Monday, 26 August 2013

Bagaimana Aku Dapat Berterus-Terang (Ketuhanan)

Bagaimana aku dapat berterus terang
pada saat badai ombak memukul aku
jauh ke pojok benua.

Aku rimas dan kelelahan amat
berterus terang memang senjata ampuh
tapi sangat menusuk bagai mata sembilu
ke dalam sukma.

Jelas, kata-kata berpulang sebagai panah-panah
dan aku bagai terikat kedua tangan pada dua
tiang dan seakan tak dapat berbuat 
dari sasaran.

Bagaimana aku dapat menjelaskan
cahaya lampu seakan pada saat-saat terakhir
berdiam tentu merelakan hukuman
dijatuhkan.

Yang tak diharapkan datang membusung
seperti ikan terdedah  di udara panas.
Penyesalan bagai lalat yang hinggap
pada makanan yang terdedah
lalu menjadi ngiuk dalam tempokan
jiwa yang lara.

Di jalan pulang, aku memilih jalan selamat
kembali kepada doa. Biar sel-sel dalam
darah ini membawa satu kekuatan doa
mengalir dalam udara-Mu sampai ke
dalam sukma dan serambi otak.

Kota Kinabalu
27 Ogos 2013



Thursday, 22 August 2013

Batu Sapi, Esok Belum Pasti (Cemar)



Kau memandang laut  
matamu perlahan-lahan
singgah ke batu silam 
bagaikan seekor hewan
terperangkap dalam lumpur
sekian lama dalam urutan waktu. 

Air mulai surut, keindahanmu
mulai menghias laman 
sebuah foto.

Jalan ini tak terusik. 
Di pintu gerbang tak ada
lagi orang akan bertanya
sekalipun kau masih tetap 
mengundang ke mari.

Batu di laut ini seperti tugu
tiap mata lalu pasti melirik 
dan meresap. Kini ia terhimpit 
di celah-celah kilang dan 
langit siang dan terperosok 
ke dalam malam.

Kau, di situ sebelum merdeka
ketika menjelang malam kembang 
api, kau masih berendam sendiri
menunggu esok belum pasti.

Sandakan
23 Ogos 2013





Thursday, 15 August 2013

Berenang Di Lubuk Sukma , Mesapol (Mama)

Kuseru namamu kali berkali
di kali ini kita pernah memancing ikan
tapi bumimu berubah cepat, terlalu
cepat.

Butakah mata ini atau
aku memang tak melihatmu.
Ke mana perginya?
Dulu hanya ada satu jalan
sekalipun kupejamkan mata
pasti aku akan sampai
menyentuh airmu yang dingin.

Aku dapat meraba ke dalam
dasarmu dengan kaki dan
menyentuh pagutanmu.
Waktu telah berhanyut jauh
Di sini, kau kehilangan lubuk
Keli, Haruan Putian, Karuk
dan Pangal

Manisku, berenanglah
ke lubuk sukma.
Kugenggammu
dan dilepaskan sebagai
kenangan.

Kota Kinabalu
15 Ogos 2013

Nyanyian Sukma* (Puisi)(Metamorposis)

Aku menulis puisi ini kepadamu
tiap kata menyampaikan isyarat
mata dan bibirmu yang membaca
sukmamu yang tersentuh lalu
fikirmu melayang berkepak dalam
udara langit biru. Ia menjadi burung
Cenderawasih.

Ketika aku memanggilmu dengan
satu panggilan bergema ke serata
lembah dan gunung. Panggilanlah
ia sebuah harapan yang tak akan
pudar dalam hakisan waktu.

Kepadamu, aku tak akan merasa
lelah mencipta puisi-puisi ini.
Sesaat aku menjauh kau kerinduan
mencari burung Cenderawasih
di rimba mana dan di langit mana
tiap bunyi yang bergetar kau
gelisah.

Kukumpul puisi-puisi ini buatmu
biarku bisikan ke telingamu
dan menjadi Nyanyian Sukma
kalau itu memang sebuah harapan
biarlah ia sebuah harapan.

Di dataran ini aku berdiri
memanggilmu dan gema suaraku
berulang mengirim pesan tapi
kau masih tak menjawab dan
Nyanyian Sukma masih ada
di tangan ini menunggu kau
datang mengambilnya.

Kota Kinabalu
15 Ogos 2013

Wednesday, 14 August 2013

Dendammu Tak Akan Bertahan (Ketuhanan)

Jangan, jangan sekali-sekali kerana amarahmu
kau membakar puisi-puisi itu di berkas sukmamu
kejahatan itu telah melebihi batas, langit pun
tersinggung. Kedamaian sukmamu  tercalar.
Kali ini bukan di tangan kasih dan sayang
mereka telah membakar kelambu langit dan
melepaskan dendam kesumat sampai ke
liang kalbu.  Mereka sebenarnya bukan
pencinta kedamaian dan sayang nama-nama
manis panggilan orang tua.

Kelahiranmu bukan membawa nestapa pada
dunia. Bukankah kedatanganmu membawa
khabar gembira dan kedamaian. Lidah api
menjulang dan membakar hanggus lantai
para mutaki dan pendoa yang rajin. Apapun
yang tersirat di dalam sukmamu, kelihatannya
seperti kau yang terhukum. Kau tak mengira
langit masih berdandan, bulan hilal tersisip
indah di awal Syawal.

Tindakanmu adalah kegilaan dan kerasukan
memang kau dari golongan perosak kedamaian
dan bertopeng, dalam sukmamu ada air yang
bertakong busuk. Ayuh, saudaraku, alirkan
air busuk itu supaya mengalir. Keresahan bumi
sejak silam telah tak tertahan. Tindakanmu
maut berjatuhan dan membakar puisi-puisi
sukma dan keindahan firman-firman-Mu.

Kota Kinabalu
15 Ogos 2013

Bagai Mimpi* (Puisi)(Metamorposis)

Bagai mimpi melihatmu lalu
dan menghilang di depan mata
dalam danau memori bagaikan aku
mendengar suaramu, air yang
mengalir di celah-celah batu.

Ketika keretamu terbanting
dunia sirna dan degup jantung
bagaikan nafas lautan dan membawa
angin gemuruh menjelang malam
gerhana.

Kata-kata meluruh dan berkumpul
menjadi gelombang-gelombang doa
datang dari sukmamu yang jujur.
Berita itu bagai menghempit dadamu
dalam tidur gelisah.

Tenang, tenanglah lautan di waktu
malam. Turunlah gerimis biar
datangmu membawa salam dan
khabar baik pada sebuah taman.

Kota Kinabalu
15 Ogos 2013

Tuesday, 13 August 2013

Tak Ada Jalan Pintas (Suasana)

Waktu bergeser tanpa menoleh
aku tak dapat dari menahanmu
memang kau pun dipengaruhi
oleh gerhana dan purnama.

Aku memandangmu, dan cuba
menyingkap rahsia sekalipun tak
ada jalan pintas. Langkah ini
semakin perlahan dan kendur.

Ketika melihat kembang bunga
ros dan mencium bau harum aku
menyerapnya ke dalam sukma,
lalu menghirup udara pergunungan.

Aku melihat dan terpegun
Alam telah banyak memberikan isyarat
tapi pintu sukmamu masih tertutup
dan berdiri seperti algojo menurut perintah.

Kota Kinabalu
13 Ogos 2013