Thursday, 26 June 2014

Bagaimana Aku Berterus-terang Padamu* (Puisi)(Metamorposis)

bagaimana aku berterus-terang padamu
gelombang datang bergulung-gulung
burung-burung terbang menyeberangi benua.

bagaimana aku berterus terang padamu
rumahmu gundah tidurnya dari semalam
kau telah mengulang khabar kedatangan.

bagaimana aku berterus-terang padamu
setiap kata kaulafazkan mengalir
seperti air terjun sejuk pelepas dahaga.

bagaimana aku berterus-terang padamu
gema suara yang datang membawa pesan
malam masih gelap dan tidur gundah.

bagaimana aku berterus-terang padamu
sebuah gunung di musim-musim jerebu
ada kaki tergelincir ketika mendaki.

bagaimana aku berterus-terang padamu
anak tebing akan runtuh
alir sungaimu pasti berubah.

bagaimana aku berterus-terang padamu
keamanan akan sirna tanpa keadilan
keadilan harus merata pada semua.

bagaimana aku berterus-terang padamu
gerhana dalam sukmamu
kekalahan di malam derhaka.

bagaimana aku berterus-terang padamu
berita itu bukan rahsia
berhentilah berkhianat.


Wednesday, 25 June 2014

Kau Gunung Yang Bertahan*(ITBM)

Laut menggirim gelombang
langit seperti tertumpah dawat
Ada pulau tercampak,
tenggelam
jerebu di kanta mata
mengapa kau menubah
sungai yang bersahabat
tanah yang selalu tulus
Sayang, penolakkan itu
membawa mimpi buruk.

Belayar lepa-lepaku
ke tanah makmur
badai samudera telah redah
ruh-ruh jahat di lautmu
telah terbakar hanggus
dalam sukmamu
masih ada kekuatan
kedatanganmu membawa
berita keselamatan
kembalikan bintang-bintang
kedamaian dari belenggu
malam-malam yang keliru.

Bagaimana aku bisa tidur
damai
sekiranya kau masih
bermain api di pojok malam
lalu berlagak lanun di perairan.
di tanah leluhur ini
suaramu benar dan gemanya
membangkitkan keberanian
yang wajar.

Usah kau conteng  halaman
sejarah dan
mindamu
tiada yang dapat
meruntuhkan pada gunung
yang bertahan.
Ciumlah tanah gembur ini
kenal baunya sampai kiamat.
kau akan kembali dengan damai
sesiapapun tak bisa membohongi
anak tak berbangsa
lahir sebagai pendatang
di bumi leluhurmu.

Langit memperingatkanmu
kemenangan diraih
dari jiwa yang tawajuh
seperti kesabaran bumi
sekalipun banjir dan gempa
tofan dan keserakahan mereka
ia tetap bertahan
kerana Tuhan tak membiarkan
kejahatan dimahkotakan
lalu pergi sebagai perompak maut.

Kata-kata yang terkumpul
hidup dalam cahaya doa
ke manapun kau berpaling
di situ tumbuh benih keadilan
sekalipun mereka ingin kau gagal
dan kecundang di siang hari
kau tak akan
membiarkan jerebu kebohongan
menggelabukan mata
menciptakan khayalan dari
timbunan kelicikan dan siasah buruk.


*ITBM Jun 2015





Tuesday, 24 June 2014

Lata Kinjang, Namamu Terukir Di Sukma*(AK)(Lanskap)

Aku merinduimu maka puisi ini tercipta
Lata Kinjang, mereka yang lalu pasti
berhenti dan menikmati kesegaran airmu
di situ pernah musafir mengambil wudhu
mengerjakan solat setelah itu beralih pergi.

Di dadamu, rimba jati hidup terlindung
air terjunmu melepaskan lelah dan dahaga
cerita keindahanmu melangkahi sempadan
mata yang melihat pasti membualkanmu
segala puji-pujian mengalir sampai ke muara.

Lata Kinjang, namamu terukir di sukma perindu
ribuan tahun mendatang, dalam kasyaf sempurna
halaman sejarahmu seperti air mengalir
lalu menjadikan air terjun menyejukkan
pengunjung-pengunjung yang datang,

Kalau aku menyebut namamu
kerana kau, lambang kasih kesampaian
di dinding sukmaku telah kupahat
namamu dengan tangan kasih
Lata Kinjang, kenampakkan-Mu yang abadi.

*diterbitkan dalam antologi puisi Kinjang diselenggarkan oleh Onn Abdullah, 2014, Persatuan Karyawan Perak, *Ipoh*.






Lata Kinjang* (AK)(Lanskap)

Lata Kinjang
airmu mengalir dari sukma samawi
lembut dan jernih bagai mata kijang
gema suaramu menuruni lembah
seperti nyanyi indah yang menidurkan
musafir yang lelah.

Lata Kinjang
Pepohonan redang di tepian
bagai pahlawan berdiri tegak
menjagai dan melindungimu
memandang langitmu dan meresap
puas udaramu ke dalam
rongga dada dan urat-urat serambi.

Lata Kinjang
tak akan kulupakan namamu
sekali aku mencercah kaki
dan mandi adalah kepuasan
dan ingatan sepanjang hayat.
Seperti aku merasakan nafasmu
dari celah-celah batu
dan mencium dahiku,
adalah rahmat dari masa silam.

Lata Kinjang
kau adalah anugerah Tuhan
tak pernah kering dalam segala musim
doa turun-temurun dari leluhur
waris peninggalan abadi
makmur dalam ingatan
Generasi muda, kau penerus
impian semalam
menyempurnakan kerinduan berkurun.

*Diterbitkan dalam antologi sajak Kinjang diselenggarakan oleh Onn Abdullah, 2014

Musafir Menjelang Ramadan

Kau tak mengira sudah berapa ribu langkah
kakimu melangkah dari desa matari turun
menurun lembah ke benua selatan,
masih belum sampai
Sudah berapa sempadan kau melangkah masuk.

Di tanah leluhurmu, kau telah menimbus
sejarah keluargamu dan sekarang kau, orang pendatang
terlantar di bawah matari jam 12.

Kau adalah musafir yang bermimpi
lahan baru tak kira di mana belahan dunia
malammu, hamparan tidur tak berantap
langit seakan runtuh dan daratan makin menjauh
kini kau menghadap ke lautan dan benua selatan.

Usia seakan memamah kulit dan wajahmu
suaramu terdera dan gemanya jatuh dalam gelombang lautan
Sudah berapa Ramadan kau terbawa mata angin
Menjelang Ramadan ini kau ingin melupakan kejora
pasrah pada deru angin dan lambaian bintang Southern Cross.

Ya Rabbi, Ramadan ini bukan yang terakhir
dan mimpimu malam itu
kau tercampak di tengah lautan
dan berenang ke batu karang tanpa pantai
Suatu pagi kau terbangun
di Pusat Penahanan Pendatang Haram
di pulau asing
memandang langit dan cuba membaca
awan yang bergerak.

Menjelang Awal Ramadan

Bumiku biar kau dingin sepanjang bulan Ramadan
bersih dari bau mayat dalam udaramu
mesjid-mesjidmu aman dari penceroboh
bom grenade dan pelepasan dendam
kemarahanmu terperosok hanggus
di lahar gunung berapi.

Di lautanmu deru gelombang kedamaian
di tanah benua kau tekun meraih purnama
di langitmu udara harum dari taman
di dalam sukmamu kau telah mengalahkan
nasf-i-amarah.

Tidakkah kau lihat wabak maut
telah memenuhi langitmu
tanah bumimu meraung kesakitan
berkurun-kurun
tapi, kau masih tak ingin berhenti
menzalimi saudaramu sendiri
malam makin panjang
cerminmu jatuh pecah seribu
kau tidur seakan esok tak akan datang.

Adakah oasis pelepas dahaga
di tanah gurun
semakin hari kata-katamu
kehilangan taji
mereka mulai mempersenda
bulan dan bintang.

Kesabaran gunungmu
teruji
tiap keputusan  dan hukuman
adalah hikmah
Kemenangan rohani ummah yang satu
supaya kau tak akan kalah ke sekian kali.

Kalau kau tak ingin memadamkan
api sengketa ini
sepanjang kurun
dendamnya tak akan hapus
maut menjulurkan lidahnya
mengubah siang menjadi malam
dan malam memanjang ke dalam siang.






Harimau Sukma*(ITBM)

Bagai panah terlepas dari busurnya
mulut mengunyah api belerang
kuku siap menerkam mangsa
kata-kata api gunung berapi.

Langkahnya, langkah pendekar
di tanah lumpur.

Ia telah membakar hutan
penghuninya sirna
yang tinggal sepi
di tanahmu.

Kini harimau sukmamu
menggaum sepanjang malam
esok, ia mencari rimba jauh
di pergunungan.

Di sepanjang jalan pulang
matanya menunduk
ketika tiba di halaman
ia mengaum, memanggilmu
lalu berkata,
biarkan  harimau
tinggal di rimba sukmamu.


*ITBM Jun 2015