Bintang-bintang seakan bersembunyi
di batu-batu karang cakerawala untuk malam ini
langit berdentum menendang ke gegendang telinga
mereka menggerak-gerakkan tangan ke atas kepala
ambang 2013 akan ditutup.
Kau menyanyi dan menari
malam ini kita melihat bagaimana
dirimu merayakan datangnya tahun baru, 2014.
Kau, bagaikan naga di angkasa
dari mulutmu kembang api mewarnakan
langit malam. Kota-kota tidak tidur
sampai ke pagi.
Mari sejenak kita melepaskan burung merpati
ke langit samawi
Mubarak, kita menabur harapan
dan keselamatan manusia sejagat.
Kota Kinabalu
1 Januari 2014
This collection of poetry is the work of Sabahuddin Senin. All the poems are copyright of the poet. Any publication must get permission from the poet. Most of the poems are written in the Malay language. Sabahuddin Senin is a writer from East Malaysia, Sabah.He studied at the Universiti Sains Malaysia, Penang, NIDA, University New South Wales and the Australian National University, Canberra. He spends most of his time in Malaysia, Australia and Solomon Islands. 13th April, 2011
Tuesday, 31 December 2013
Sejam terakhir 2013
Sekalipun kau ingin pulang dan balik
tak akan terjadi arus waktu menolakmu
lagi dicuba semakin kuat kudamu meluruh
ke depan. Berkali-kali kau ingin melepaskan
das tembakan ke dinding kenangan tapi tetap
sebuah dinding berdiri kukuh dalam sukmamu.
Kuda semberanimu telah melangkah perlahan
mendekati kolam air. Sempadan tahun 2013
akan kau langkahi. Sebentar lagi mereka
akan menembak-nembak langit, kembang
bunga api, dalam diam kau menitip doa
langit bagai air yang tenang bergenang,
Kau terus berjanji mata panahmu akan mengena
sasaran.
Lagu yang pernah membuaimu, kini kau telah
menghafalnya, Tuk-tuk ugai, ugai si duyung-duyung
bagai Zikir Cenderawasih, yang menyejukkan
lahar gunung.
Di lembah pengorbanan menuntut ketulusan
dan kasih-sayang tapi di tanah dendam kesumat
dalam jerebu perang kembang Kenanga dan Melati
masih mengindahkan malam impian dan akhirnya
akan memberi ruang melucutkan belenggu sengketa.
Kota Kinabalu
31 Disember 2013
tak akan terjadi arus waktu menolakmu
lagi dicuba semakin kuat kudamu meluruh
ke depan. Berkali-kali kau ingin melepaskan
das tembakan ke dinding kenangan tapi tetap
sebuah dinding berdiri kukuh dalam sukmamu.
Kuda semberanimu telah melangkah perlahan
mendekati kolam air. Sempadan tahun 2013
akan kau langkahi. Sebentar lagi mereka
akan menembak-nembak langit, kembang
bunga api, dalam diam kau menitip doa
langit bagai air yang tenang bergenang,
Kau terus berjanji mata panahmu akan mengena
sasaran.
Lagu yang pernah membuaimu, kini kau telah
menghafalnya, Tuk-tuk ugai, ugai si duyung-duyung
bagai Zikir Cenderawasih, yang menyejukkan
lahar gunung.
Di lembah pengorbanan menuntut ketulusan
dan kasih-sayang tapi di tanah dendam kesumat
dalam jerebu perang kembang Kenanga dan Melati
masih mengindahkan malam impian dan akhirnya
akan memberi ruang melucutkan belenggu sengketa.
Kota Kinabalu
31 Disember 2013
Sunday, 29 December 2013
Puteri Siti Payung*(Mama)
Ketika sungai beralih
lahir sebuah danau
dan pulau daratan
di tepi desa.
Kalau dulu
ia tebing yang kuat dan bertahan
sepak terjang banjir melimpah
ia tetap mencengkam bumi.
tanpa mengaku kalah.
Malam terakhir ini, sukmanya
bagaikan sungai yang terputus
terbagi dua
impiannya tenggelam
terbawa arus jauh ke laut.
Penghuni hutan diam
tak berani berkata-kata.
Musim cepat berubah
Puteri Siti Payung duduk
di atas tangga memandang
gerimis turun
menunggu kepulanganmu.
Kota Kinabalu
31 Disember 2013
*Menurut Tradisi kedayan/Brunei, Siti Payung itu, panggilan kepada tikus.
lahir sebuah danau
dan pulau daratan
di tepi desa.
Kalau dulu
ia tebing yang kuat dan bertahan
sepak terjang banjir melimpah
ia tetap mencengkam bumi.
tanpa mengaku kalah.
Malam terakhir ini, sukmanya
bagaikan sungai yang terputus
terbagi dua
impiannya tenggelam
terbawa arus jauh ke laut.
Penghuni hutan diam
tak berani berkata-kata.
Musim cepat berubah
Puteri Siti Payung duduk
di atas tangga memandang
gerimis turun
menunggu kepulanganmu.
Kota Kinabalu
31 Disember 2013
*Menurut Tradisi kedayan/Brunei, Siti Payung itu, panggilan kepada tikus.
Saturday, 28 December 2013
Penyair Memanggilmu* (Puisi)(Metamorposis)
Kalau aku melihat
dalam bola matamu
di dalam tersimpan
kaih-sayang
keberanianmu.
Aku membacamu
kemanusiaan
bagai matari bersinar
darah menitis dari
serambi darah
dari ketulusan
jiwa-ragamu
kerana fitratmu
memang indah.
Kau bagai kekasih
bertekad jalan ke samawi
kemenangan ini
kau capai
setelah jalan kebaikan
kau tempuh
seperti lebah dan
menitis madu
pada tiap lidah
yang mendambakan.
Kota Kinabalu
29 Disember 2014
Derma Darah*(Suasana)
Kelihatannya
dalam diam ia bekerja
bergerak
di tanah peribumi.
Ia melihat
teman-teman
telah siap
hari ditunggu
berdenyut cepat.
Temannya telah datang
tak berkata apa-apa
menghulurkan tangan.
Ia berdiri
sukmanya nekad
di tanah kebaikan.
Kota Kinabalu
29 Disember 2014
dalam diam ia bekerja
bergerak
di tanah peribumi.
Ia melihat
teman-teman
telah siap
hari ditunggu
berdenyut cepat.
Temannya telah datang
tak berkata apa-apa
menghulurkan tangan.
Ia berdiri
sukmanya nekad
di tanah kebaikan.
Kota Kinabalu
29 Disember 2014
Friday, 27 December 2013
Dalam Cahaya* (Ketuhanan)
Malam itu kau pergi mencari
di sepanjang jalan
berlabuh di sebuah pulau jauh
rembulan penuh memisahkan
yang terselindung dan terdedah
dalam cahaya murni.
Kau melangkah dan melihat
seperti mencari suatu yang hilang
Sukmamu bagaikan radar
lalu ada seseorang
bertanyakan .
Mengapa mencari di sini
tidak di tempat lain?
Kau tak mencari
yang hilang kerana
dalam kegelapan pekat
kehadiran cahaya
purnama penuh adalah
kebenaran.
Kota Kinabalu
28 Disember 2013
di sepanjang jalan
berlabuh di sebuah pulau jauh
rembulan penuh memisahkan
yang terselindung dan terdedah
dalam cahaya murni.
Kau melangkah dan melihat
seperti mencari suatu yang hilang
Sukmamu bagaikan radar
lalu ada seseorang
bertanyakan .
Mengapa mencari di sini
tidak di tempat lain?
Kau tak mencari
yang hilang kerana
dalam kegelapan pekat
kehadiran cahaya
purnama penuh adalah
kebenaran.
Kota Kinabalu
28 Disember 2013
Wednesday, 25 December 2013
Air Limau* (Suasana)
Minumlah air buah ini
manis dari pohon terbaik
benih terpilih bercambah
dari tanah peribumi
menghilangkan dahaga musafir.
Malam itu sahabatku bercerita
Seorang raja ke luar kota
singgah di perkebunan kecil
dan pekebun yang beradat
memerah limau manis
dibuat minuman
lalu raja pun minum
manis air buah
mengundang raja minum lagi.
Ketika raja habis minum
Alangkah baiknya jika
kebun limau ini kepunyaan beta.
Lalu meneguk air limau
terasa terlampau masam.'
Mengapa air limau ini
tidak sebagus pertama,
manis dan segar.
Ketika Tuanku minum baru pertama
tak ada fikiran Tuanku selain
niat minum.
Tapi, Tuanku telah
berangan-berangan tak baik
ketika minum kali kedua.
Setelah itu
sahabat mendakapku
membisikkan
Mubarak, Selamat.
melangkah pergi sebagai musafir.
Kota Kinabalu
26 Disember 2014
*limau> buah Jeruk di Indonesia.
manis dari pohon terbaik
benih terpilih bercambah
dari tanah peribumi
menghilangkan dahaga musafir.
Malam itu sahabatku bercerita
Seorang raja ke luar kota
singgah di perkebunan kecil
dan pekebun yang beradat
memerah limau manis
dibuat minuman
lalu raja pun minum
manis air buah
mengundang raja minum lagi.
Ketika raja habis minum
Alangkah baiknya jika
kebun limau ini kepunyaan beta.
Lalu meneguk air limau
terasa terlampau masam.'
Mengapa air limau ini
tidak sebagus pertama,
manis dan segar.
Ketika Tuanku minum baru pertama
tak ada fikiran Tuanku selain
niat minum.
Tapi, Tuanku telah
berangan-berangan tak baik
ketika minum kali kedua.
Setelah itu
sahabat mendakapku
membisikkan
Mubarak, Selamat.
melangkah pergi sebagai musafir.
Kota Kinabalu
26 Disember 2014
*limau> buah Jeruk di Indonesia.
Subscribe to:
Posts (Atom)