ma selalu mendengar keluh-kisahku dengan sabar
ia mengingatkan aku berulang kali tidak berbohong
tidak memakai suara tinggi dan kasar pada orang tua
dan ma tak pernah mengurung aku dalam kamar gelap.

Ma datang memberi salam dan mengusap kepala
mencium pipi dan bertanya kalau aku belum makan
setelah makan kami tolong-menolong dalam kebaikan
aku terbiasa dengan kebersihan dan bahasa yang sopan.

Ma mengingatkan aku mengerjakan solat
ia mengajar supaya aku tak malas berdoa
bangun di tengah malam mengerjakan Tahajud
dan menangis seperti bayi ketika bersujud.

Ma  telah membesarkan aku dengan lemah lembut
dan tak jemu menghulur tangan berbuat kebaikan
kasih sayang menundukkan keangkuhan dan kezaliman
kedamaian pintu kemenangan mengalahkan kekerasan.

Ma terima kasih, kau menasihatkan aku supaya hormat
hak-hak orang lain dan mencintai kehidupan berbangsa
aku tak akan bertindak bertentangan dengan kata terucap
kekerasan tak akan menang aku Anti Terorisme.


Gigi Harimau Malaya (Cemar)*

Kamu sudah berani ketika harimau itu menjadi bangkai
ngaumnya tak kedengaran degup nafasnya telah berhenti
maut turun bersama malam menerbak haiwan terlarang
kematiannya bukan tertembak peluru pemburu di rimbamu.

Ketika hidup Harimau Malaya sangat ditakuti apalagi
menyentuh bulu seperti dilakukan orang yang terserempak
di tengah jalan raya pada suatu malam yang getir itu
kecelakaan telah menimpa hewan ini dan mati di situ.

Kereta berhenti satu persatu membuat trafik dan keributan
malam mulai berkabung dengan berat hati merelakan
Harimau Malaya berpulang dan rimba raya menerima
berita sayat itu dengan duka cita amat .

Dalam  jiwa masyghul tak menyangka hewan bunting ini
telah menarik ramai orang datang berkerumun seperti
rasa bersalah walaupun ia kemalangan jalan raya
tapi, orang tergamak, menukul dan mencungkil gigi harimau.

*Dikirimkan pada HE 17 Februari 2016

Thursday, 11 February 2016

Jangan Biarkan Rimbamu (Cemar)*

Kalau kau tanya apa yang menyiksa peribumi
bimbang yang datang ke dalam igau atau mimpi
dalam senyap ketika sedar kau telah kehilangan
ternyata yang lain belum terasa musibah ini.

Justru itu sebelum taufan datang membawa gelombang
dan resah bumi sampai ke puncak lalu mengirim gempa
ketika terbangun kamu tak terdaya berita itu bukan mimpi
rimbamu sunyi, senyap, kosong sampai jauh di pedalaman.

Kamu harus mengenal tanah leluhurmu dari jantung
sampai ke urat serambi yang halus-halus dan ke akar tunjang
kalau bukan kamu siapa lagi, menunggu sampai isi perut
bumimu terburai dan bangkai busuk yang hanyut di laut.

Di abad 21 ini kita harus menantang mata pemburu liar
dan menghalang mereka bertenda di pantaimu
menjadikan bumimu mengayau dan menghabisi isi rimbamu
kesedaran itu, harga diri dan melindungi hak generasi esok.

Kamu tak akan biarkan hewan dan flora dan faunamu pupus
di depan mata saksi di siang hari dan malam yang rimas
tindakanmu hari ini akan diingat anak-anak bangsa
kamu pernah ikut berjuang melindungi bumi, laut dan langitmu

*Dikirimkan pada HE 17 Februari 2016

Ikan Paus Terdampar (cemar)*

Langit mendung air laut tenang di kuala
angin Laut China Selatan seperti meronda
orang kota metropolitan masih terus berurusan
pantai tanah seberang panik didatangi tamu.

Ikan Paus terdampar di laut tohor
gundah nelayan menyelamat atau rezeki
orang berkerumun kehilang akal
tak pernah melihat ikan sebesar ini.

Beberapa orang telah  terjun ke dalam laut
sebuah bot nelayan sama besar dengan Paus
satu hati tamu jarang-jarang perlu diselamatkan
prihatin peribumi tinggi sebelum ikan jadi bangkai.

Tali bot telah diikat pada ekor Paus sesekali merontah
sukarelawan cuba menolak tamunya ke laut dalam
masih belum bergerak seperti sampan penuh muatan
tali mengencang menarik sekuat tenaga.

Sedikit gerak angin pantai mendorong sukarelawan
bot berhabis-habisan sampai kepul asap hitam tebal
orang berdiri di pantai mulai bersorak kemenangan
Ikan Paus tergerak berenang pulang ke laut dalam.








Wednesday, 10 February 2016

Selamatkan Rimba Rayamu (cemar)*(HE)(Terbit)

Angin laut telah mendengar berita itu
lembah daratan tanah leluhur jiwanya sakit
rimba raya bertafakur terasa kehilangan itu
sungai-sungai seperti otot-otot yang kejang.

Langitmu diam dalam menanggung duka lara
nadi gunungmu telah memberi isyarat bumi
di angkasa burung terbang dalam berkabung
bukan rahsia di pesisir pantai telah maklum.

Bumi leluhurmu anugerah keagungan-Mu
kekayaan rimba rayamu warisan turun-temurun
dari gunungmu mengalir air dingin ke muara
mata kalbu bersyukur menerima kebenaran ini.

Tuhan Rahman, engkau beri semua ini
dengan kasih-sayang tangan-Mu sendiri
pemukim rimba tanah gembur peribumi
atas kesedaran jangan sampai terlambat.

Ya Rabbi, bagaimana kita semua bisa terlupa
tangan-tangan kasar dalam kegelapan malam
mendatangimu tanpa mempedulikan warisanmu
mata mereka gelap dalam jiwanya ada serigala.

Jangan biarkan mereka jahanamkan bumimu
menzalimi hewan-hewanmu yang terlindung
selama ini kita terlalu lembut dan tak peduli
waktunya bangsa peribumi bangkit bersatu.


*Tersiar Di Harian Ekspress (Daily Express) 28 Februari 2016