Saudaraku, aku masih dalam kamar ini
cuba menulis bait-stanza puisi terakhir
panas malam menitiskan keringat
gema suara terpendam dalam sukma.
Aku manja pada kata-kata
membiarkan mereka terbang bebas
samasekali tak membatasi gerak
di ruang langit yang terbatas ini.
Ia seperti kucing yang lincah
adakalanya cakar dan gigitan manja
melukai sedikit pada kulit tangan ini
walaupun ia tak ingin berlaku zalim.
Sudah lama aku tak mendengarmu,
malam merangkak di atas tubuh ini
dan membaling butir-butir bintang
aku merasa seperti ditelan purnama.
This collection of poetry is the work of Sabahuddin Senin. All the poems are copyright of the poet. Any publication must get permission from the poet. Most of the poems are written in the Malay language. Sabahuddin Senin is a writer from East Malaysia, Sabah.He studied at the Universiti Sains Malaysia, Penang, NIDA, University New South Wales and the Australian National University, Canberra. He spends most of his time in Malaysia, Australia and Solomon Islands. 13th April, 2011
Sunday, 30 August 2015
Lepa-lepa Di Laut Merdeka (Kemerdekaan)*(Jendela, DBP CWG Sabah)
Lepa-lepaku telah berhias dan berwarna-warni
sukma jurangan membaca laut langit senyum
seperti hamparan sutera air ombak di tepian
anak kapal menurunkan sauh melambai daratan.
Di pelabuhan malam bunga api di pusar langit
pidatomu di titian zaman saat komet meletus
perjuanganmu tak akan berhenti di persimpangan
setelah ini kabus terangkat kebenaran tersingkap.
Sudah bertahun Juragan mengharung laut
permainan gelombang tak pernah redah
badai angin bergelut dengan sukmamu
tapi, kau tak akan pernah dikalahkan.
Di laut Merdeka lepa-lepaku berlenggang
dan belayar terus menuju purnama penuh
malam berdaulat ini kita akan melafazkan
sebuah kata besar pada sebuah bangsa Merdeka.
*Dikirimkan ke akhbar Harian Express 11 November 2014
*Dikirimkan ke DBPCS 12 Jan 2016
*Disiarkan oleh Jendela, Bil. 44, Jun, 2016, DBP CS
sukma jurangan membaca laut langit senyum
seperti hamparan sutera air ombak di tepian
anak kapal menurunkan sauh melambai daratan.
Di pelabuhan malam bunga api di pusar langit
pidatomu di titian zaman saat komet meletus
perjuanganmu tak akan berhenti di persimpangan
setelah ini kabus terangkat kebenaran tersingkap.
Sudah bertahun Juragan mengharung laut
permainan gelombang tak pernah redah
badai angin bergelut dengan sukmamu
tapi, kau tak akan pernah dikalahkan.
Di laut Merdeka lepa-lepaku berlenggang
dan belayar terus menuju purnama penuh
malam berdaulat ini kita akan melafazkan
sebuah kata besar pada sebuah bangsa Merdeka.
*Dikirimkan ke akhbar Harian Express 11 November 2014
*Dikirimkan ke DBPCS 12 Jan 2016
*Disiarkan oleh Jendela, Bil. 44, Jun, 2016, DBP CS
Saturday, 29 August 2015
Deklamator Puisi Merdeka* (Kemerdekaan)
Namamu telah dipanggil datang naik ke atas pentas
melangkah dengan dastar segak penampilan tradisi
malam panas khatulstiwa berkumpul para deklamator
bintang-bintang berserakan bulan membawa pesan.
Kaulafazkan bait-bait puisimu gaya seorang pendekar
kata-kata berhamburan seperti lembing dan bujak
penonton telah terangsang dan menunggu asyik
mulut ternganga mata terpaku pada sang deklamator.
Tangan deklamator terangkat ke atas dan mengayakan
suaranya turun naik penekanannya segaja dibesarkan
darahnya bergemuruh dan sukmanya tercabar
lebihkan ayat-ayat retorika demi menghilangkan bosan.
Kegilaan penonton makin hebat dan jiwanya merontah
malam berkeringat mulut penonton bercelaru tak puas
puisi merdeka telah menambat jiwa penonton
ketika meninggalkan pentas penonton masih bertepuk.
*Dikirim kepada Daily Express 26 March 2016
melangkah dengan dastar segak penampilan tradisi
malam panas khatulstiwa berkumpul para deklamator
bintang-bintang berserakan bulan membawa pesan.
Kaulafazkan bait-bait puisimu gaya seorang pendekar
kata-kata berhamburan seperti lembing dan bujak
penonton telah terangsang dan menunggu asyik
mulut ternganga mata terpaku pada sang deklamator.
Tangan deklamator terangkat ke atas dan mengayakan
suaranya turun naik penekanannya segaja dibesarkan
darahnya bergemuruh dan sukmanya tercabar
lebihkan ayat-ayat retorika demi menghilangkan bosan.
Kegilaan penonton makin hebat dan jiwanya merontah
malam berkeringat mulut penonton bercelaru tak puas
puisi merdeka telah menambat jiwa penonton
ketika meninggalkan pentas penonton masih bertepuk.
*Dikirim kepada Daily Express 26 March 2016
Sumpah Dan Perjuangan (Kemerdekaan)* (NST)(Terbit)
Kita berjuang demi kelanjutan hidup terus
tiap bangsa telah merdeka dari malam panjang
tak ingin ketinggalan dari masa silam yang pahit
sebagai ingatan dan ujian satu bangsa merdeka.
Lihatlah pada langit yang memperingatkan
tiap gerak di rimba raya memberi isyarat
dan bumi kau berpijak ini resah dan gundah
semangat perjuangan harus kembali pada tujuan.
Harapan dan mimpi tak akan pernah tercabut
perjuangan ini rahsia bumi dan tiap gerak
peringatan pada sumpah yang terucap dan
dinding sukmamu tak akan tersentuh musuh.
Malam ini mengucapkan ikrar dan setia
langit dan tanah leluhur ini menjadi saksi
sumpah merdeka dan perjuangan akal budi
ketaatan satu rumpun bangsa Malaysia jaya.
*Tersiar Di New Sabah Times 13 Disember 2015
tiap bangsa telah merdeka dari malam panjang
tak ingin ketinggalan dari masa silam yang pahit
sebagai ingatan dan ujian satu bangsa merdeka.
Lihatlah pada langit yang memperingatkan
tiap gerak di rimba raya memberi isyarat
dan bumi kau berpijak ini resah dan gundah
semangat perjuangan harus kembali pada tujuan.
Harapan dan mimpi tak akan pernah tercabut
perjuangan ini rahsia bumi dan tiap gerak
peringatan pada sumpah yang terucap dan
dinding sukmamu tak akan tersentuh musuh.
Malam ini mengucapkan ikrar dan setia
langit dan tanah leluhur ini menjadi saksi
sumpah merdeka dan perjuangan akal budi
ketaatan satu rumpun bangsa Malaysia jaya.
*Tersiar Di New Sabah Times 13 Disember 2015
Berkumpul Anjing Jalanan* (Kemerdekaan)
Malam itu malam yang ribut di sini
ketenangan malam telah terganggu
anjing-anjing berkeliaran berdatangan
di hutan bukit dan jalan-jalan sepi
keluar masuk ke ibu kota dan luar kota
gema ngonggong sahut-menyahut
keriuhan luar biasa di bumi leluhur.
Ketenanganmu kini telah pun tercabul
seperti telah mengundur ke dalam gua
gendang telingamu seakan tertusuk lidi
ini jelas bukan keramaian dan perayaan
tak ada siapa pun sekarang ini berpesta
suasana di sekeliling tegang dan panas
alam hanya memerhatikannya dari jauh.
Perkumpulan anjing-anjing jalanan
telah banyak sejak beberapa hari ini
isyarat melenting ke sana ke mari
tak ada awan mendung di langit pun
tandanya belum ada hujan akan turun.
Laut tenang debu jalanan diterbangi angin
pintu-pintu rumah telah lama ditutup
jalan kosong dan halamanmu santai
apakah ini hanya siren tanda ujian
supaya kau berjaga sepanjang malam.
ketenangan malam telah terganggu
anjing-anjing berkeliaran berdatangan
di hutan bukit dan jalan-jalan sepi
keluar masuk ke ibu kota dan luar kota
gema ngonggong sahut-menyahut
keriuhan luar biasa di bumi leluhur.
Ketenanganmu kini telah pun tercabul
seperti telah mengundur ke dalam gua
gendang telingamu seakan tertusuk lidi
ini jelas bukan keramaian dan perayaan
tak ada siapa pun sekarang ini berpesta
suasana di sekeliling tegang dan panas
alam hanya memerhatikannya dari jauh.
Perkumpulan anjing-anjing jalanan
telah banyak sejak beberapa hari ini
isyarat melenting ke sana ke mari
tak ada awan mendung di langit pun
tandanya belum ada hujan akan turun.
Laut tenang debu jalanan diterbangi angin
pintu-pintu rumah telah lama ditutup
jalan kosong dan halamanmu santai
apakah ini hanya siren tanda ujian
supaya kau berjaga sepanjang malam.
Wednesday, 26 August 2015
Menyambut Kemerdekaan Bangsa (Kemerdekaan) (UB)(Terbit)
Kaukumpulkan selangit kata-kata menjadi doa kemerdekaan
bukan hanya rimbunan kata-kata yang kosong dan berupa-rupa
ia lahir dari kalbu yang sedar dan damai mengalir jernih
kumandangkan rasa syukurmu di menara putih yang tinggi.
Gema suara kemerdekaan biarkan sampai ke samawi
lalu mengetuk pintu-Mu memohon rahmat dan kurnia
jayalah Malaysia, sepanjang zaman negara makmur
tanah peribumi melahirkan pemimpin bangsa yang amanah.
Makmurlah. Malaysia, lembah gunungmu yang permai
rimba raya dan lautmu inspirasi sezaman kedaulatan bangsa
kasih-sayangmu pada gunung dan sungai mengalir
pemuliharaan alam sekitar, kehidupan habitat dan hidupan liar.
Kemerdekaan membawa udara segar dan kedamaian nusa
minda dan sukmamu diperkayakan dengan firasat berfikir
di bawah matari siang kita bekerja dengan tangan sendiri
malam tenang doa-doamu kau lafazkan bersih dari angkuh.
Makmurlah Malaysia, cinta dan jiwa kemerdekaan telah sebati
kau tak akan berhenti dan merasa puas malah melangkah terus
kemerdekaan ini adalah hak bangsa dan lambang kebebasan
semangat kebersamaan, berjiwa besar sebagai bangsa merdeka.
*Tersiar Di Utusan Borneo 6 September 2015
bukan hanya rimbunan kata-kata yang kosong dan berupa-rupa
ia lahir dari kalbu yang sedar dan damai mengalir jernih
kumandangkan rasa syukurmu di menara putih yang tinggi.
Gema suara kemerdekaan biarkan sampai ke samawi
lalu mengetuk pintu-Mu memohon rahmat dan kurnia
jayalah Malaysia, sepanjang zaman negara makmur
tanah peribumi melahirkan pemimpin bangsa yang amanah.
Makmurlah. Malaysia, lembah gunungmu yang permai
rimba raya dan lautmu inspirasi sezaman kedaulatan bangsa
kasih-sayangmu pada gunung dan sungai mengalir
pemuliharaan alam sekitar, kehidupan habitat dan hidupan liar.
Kemerdekaan membawa udara segar dan kedamaian nusa
minda dan sukmamu diperkayakan dengan firasat berfikir
di bawah matari siang kita bekerja dengan tangan sendiri
malam tenang doa-doamu kau lafazkan bersih dari angkuh.
Makmurlah Malaysia, cinta dan jiwa kemerdekaan telah sebati
kau tak akan berhenti dan merasa puas malah melangkah terus
kemerdekaan ini adalah hak bangsa dan lambang kebebasan
semangat kebersamaan, berjiwa besar sebagai bangsa merdeka.
*Tersiar Di Utusan Borneo 6 September 2015
Monday, 24 August 2015
Merdeka Jiwa Merdeka (Kemerdekaan) (UB)(Terbit)
Dalam Jiwa Merdeka ada ingatan kau pada rimba raya
gemuruh lautmu dari cemar dan petualang samudera
kerana terlalai hilang dalam tanganmu di depan matamu
ketika tersentak sedar ia telah pupus di tanah peribumi.
Kemerdekaan ini adalah rahmat turun-temurun
langit saksi, di tanganmu amanat telah diserahkan
kau tak akan sendiri ketika kau diterjah dan didorong
lalu mereka pula menumpahkan dawat ke langitmu.
Ketika kau telah melihat rimba rayamu musnah hanggus
kau tak akan melihat saja tanpa datang sebagai pelindung
ketika kau melihat hidupan liarmu didera dan dizalimi
lakukanlah kebijaksanaan menyedarkan warga peribumi.
Jiwa Merdeka padamu pelindungan tiap sukma
kemenangan ke atas kebohongan yang merugikan
perjuangan membuka pintu-pintu kebenaran yang nyata
memberikan harapan pada tanah peribumi dan warganya.
*Tersiar Di Utusan Borneo 6 September 2015
gemuruh lautmu dari cemar dan petualang samudera
kerana terlalai hilang dalam tanganmu di depan matamu
ketika tersentak sedar ia telah pupus di tanah peribumi.
Kemerdekaan ini adalah rahmat turun-temurun
langit saksi, di tanganmu amanat telah diserahkan
kau tak akan sendiri ketika kau diterjah dan didorong
lalu mereka pula menumpahkan dawat ke langitmu.
Ketika kau telah melihat rimba rayamu musnah hanggus
kau tak akan melihat saja tanpa datang sebagai pelindung
ketika kau melihat hidupan liarmu didera dan dizalimi
lakukanlah kebijaksanaan menyedarkan warga peribumi.
Jiwa Merdeka padamu pelindungan tiap sukma
kemenangan ke atas kebohongan yang merugikan
perjuangan membuka pintu-pintu kebenaran yang nyata
memberikan harapan pada tanah peribumi dan warganya.
*Tersiar Di Utusan Borneo 6 September 2015
Subscribe to:
Posts (Atom)