Tuesday, 13 January 2015

Air Keruh* (UB) (Cemar)(Terbit)

Air melunsur perlahan
lalu jadi kekuatan
dataranmu terhakis
doamu ikut mengalir.

Sukmamu seperti
pohon digenangi air
malam bagai
kehilangan
siang
suaramu diuliti
lumpur.

Kau mencari dahan
dan bukit tinggi
tapi, gelombang masih
bergolek ke arahmu.


*Tersiar Di Utusan Borneo 18 Januari 2015



Wednesday, 3 December 2014

Air Mengalir Terus* (UB) (Cemar)(Terbit)

Air mengalir terus
dalam diam
menemukan kekasih
kau rindukan.

Sebuah pemergian
bumimu menyerap
peninggalan manis
perdu kembang melati.

Kau adalah saksi
tentang datangnya
malam gerhana
kerana malam itu
tak akan tertangguh.

Air mengalir terus
sukmamu arah tuju
benih kebaikan itu
tumbuh tanpa mengira
musim.


*Tersiar Di Utusan Borneo 18 Januari 2015


Monday, 24 November 2014

Kasih-Sayang Bumi* (UB) (Cemar)(Terbit)

Hujan telah berhenti
bumi meresap
dengan kasih
sejak turun-temurun.

Hari ini bencana telah datang
dalam satu malam wajahmu berubah
Kau, datang
bukan membawa kedamaian
sukmamu penuh api dendam

Di malam petualang
kau mengaum
tanpa sempadan.
Maut berjatuhan
kegilaaanmu telah
merampas kedamaian.

Dari mulutmu
memuntahkan api belerang
tindakanmu
sebenarnya kekalahan
kau telah menuntut
yang bukan hakmu.

Kasih-sayang bumi
telah teruji lagi
kurun-berkurun
ia mengandung
kebiadapan dan
menyerap kebohonganmu.

Bumi, kau tetap sabar
kerana di dalam diam-diam
kebenaran itu tumbuh
dari bumimu
dan samawi tak akan
meninggalkanmu sendiri.


*Tersiar Di Utusan Borneo 18 Januari 2015


Hujan Menjelang Maghrib*(AMNS)

Semalam petir dan guntur
seperti perang telah mula
meranapkan kemanusian
menjadi pasir.

Kegilaan itu
penyesalan
tak ada jalan pulang.

Malam gelap
ia menabur
benih-benih durjana
memujukmu
di persimpangan.

Inayah-Nya gemilang
dan tak akan terkikis.

Keangkuhan
tak akan membuahkan
harapan
hanya kemusnahan
dan penzaliman berkurun.

Kau
mendambakan
kebenaran.
Dan ia
tak akan terubah
satu iota pun
kekayaan firasat dan
tazkirah selepas subuh.



Sunday, 23 November 2014

Sajak Tengah Malam Musim Banjir* (UB)(Terbit)

Malam bagai meniti 
di atas jembatan
mata masih terumpan 
sukma masih bertaut 
pada dahan malam.

Salam pada air
kau pembawa rahmat
tiap kata bersalut doa
tebing harapanmu
pada samawi.

Dingin di lembah
tanahmu digenangi air
ada suara masih 
menitip doa
malam yang sarat.

Kau mendambakan
langit cerah
atau sedikit perubahan
air mengalir
ke laut.

rimba yang basah
Malam ini sukmaku
gelisah
jalan ke kota 
telah tertutup
tapi tangan ini
menggenggam tanganmu
sekurangnya kau rasa 
hangatnya.

*Tersiar Di Utusan Borneo 18 Januari 2015






Friday, 21 November 2014

Negeri Lepa-Lepa* (UB) (Lanskap)(Terbit)

Lepa-lepa ke tengah lautan
seribu harapan terbawa
angin menjadi hujan.

Pulau-pulau adalah sukma
bunga karang laut berkaca
gerak langit
gelombang dan angin.

Kau menganyam rembulan
budayamu terdampar di lautan
adatmu pada perubahan angin
bahasamu tutur hujan.

Lepa-lepa di tengah lautan
pernah kau nyanyikan
bait-bait puisi.

Kekasihmu membalas
gema rindunya ke cakerawala
disematkan  pada bintang
dan memulangkannya
pada angin malam.


*Tersiar Di Utusan Borneo 8 March 2015







Thursday, 20 November 2014

Pemuda Rohingya Di Kota Lunsur (Boat People)

Di Kota Lunsur ini, siang rebah satu demi satu
ke atas pundak dan malamnya ia seakan
terlempar ke cakerawala tanpa kuasa untuk pulang
kembali.

Sukmanya merontah-rontah mau ke mana
di kota lunsur ia bagaikan terpenjara dan
kegelisahannya telah mencapai puncak
Di tengah-tengah kesibukan kota
ia lupa dirinya seorang Rohingya,
Pendatang Malam.

Ketika ekor gelombang menghempas
perut kapal
ditelan gelap malam dan deru angin lautan.
Ia tak menyangka ada pantai dan tanah darat
di pinggir mata.

Ia adalah pemuda terakhir desa Arakan
tiap malam igaunya mencari ibu dan adek perempuan
ketika mereka berpisah suatu malam
bulan gerhana di Arakan
mereka menjadi binatang buruan
di tanah peribumi sampai di tanah sempadan.
Sejak itu ia merindukan pada purnama
yang berselindung di langit Myanmar.

Di Kota Lunsur
ia mengharapkan pertemuan itu
meskipun bulan malap di perbatasan
suara ibu terbawa angin makin jauh
dan adek perempuan jejaknya tak ditemukan.