Wednesday, 31 July 2013

Budaya Korup Pasti Gagal

Anak Bangsa Melayu Raya dan Nusantara
keindahan budaya citarasamu telah menggoda
tamu masa silam ke tanah pribumi.
Ibn Batuta dan Laksamana Cheng Ho
dan kerajaan-kerajaan silam, candi-candi
dan masjid peninggalanmu, pemikir bangsa
dan impian masa depan gemilang.

Hang Tuah dan Majapahit
Taming Sari dan Urduga
Tun Sri Lanang
lambang Melayu raya dan
semangat Nusantara.

Dapatkah disatukan Budaya Korup
dengan satu peradaban tinggi
Budaya Melayu Raya
dan Islam, sejati,

Aku tak ingin melihat
bangsamu kalah dan menjadi
bangsa angin jerebu yang
membawa maut dan menyerah.
Di lahan dan lembah, langit baru
dan lautmu telah diberi peringatan
bangsa. Kepada pemegang amanat
Ini adalah bangsa yang beradab
dan bersopan santun, lemah lembut
dan berjiwa halus.

Bagaimana di tanah pribumi ini
Budaya Korup menguasai sukmamu?
Orang kecil masih menyuarakan
hak-hak ke atasmu.
Suara-suaranya akan terus bergema
sampai akhir zaman
sekalipun mereka selalu kau
jadikan mangsa
di tangan-tangan yang korup.

Budaya Anak Bangsa Melayu Raya
dan semangat Nusantara akan
akan bersatu menjadi perpaduan
bangsa. Kemenangan dan damai
dalam sukmamu kerana-Mu.

Kota Kinabalu
31 Julai 2013





Budaya Korup Ingin Menang

Ingin kau mendengar, manisku
berita kelancangan satu bangsa
dan satu negara. Ketika orang
kecil menyatakan yang tersirat
di dalam sukmanya, ia berkata
di sini kami masih hidup.

Dari rimba ke rimba di benuamu
dari tanah tebing ke tanah tebing
pantai dan kepulauan jauh, di situ
bermukim orang-orang kecil
dan suara-suaranya telah didiamkan.
Dan orang-orang kecil seperti tertindas.

Satu demi satu suara-suara
kecil dikumpulkan di dalam kaca.
Lalu dikatakan suaramu di PBB
masih tetap suaramu cuma
undi itu telah ditetapkan.

Dari langit timur sampai jauh
kepulauan Pasifik, benua kering
dan tanah khutub, suaramu masih
minoriti.

Di laman sukmamu telah
ditatoo, dan budayamu artifak
yang menempel tenggelam di-
telan waktu.Tapi ketika langit
bertukar musim, suara-suara
orang-orang kecil dapat didengar
dan dihormati.

Kota Kinabalu
31 Julai 2013






Koridor Budaya Korup

Dalam diam dibuat koridor
dan membena kawat
kerana yakin, diciptakan
langit biru dan lantai pribumi
dari tanah gembur dan impian
kemenangan.

Dalam perbualan sampai
ke dalam tidur inilah jalan
meraih Nabalu. Kau, seperti
kehilangan arah.

Soalnya ke mana saja
kau memandang dan berinteraksi
budayanya telah begitu.
Tak ada perjanjian
di bawah langit dan menebuk
rembulan.

Tak dibicarakan
tapi perlahan-lahan masuk
menyelinap dalam perjanjian.

Ketika Budaya Korup telah
memasuki rumahmu dan
menjadi keharusan hidup.
Batu kerikil, lembah gunung
dan pepohonan hijau pun seperti
tak akan angkat bicara.

Di malam kelam, dipasang
kepak yang lebar memburu
cahaya dan melangkahi sempadan
mencari jalan ke rembulan purnama.

Di siang yang bolong
alam bekerja
kau pun melangkah
di bawah langit baru.

Kota Kinabalu
31 Julai 2013

*Nabalu bermakna Gunung Kinabalu







Budaya Korup

Kau dilahirkan di tanah pribumi berbudaya
hingga pertama kali mata mulusmu
melihat dunia fana ini. Kau dilahirkan
dalam tradisi dan adat yang baik. Tapi
sekarang, langit seakan tersapu lumpur. 
Bumimu melarat. Kau membenarkan.

Budaya Korupsi ini bertentangan 
dengan fitratmu dan meracuni 
langit, kehangatan budaya tradisi.
Mengapa benih budaya liar diterbangkan
angin singgah dan menumpang di tanah 
pribumi lalu tumbuh mencengkam 
tanah gemburmu. Dan kau seakan rimas
dan membiarkan Budaya Korupsi sebagai 
satu darimu.

Kelembutan gerak, isyarat mata Gazel
dan sukmamu, daya artistik dan estetika
tinggi mengalir. Minda dan semangat
tak pernah dikalahkan. Adalah satu 
kebohongan membiarkan lembah dan 
langitmu terserap ke dalam jerebu 
Budaya Korup.

Kerana Budaya Korup tetap membuat
riak gelombang diam-diam tapi agendanya
menghisap dan membunuh perlahan-lahan
tunjang budaya tradisi. Akhirnya ia menjadi 
pohon kering dan mati.

Kaupun tak akan selamat. Ketika anak bangsa
mimpi dan impiannya dirampas, kejujuran dan
kemurniaan Budaya Tradisi berbentoran dengan
Budaya Korupsi, anak bangsa teruji buat kali 
kedua setelah penjajah bangsa berpulang.

Kota Kinabalu
31 Julai 2013



Tuesday, 30 July 2013

Degung Korupsi

Langitku indah sampai ke sukma samawi
di tanah peribumi aku bertatih semau burung
lidah kebaikan tetap berkata turunlah hujan
pada tanah semaian, biarkan subur dan hijau.
Dan kejahatan itu adalah bagai ular berbisa
bersarang dalam kalbu.

Setiap kali tangan ini menyorok pada kedua
kelangkang kaki sambil mata mengiakan
degup jantungmu bertambah kuat, lebih
kuat dari dentuman belerang gunung berapi
hanya telinga berpura-pura tak mendengar.

Turun-temurun kau diajarkan berurusan
tangan kanan, turun bertani, ke laut, berdagang,
menyuap nasi atau bekerja di ofis. Bumi tak
malu pada suatu amalan dan tindakan halal.

Kau berdalih, ini adalah satu kebiasaan di jalanan,
di mana-mana. Orang tak merasa malu, suatu
perkara tak akan beres tanpa ole-ole dan mem-
bagi-bagikan rembulan dan tanah gembur.

Soalnya sekarang dari kecil kau diajar
menerima dengan tangan kanan. Tapi
tamu yang datang ini menghulurmu
ke tangan kananmu lalu mengenggam
kedua tangannya ke atas tangan kananmu.

Ketika kau tak bisa mengatakan pendapatmu
dan pintu mulutmu dikunci dan otot-ototmu
kejang, kau bagaikan anjing yang patah kaki
Suaramu tersekat di batang leher. Harga dirimu
tersepak.

Kota Kinabalu
31 Julai 2013









Saturday, 27 July 2013

Kopimu Kopi Gayo (Puisi)

Kopimu adalah kopi Gayo
selalu hangat dan panas
dari tanah gembur dan
udara segar khatulistiwa.

Ketika aku menghirup kopi Gayo
seperti aku berada bersamamu
di bawah mentari ribuan tahun
bercanda dan membaca puisi.

Aku melihat dari seggenggam
benih, menjadi pepohonan di
pesisir pantai dan lembahmu
tumbuh belukar menjadi hutan
jati Tanah Gayo.

Di langitmu, burung-burung
pulang dari tanah jauh
pulang membawa impian
Belantaramu riuh semula
sukmamu ditemukan kembali.

Tanah Gayo, tanah Kopi
baunya harum dan enak
ditanam dari tangan-tangan
kasih dan sayang.

Tanah Gayo, rembulan
masih di langit malammu
kau masih bisa bermimpi
dan mendakap impian.

Kota Kinabalu
28 Julai 2013

*Antologi Puisi, 'Lirik Bulan Di Sukma Malam', Sabahuddin Senin dan Kamaria Buang, Borneo Top Publishing House, 2013



Friday, 26 July 2013

Bercanda Sendiri (Suasana)*

Pernahkah kau berfikir 
atau bercanda sendiri 
pandanganmu mencari maksud
dan makna.
'Apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan.'
Malam itu kau membuka jendela,
melihat purnama penuh
cahayanya
menyentuh indera
dan menyerap di lembah sukmamu
Apabila kemampuan
tinggal kemampuan tanpa terdorong 
semangat jati akhirnya menurun
dan urat matamu pun kendur.