Laut ini bergelombang lagi
pulau-pulau mutiara
tenggelam dan nafasnya
perlahan hilang dalam
deru angin laut.
Pada langit aku menyentuhmu
matamu telah lama kutatap
dan isyarat itu
telah menyerap pada dinding
sejarah.
Aku duduk sebagai penonton
melihat bayang-bayangmu
pada layar putih.
Ceritamu terlalu tenang
sedang penonton ingin
siang dikoyak-koyak seperti kertas
dan malam dibakar tanpa ampun.
Sukmamu telah biasa
dengan gempar dan gempur
dan ngonggong seringala
di malam seram.
Aku akan meninggalkanmu
ketika kau masih lena di pembaringan
tidurlah, malam masih berbintang.
Gazelku dalam mimpi malam tadi
aku melihat derap kuda semberani
di lahan baru berlari melingkari langit
dan ladang rumput muda.
Kota Kinabalu
28 Februari 2014
*dikirimkan ke Bahana, DBP KK
This collection of poetry is the work of Sabahuddin Senin. All the poems are copyright of the poet. Any publication must get permission from the poet. Most of the poems are written in the Malay language. Sabahuddin Senin is a writer from East Malaysia, Sabah.He studied at the Universiti Sains Malaysia, Penang, NIDA, University New South Wales and the Australian National University, Canberra. He spends most of his time in Malaysia, Australia and Solomon Islands. 13th April, 2011
Thursday, 27 February 2014
Wednesday, 29 January 2014
MENGENANGKAN R Hamzah Dua III*(APMRHD)
Ketika mereka melenyapkan rembulan
dan menembok matari di langit
kita tak berhenti menanam pohon-pohon
memori di tebing-tebing sungai yang
melempah.
Datanglah sebagai bah, kau hanya dapat
bergenang kemudian kau hanyut sebagai
pasir ke muara.
Di tanah peribumi, kau terus melangkarkan
langitmu dan aku memopok benih-benih
huruf, seluruh hutan jati dan di dinding sukma
kau menulis dan menconteng grafiti dari
ketulusan dan kekayaan impianmu.
Kota Kinabalu
30 Januari 2014
*Antologi Puisi Mengenang R Hamzah Dua, DiselanggarakanAzridah PS Abadi & Yatie Klatie, Perwila, 2014.
dan menembok matari di langit
kita tak berhenti menanam pohon-pohon
memori di tebing-tebing sungai yang
melempah.
Datanglah sebagai bah, kau hanya dapat
bergenang kemudian kau hanyut sebagai
pasir ke muara.
Di tanah peribumi, kau terus melangkarkan
langitmu dan aku memopok benih-benih
huruf, seluruh hutan jati dan di dinding sukma
kau menulis dan menconteng grafiti dari
ketulusan dan kekayaan impianmu.
Kota Kinabalu
30 Januari 2014
*Antologi Puisi Mengenang R Hamzah Dua, DiselanggarakanAzridah PS Abadi & Yatie Klatie, Perwila, 2014.
Tuesday, 28 January 2014
MENGENANGKAN R Hamzah Dua II*(APMRHD)
Masih kuingat kuntum-kuntum puisi dan karyamu
seperti kembang bunga lili di kolam sukmamu
tiap siang kau bercanda suaramu yang sampai
lembut menyenangkan pada telinga mendengar.
Kita bersama menampal puisi di langit Subuh
di tanah pribumi ini masih ada mengenangkanmu
kau tak pernah berhenti mencipta rembulan
di musim kemarau, ada oasis di tengah sahara.
Karya tinggalanmu bagai air terjun indah dilihat
mengalir terus sampai ke bulan dan matari
bila malam tiba menjadi bintang-bintang berserakan
kau bagaikan cahaya yang menerangi lembah.
Kota Kinabalu
28 Januari 2014
**Antologi Puisi Mengenang R Hamzah Dua, Diselanggarakan Azridah PS Abadi & Yatie Klatie, Penerbit Perwila, 2014
seperti kembang bunga lili di kolam sukmamu
tiap siang kau bercanda suaramu yang sampai
lembut menyenangkan pada telinga mendengar.
Kita bersama menampal puisi di langit Subuh
di tanah pribumi ini masih ada mengenangkanmu
kau tak pernah berhenti mencipta rembulan
di musim kemarau, ada oasis di tengah sahara.
Karya tinggalanmu bagai air terjun indah dilihat
mengalir terus sampai ke bulan dan matari
bila malam tiba menjadi bintang-bintang berserakan
kau bagaikan cahaya yang menerangi lembah.
Kota Kinabalu
28 Januari 2014
**Antologi Puisi Mengenang R Hamzah Dua, Diselanggarakan Azridah PS Abadi & Yatie Klatie, Penerbit Perwila, 2014
Monday, 27 January 2014
Wajah Negeri*
Ternyata, telah lama kau
tak tersentuh mimpi.
Perubahan telah menyerap
dalam sukma sampaI ke akar
Sekalipun kau sendiri menahan
tapi ia tetap datang bagai raksasa
perubahan dalam pembangunan.
Selera dan kemampuanmu
berubah tanpa disedari lalu
kita makan tanpa mengunyah
menelan dan lalu bersendawa.
Wajah negeri tetap berubah
di jalan-jalan bulatan ada
arca Monyet Hidung Merah
dan buah nenas.
Siapakah mendirikan penempatan
di hutan simpanan
lalu bertanam
kelapa sawit.
Sedang kau hanya melihat
diam sementara mereka menebok
dan mengerat rimba jati.
kelihatan di luar
tak tersentuh.
Kota Kinabalu
26 Disember 2014
tak tersentuh mimpi.
Perubahan telah menyerap
dalam sukma sampaI ke akar
Sekalipun kau sendiri menahan
tapi ia tetap datang bagai raksasa
perubahan dalam pembangunan.
Selera dan kemampuanmu
berubah tanpa disedari lalu
kita makan tanpa mengunyah
menelan dan lalu bersendawa.
Wajah negeri tetap berubah
di jalan-jalan bulatan ada
arca Monyet Hidung Merah
dan buah nenas.
Siapakah mendirikan penempatan
di hutan simpanan
lalu bertanam
kelapa sawit.
Sedang kau hanya melihat
diam sementara mereka menebok
dan mengerat rimba jati.
kelihatan di luar
tak tersentuh.
Kota Kinabalu
26 Disember 2014
Gema Suara Penyair R Hamzah Dua I*(APMRHD)
Tak terlintas dalam kepala
kata-kata tersusun dan terbit
atau dibacakan itu berubah
sebagai pasukan siap tempur
menghancur mundur pasukan
penderhaka atau musuh.
Jelas ia adalah bait-bait atau kalimat
melengkapi satu impian dan harapan
khazanah yang membuatmu berfikir
dan keindahan yang menyentuh sukma.
Aku mengenalmu dari anyaman
dan adunan suaramu bergema
karyamu bagai jelapang tanah
perjuangan itu tak terkira dalam
pengiraan waktu dan mimpi
ia mengalir sampai ke muara.
Kau telah mendandan langitmu
bagai membaca malam penuh cerita
yang tak ada kunjung penamatnya
terus bercerita sampai akhir zaman.
Kota Kinabalu
22 Januari 2014
*Antologi Puisi Mengenang R Hamzah Dua, Diselenggarakan Azridah PS Abadi & Yatie Klatie, Penerbit Perwila, 2014
kata-kata tersusun dan terbit
atau dibacakan itu berubah
sebagai pasukan siap tempur
menghancur mundur pasukan
penderhaka atau musuh.
Jelas ia adalah bait-bait atau kalimat
melengkapi satu impian dan harapan
khazanah yang membuatmu berfikir
dan keindahan yang menyentuh sukma.
Aku mengenalmu dari anyaman
dan adunan suaramu bergema
karyamu bagai jelapang tanah
perjuangan itu tak terkira dalam
pengiraan waktu dan mimpi
ia mengalir sampai ke muara.
Kau telah mendandan langitmu
bagai membaca malam penuh cerita
yang tak ada kunjung penamatnya
terus bercerita sampai akhir zaman.
Kota Kinabalu
22 Januari 2014
*Antologi Puisi Mengenang R Hamzah Dua, Diselenggarakan Azridah PS Abadi & Yatie Klatie, Penerbit Perwila, 2014
Friday, 24 January 2014
Musim Banjir*(UB)(Suasana)(Terbit)
Sukmamu bertahan dan
langkahmu sarat
telah lama matari berendam
malam ini bulan purnama
bagaikan
kehilangan tenaga,
cahayanya terpampan.
Akar Pakis berjuang
seperti pertarungan terakhir
tenggelam di dalam air dan
Kangkong hanyut seperti
bergelut di lingkaran buih.
Kau bergelut dengan dingin
malam
sedang bintang malam
menjauh
di gerbang siang
kelabu.
Ketika langit terperah
bumi meraung lalu
hadir perlindungan
dan kasih-sayangmu
suara kami masih bersayap
hinggap di pohon kapok.
Kota Kinabalu
24 Januari 2014
*Tersiar di Utusan Borneo 26 Januari 2014
langkahmu sarat
telah lama matari berendam
malam ini bulan purnama
bagaikan
kehilangan tenaga,
cahayanya terpampan.
Akar Pakis berjuang
seperti pertarungan terakhir
tenggelam di dalam air dan
Kangkong hanyut seperti
bergelut di lingkaran buih.
Kau bergelut dengan dingin
malam
sedang bintang malam
menjauh
di gerbang siang
kelabu.
Ketika langit terperah
bumi meraung lalu
hadir perlindungan
dan kasih-sayangmu
suara kami masih bersayap
hinggap di pohon kapok.
Kota Kinabalu
24 Januari 2014
*Tersiar di Utusan Borneo 26 Januari 2014
Sungai Padas* (UB) (Lanskap)(Terbit)
Sungai Padas
denyut arusmu menerja sampai
ke Laut Cina Selatan
bagai tidur gundah
rambutmu mengenangkan air
ke desa-desa jauh.
Nafasmu terasa tergulung
di permukaan hanyut
Langit mendung masih
merendamkan tebingmu
Air sungaimu tersimpan rahsia
masa silam seribu kencana
dan dengung suara-suaramu
seperti anak yatim doanya
bersambut.
Beaufort, jalan ke selatan
jembatan dan Sungai Padas
dan Pa Musa adalah pintu
masuk ke dalam sukma.
Kota Kinabalu
24 Januari 2014
*Tersiar di Utusan Borneo 26 Januari 2014
denyut arusmu menerja sampai
ke Laut Cina Selatan
bagai tidur gundah
rambutmu mengenangkan air
ke desa-desa jauh.
Nafasmu terasa tergulung
di permukaan hanyut
Langit mendung masih
merendamkan tebingmu
Air sungaimu tersimpan rahsia
masa silam seribu kencana
dan dengung suara-suaramu
seperti anak yatim doanya
bersambut.
Beaufort, jalan ke selatan
jembatan dan Sungai Padas
dan Pa Musa adalah pintu
masuk ke dalam sukma.
Kota Kinabalu
24 Januari 2014
*Tersiar di Utusan Borneo 26 Januari 2014
Subscribe to:
Posts (Atom)