Langitmu indah menjelang senja
gunungmu agung dalam takaran waktu
nafasmu bau hujan hutan khatulistiwa
keindahan kata dan kalimat sempurna.
Duniamu kini kamar kecil di penjuru
matamu memandang bumbung langit
memanggil pulang Karuhai, anak Kedayan
seribu malam penantian kau tetap sabar.
Di ranjang ini kau berbual sendiri
menunggu salam terucap tamu jauh
Karuhai, pulanglah biar dalam mimpi
kau tak pernah derhaka, janjimu matari.
Tanah Peribumi melambaimu pulang
degup jantung seperti kapal belayar sarat
suaramu tak terdengar hanya gerak mulut
mencium dahi memegang telapak tangan.
This collection of poetry is the work of Sabahuddin Senin. All the poems are copyright of the poet. Any publication must get permission from the poet. Most of the poems are written in the Malay language. Sabahuddin Senin is a writer from East Malaysia, Sabah.He studied at the Universiti Sains Malaysia, Penang, NIDA, University New South Wales and the Australian National University, Canberra. He spends most of his time in Malaysia, Australia and Solomon Islands. 13th April, 2011
Thursday, 30 October 2014
Belayarlah Lepa-lepa* (UB)(Suasana)(Terbit)
Belayarlah lepa-lepa
aku ingin
lautmu tenang
melihat purnama
muncul di horizon.
Belayarlah lepa-lepa
cinta bercambah
dalam sukmamu
kau lepaskan
di pengkalan.
Belayarlah lepa-lepa
di situ pernah
seorang hawa
kehilangan samuderanya.
Belayarlah lepa-lepa
memandang langit malam
seperti mengundang
mimpi dan impian.
Belayarlah lepa-lepa
samawi berbisik
ke daun telinga
kerinduan musafir
melihat tanah leluhur.
.
Belayarlah lepa-lepa
nahkodamu
tak menghirau ribut taufan
kerana di pusar lautan
ada sebuah pulau
di situ
pengkalanmu terakhir.
*Tersiar Di Utusan Borneo 8 March 2015
Sungai Padas Mengalir Jauh* (Cemar)
Di tanah leluhur ini dari setitik
menuruni lembah lalu menjadi
sebatang sungai di bawah langit
Khatulistiwa.
Gejolak airmu tenang membawa
cerita-cerita rimba mengalir jauh
ke dalam sukma tanah peribumi.
Rimba raya
ingin kurangkulmu
apalah erti sebatang sungai
tanpa lembah jati.
Di tebing sungai ini
aku berdiri melapazkan doa
kebimbangan ini
melihat pohon yang tumbang
sungai tanah lumpur
hutan pembalakan haram.
Sungai Padas
biar lingkaranmu tak putus
sampai jauh ke laut
dan irama bahasa airmu
penyejuk mata dan sukma.
*Dikirimkan ke Daily Express 25 April 2015
menuruni lembah lalu menjadi
sebatang sungai di bawah langit
Khatulistiwa.
Gejolak airmu tenang membawa
cerita-cerita rimba mengalir jauh
ke dalam sukma tanah peribumi.
Rimba raya
ingin kurangkulmu
apalah erti sebatang sungai
tanpa lembah jati.
Di tebing sungai ini
aku berdiri melapazkan doa
kebimbangan ini
melihat pohon yang tumbang
sungai tanah lumpur
hutan pembalakan haram.
Sungai Padas
biar lingkaranmu tak putus
sampai jauh ke laut
dan irama bahasa airmu
penyejuk mata dan sukma.
*Dikirimkan ke Daily Express 25 April 2015
Membakut, Desa-desamu Tetap Berdiri Kukuh* (UB)(Suasana)(Terbit)
Hari telah menjelang malam
Riak-riak air di desamu masih
Perlahan mengalir tak bertembuk
Anak tanggamu masih tenggelam.
Pohon pisang di halaman rumah
Menyerah pada panggilan air
Langit kelabu menggurung mimpi
Matamu mencari tanah lahan tinggi.
Suaramu hanyut dan tersedut ke laut
Makin menjauh dari tanah daratan
Paru-parumu sarat digenangi air
Tapi, demi hidup kau tak ingin dikalahkan.
Kau memandang langit menanyakan
Bila matari akan muncul di bumbung samawi
Kami adalah burung-burung bertebaran
Yang kebasahan menunggu kepaknya kering.
Di desa-desa, kau bertahan mengharung banjir
Sukmamu telah kebal dan akarnya
Telah menjunam ke tanah peribumi
Dan doamu telah berpaut pada dahan samawi.
*Tersiar Di Utusan Borneo November 2014
Riak-riak air di desamu masih
Perlahan mengalir tak bertembuk
Anak tanggamu masih tenggelam.
Pohon pisang di halaman rumah
Menyerah pada panggilan air
Langit kelabu menggurung mimpi
Matamu mencari tanah lahan tinggi.
Suaramu hanyut dan tersedut ke laut
Makin menjauh dari tanah daratan
Paru-parumu sarat digenangi air
Tapi, demi hidup kau tak ingin dikalahkan.
Kau memandang langit menanyakan
Bila matari akan muncul di bumbung samawi
Kami adalah burung-burung bertebaran
Yang kebasahan menunggu kepaknya kering.
Di desa-desa, kau bertahan mengharung banjir
Sukmamu telah kebal dan akarnya
Telah menjunam ke tanah peribumi
Dan doamu telah berpaut pada dahan samawi.
*Tersiar Di Utusan Borneo November 2014
Thursday, 16 October 2014
Jalur Perjalanan Kembara Bahasa* (Suasana)
Tenom,
Keningau dan Beaufort,
kutinggalkanmu
dengan rimbunan kata-kata
yang bergayutan
seperti bintang-bintang
inspirasi di langitmu.
Kedatanganmu
meniup cinta dalam sukmamu
benih yang kau semai
telah berakar tunjang
lidahmu lembut
mengucapkan bahasa ilmu
dan kasih-sayang.
Aku mengucup dahimu
seperti ibu kepada anak
antara aku dan kau
terikat dan bukan terasing
kemerdekaan sukmamu
adalah langkah ke arah
kemenangan abadi.
Kujabat tanganmu
Pa Musa dan Antenom
seakan baru semalam
Sungai Padas, gejolakmu
seperti masa silam
kau, datang dalam
mimpi anak bangsa
seperti sekilas cahaya
dan gerak di langitmu
membawa makna dan firasat.
Kembara Bahasa
adalah tamu di suatu siang
datang membawa pesan
dan telah diucapkan
penyairmu telah membacakan
puisi
gerak tangan dan kakimu
telah berhenti
gema Kulingtangan
di dewan ini telah sepi.
Kembara bergerak
menuju kota
doa telah diucapkan
yang tinggal harapan
dan kenangan
pada takaran waktu.
*Dikirim ke Majalah Wadah 2 March 2015
Keningau dan Beaufort,
kutinggalkanmu
dengan rimbunan kata-kata
yang bergayutan
seperti bintang-bintang
inspirasi di langitmu.
Kedatanganmu
meniup cinta dalam sukmamu
benih yang kau semai
telah berakar tunjang
lidahmu lembut
mengucapkan bahasa ilmu
dan kasih-sayang.
Aku mengucup dahimu
seperti ibu kepada anak
antara aku dan kau
terikat dan bukan terasing
kemerdekaan sukmamu
adalah langkah ke arah
kemenangan abadi.
Kujabat tanganmu
Pa Musa dan Antenom
seakan baru semalam
Sungai Padas, gejolakmu
seperti masa silam
kau, datang dalam
mimpi anak bangsa
seperti sekilas cahaya
dan gerak di langitmu
membawa makna dan firasat.
Kembara Bahasa
adalah tamu di suatu siang
datang membawa pesan
dan telah diucapkan
penyairmu telah membacakan
puisi
gerak tangan dan kakimu
telah berhenti
gema Kulingtangan
di dewan ini telah sepi.
Kembara bergerak
menuju kota
doa telah diucapkan
yang tinggal harapan
dan kenangan
pada takaran waktu.
*Dikirim ke Majalah Wadah 2 March 2015
Wednesday, 15 October 2014
Suatu Siang Menjelang Maghrib* (UB)(Terbit)
Telah lama sukmamu
terapung di situ
cintamu bersemadi
di lautan.
Lepa-lepa berhanyut
di bawah langit sirkah.
Di sini,
nahkoda
dan laut itu
seperti jelapang
tanah luas.
Memang nafasmu
adalah lautan
pada bintang di langit
harapan dan
mimpi
seperti gelombang
di musim tengkujuh.
*Tersiar Di Utusan Borneo 8 March 2015
*Tersiar Di Utusan Borneo 5 April 2015
terapung di situ
cintamu bersemadi
di lautan.
Lepa-lepa berhanyut
di bawah langit sirkah.
Di sini,
nahkoda
dan laut itu
seperti jelapang
tanah luas.
Memang nafasmu
adalah lautan
pada bintang di langit
harapan dan
mimpi
seperti gelombang
di musim tengkujuh.
*Tersiar Di Utusan Borneo 8 March 2015
*Tersiar Di Utusan Borneo 5 April 2015
Monday, 13 October 2014
Puisi Lintas* (Puisi)(Metamorposis)
Ke mana pergi
penghuni rimbamu
hilang di depan mata
di tanah peribumi
Mengapa memilih
kalau tak ada pilihan
kemajuan itu hanya
pada mereka yang melangkah.
Pulau mutiara dan laut
dapatkah kau bertahan
lembah gunung dan hutan jati
telah lama bertukar wajah.
Subscribe to:
Posts (Atom)