Kata-katamu telah menyeberangi tanah sempadan
mereka datang bukan bagai kerangga dalam ratusan
menyerbu mangsanya di halaman.
Kata-katamu kait-mengait terbang seperti burung
helang di langitmu.
Ketuk gong bergema di gunung
rimbamu kembali hidup seratus tahun
nafasmu harum seperti di musim semi.
Kata-katamu disulam dalam mimpi purnama
Kaamatan bagai seorang puteri Nabalu
menyambutmu di pintu gerbang.
Kasihmu kata-kata grafiti di dinding sukma
dari Merapok berakhir di gunung Ra Ra
Aku terkasima.
*Tersiar Di Daily Express 10 Mei 2015
*Tersiar Di Utusan Borneo 24 Mei 2015
This collection of poetry is the work of Sabahuddin Senin. All the poems are copyright of the poet. Any publication must get permission from the poet. Most of the poems are written in the Malay language. Sabahuddin Senin is a writer from East Malaysia, Sabah.He studied at the Universiti Sains Malaysia, Penang, NIDA, University New South Wales and the Australian National University, Canberra. He spends most of his time in Malaysia, Australia and Solomon Islands. 13th April, 2011
Wednesday, 29 April 2015
Menjelang Kaamatan*(HE)(UB) (Malaysia)(Terbit)
Di langit lazuardi Kinabalu
alammu turut berhias
seperti lepa-lepa di musim pesta
belayar bebas di laut lepas.
Kau menambur benih kasih
buatmu grafiti seribu tahun
manis madu kata-katamu
tumpah di sukma yang pasrah.
Air terjunmu adalah denyut nadimu
mengalir terus di musim Kaamatan
dingin airmu pelepas dahaga musafir
yang datang membawa purnama.
Palu gong dan tiup seruling bambu
hirup nafasmu udara Pedalaman
melepaskannya di Pulau Lankayan
cintamu terpaut peniup sompoton.
Penari-penarimu telah siap
di pentas tanah peribumi ini
Kaamatan dalam sukmamu
tunjang persaudaraan sekurun.
*Tersiar Daily Express 17 Mei 2015
*Tersiar Di Utusan Borneo 24 Mei 2015
alammu turut berhias
seperti lepa-lepa di musim pesta
belayar bebas di laut lepas.
Kau menambur benih kasih
buatmu grafiti seribu tahun
manis madu kata-katamu
tumpah di sukma yang pasrah.
Air terjunmu adalah denyut nadimu
mengalir terus di musim Kaamatan
dingin airmu pelepas dahaga musafir
yang datang membawa purnama.
Palu gong dan tiup seruling bambu
hirup nafasmu udara Pedalaman
melepaskannya di Pulau Lankayan
cintamu terpaut peniup sompoton.
Penari-penarimu telah siap
di pentas tanah peribumi ini
Kaamatan dalam sukmamu
tunjang persaudaraan sekurun.
*Tersiar Daily Express 17 Mei 2015
*Tersiar Di Utusan Borneo 24 Mei 2015
Kaamatan*(HE)(UB)(Malaysia)(Terbit)
Gema gong di awal bulan
gunungmu Kinabalu seperti
pahlawan yang berdastar
di langit biru Kaamatan.
Gerak kakimu teratur
sayap helangmu melayang
ke laut Pulau Mantanani
pulang ke Simpang Mengayau.
Sumandak peribumi turun
berdandan dan wajahnya
angin lembah Kundasang
sukmanya pelangi selepas hujan.
Rindu melangkar malam
sayang bercambah di bumi
nafasmu hutan Khatulistiwa
bola matamu cahaya purnama.
*Tersiar Di Daily Express 3 Mei 2015
*Tersiar Di Utusan Borneo 24 Mei 2015
gunungmu Kinabalu seperti
pahlawan yang berdastar
di langit biru Kaamatan.
Gerak kakimu teratur
sayap helangmu melayang
ke laut Pulau Mantanani
pulang ke Simpang Mengayau.
Sumandak peribumi turun
berdandan dan wajahnya
angin lembah Kundasang
sukmanya pelangi selepas hujan.
Rindu melangkar malam
sayang bercambah di bumi
nafasmu hutan Khatulistiwa
bola matamu cahaya purnama.
*Tersiar Di Daily Express 3 Mei 2015
*Tersiar Di Utusan Borneo 24 Mei 2015
Tuesday, 21 April 2015
Angin Utara* (Ketuhanan)
Perubahan langit telah mengirim
angin utara membawa hujan semi
jauh di pedalaman sungai bergejolak
tidurmu mengundang mimpi samawi.
Kita telah jauh melangkah
di medan ini pertarungan telah
membongkar benih khianat bercambah
bualnya seperti igau di malam hari.
Penantianmu telah digenapi
kemenangan sukma yang tawajuh
Inayat-Mu telah merubah tanah gembur
taman kembang musim memetik.
Friday, 17 April 2015
Tanjung Lipat* (Lanskap)
Tanjung Lipat
gemuruh laut
mengirim angin pulau
jauh ke gunung
Hujan panas
membasahi wajah kota
musafir
berangkat dengan
kapal terakhir.
Tanjung Lipat
pernah rel kehidupan
kotamu berhenti di sini
platform penantian itu
sepi dan ditinggalkan.
*dikirimkan ke Wadah 28 April 2015
gemuruh laut
mengirim angin pulau
jauh ke gunung
Hujan panas
membasahi wajah kota
musafir
berangkat dengan
kapal terakhir.
Tanjung Lipat
pernah rel kehidupan
kotamu berhenti di sini
platform penantian itu
sepi dan ditinggalkan.
*dikirimkan ke Wadah 28 April 2015
Kutabur Kuntum Kata Ke Lautmu* (Suasana)
Di sini dulu sebuah kampung
ia tumbuh dari lautmu
bila malam tiba
lagenda dan mitos bersayap
keluar dari mulut lautan
ke langitmu
tiap kelip bintang bercerita
dalam mimpimu.
Aku datang kepadamu
kerana keramaian suaramu
terbakar hanggus
lantai kedamaian sukmamu
telah menjadi debu.
Segalanya hening
hanya lagu debur ombak
berulang-ulang ke tanah daratan
puing-puing
seperti tombak-tombak terpacak
di dadamu.
Air telah surut
kini aku dapat melihat luka-luka
jeritan perihmu sampai ke pintu samawi
kau mencari dahan-dahan untuk berpaut
memanggil hujan pada malam durjana
tapi, suaramu tertahan di kerongkong waktu.
Aku tabur kuntum kata
ke laut dalam
foto-foto memori
hanggus terbakar
sejarahmu debu bertebaran.
ia tumbuh dari lautmu
bila malam tiba
lagenda dan mitos bersayap
keluar dari mulut lautan
ke langitmu
tiap kelip bintang bercerita
dalam mimpimu.
Aku datang kepadamu
kerana keramaian suaramu
terbakar hanggus
lantai kedamaian sukmamu
telah menjadi debu.
Segalanya hening
hanya lagu debur ombak
berulang-ulang ke tanah daratan
puing-puing
seperti tombak-tombak terpacak
di dadamu.
Air telah surut
kini aku dapat melihat luka-luka
jeritan perihmu sampai ke pintu samawi
kau mencari dahan-dahan untuk berpaut
memanggil hujan pada malam durjana
tapi, suaramu tertahan di kerongkong waktu.
Aku tabur kuntum kata
ke laut dalam
foto-foto memori
hanggus terbakar
sejarahmu debu bertebaran.
Wednesday, 8 April 2015
Bukit Tinggi* (UB)(Landskap)(Terbit)
Udara dingin menyelenap
ke dalam maghrib
musafir baru menghela nafas
memasuki Bukit Tinggi
penjaja sibuk menawar harga
malam itu keramaian bintang
pudar ditelan jerebu
dari hutan terbakar.
Kau menjamu
durian dan pulut
sejadah untuk solat
pertemuan dua sungai
mengalir
menyatukan dua rohani.
gunungmu tetap bertahan
perbualan mereka masih
api yang membakar
tak akan berubah
kilau purnama di langitmu
kebenaran lafaz katamu
menggulangi kalimah.
Kedatanganmu di Bukit Tinggi
mempertemukan kasih
langit dan bumi
selamanya tak akan terpisah.
*Tersiar Di Utusan Borneo 26 April 2015
ke dalam maghrib
musafir baru menghela nafas
memasuki Bukit Tinggi
penjaja sibuk menawar harga
malam itu keramaian bintang
pudar ditelan jerebu
dari hutan terbakar.
Kau menjamu
durian dan pulut
sejadah untuk solat
pertemuan dua sungai
mengalir
menyatukan dua rohani.
gunungmu tetap bertahan
perbualan mereka masih
api yang membakar
tak akan berubah
kilau purnama di langitmu
kebenaran lafaz katamu
menggulangi kalimah.
Kedatanganmu di Bukit Tinggi
mempertemukan kasih
langit dan bumi
selamanya tak akan terpisah.
*Tersiar Di Utusan Borneo 26 April 2015
Subscribe to:
Posts (Atom)