Aku mendengar kata-katamu sambil
mataku menunduk ke bumi.
Kau merasakan kalimat ini patut
sampai ke telinga. Dan kau ingin
memahatnya dalam segala musim.
Bagaimana aku dapat menjawabmu,
sedangkan ini seperti membuka
peti pandora.
'Aku telah berdoa'
Impianmu
ini kau bawa ke mana-mana. Dan kegilaanmu
mulai menyiksa ketenangan malam-malammu.
Maafkan kalau aku melihatmu
komet yang hanggus
kalimat-kalimatmu yang diconteng
di langit sukmamu itu telah lama sirna.
Kau ingin kepastian tapi alam terus berubah
tanpa menunggumu.
Kekadang aku melihatmu dalam warna
hitam dan putih
Sederhana.
Lalu kau berkata, 'Aku tak bisa makan
apa saja yang kelihatannya hodoh.'
Maha Suci Tuhan Rabiul Alamen.
Kota Kinabalu
30 March 2013
*AP BBSS
This collection of poetry is the work of Sabahuddin Senin. All the poems are copyright of the poet. Any publication must get permission from the poet. Most of the poems are written in the Malay language. Sabahuddin Senin is a writer from East Malaysia, Sabah.He studied at the Universiti Sains Malaysia, Penang, NIDA, University New South Wales and the Australian National University, Canberra. He spends most of his time in Malaysia, Australia and Solomon Islands. 13th April, 2011
Saturday, 30 March 2013
Friday, 29 March 2013
Antara Kita Itu Ada Jarak*(ABMMK)
Ketika aku bertanya padamu, seperti mengali
rahsia tanah
aku tak menuntut pagar halaman rumahmu
Mengapa diam si umang-umang di dalam lubang
menunggu air pasang?
Aku tak menyesali menantang anak matamu
ada letusan api tanpa disedari dan perahan air limau
yang paling sedikit membuatmu gusar.
Keserakahanmu untuk mempunyai
begitu hebat, kau tak pedulikan persaudaraan
tertendang supaya membuat laluan padamu.
Ingat, aku tak akan mudah
melepaskan yang tergenggam
tanpa bereaksi sekalipun kemarahan ini
telah hanggus di dalam sukma.
Semalam kau tak mau menjawab
apa lagi bermuafakat, kerana kau
selalu memikirkan kebersamaan itu
menutup jalanmu sendiri.
Aku belum menuduhmu
mata pedang ini masih menjunam
ke bumi. Sekalipun ada kesempatan
aku tak akan mempergunakan senjata ini.
Masih ada waktu air yang keruh
mengalir menjadi air jernih dan pelega musim
dahaga.
Ya, Rabbi, jangan aku melafazkan
kata di luar sempadan dan bertindak
kehilangan akal sekalipun sesaat
dan sukmaku mulai menganggapnya
musuh.
Aku masih membabat hari-hari luka
dan suara ini tak akan berhenti
kau tak akan dapat berdalih dan
berpura-pura dan menyepi menjadi
batu di bukit tinggi.
Antara kita tumbuh lalang dan
semak samun yang tebal. Mendatangimu
menunggu langit medung beralih.
Kota Kinabalu
30 March 2013
*AP Bebas Melata MELANTUN KASIH, EDITOR, Othman Ramli, Sarjana Media SDN BHD, 2013.
rahsia tanah
aku tak menuntut pagar halaman rumahmu
Mengapa diam si umang-umang di dalam lubang
menunggu air pasang?
Aku tak menyesali menantang anak matamu
ada letusan api tanpa disedari dan perahan air limau
yang paling sedikit membuatmu gusar.
Keserakahanmu untuk mempunyai
begitu hebat, kau tak pedulikan persaudaraan
tertendang supaya membuat laluan padamu.
Ingat, aku tak akan mudah
melepaskan yang tergenggam
tanpa bereaksi sekalipun kemarahan ini
telah hanggus di dalam sukma.
Semalam kau tak mau menjawab
apa lagi bermuafakat, kerana kau
selalu memikirkan kebersamaan itu
menutup jalanmu sendiri.
Aku belum menuduhmu
mata pedang ini masih menjunam
ke bumi. Sekalipun ada kesempatan
aku tak akan mempergunakan senjata ini.
Masih ada waktu air yang keruh
mengalir menjadi air jernih dan pelega musim
dahaga.
Ya, Rabbi, jangan aku melafazkan
kata di luar sempadan dan bertindak
kehilangan akal sekalipun sesaat
dan sukmaku mulai menganggapnya
musuh.
Aku masih membabat hari-hari luka
dan suara ini tak akan berhenti
kau tak akan dapat berdalih dan
berpura-pura dan menyepi menjadi
batu di bukit tinggi.
Antara kita tumbuh lalang dan
semak samun yang tebal. Mendatangimu
menunggu langit medung beralih.
Kota Kinabalu
30 March 2013
*AP Bebas Melata MELANTUN KASIH, EDITOR, Othman Ramli, Sarjana Media SDN BHD, 2013.
Thursday, 28 March 2013
Pengertian* (Cinta)
Memang alam pun ikut berubah
kalau sentuhan ini membuat kau
menukar haluan, memang segalanya
tiada yang akan kekal.
Kita mendahulukan
yang terlalu dekat di sukma
kalau hari ini kau menjauh
dan berdiam kerana waktu telah
berubah. Datang pergi satu
generasi bersama harapan dan cita-citanya.
Ketika kita berjauhan
kerinduan mengikat malam dan rembulan
lautan dan daratan, langit dan bumi.
Setelah aku di pinggir matamu
kau mulai merasa kepedihan
kedekatan itu jarak tapi bukan
pengikat sukmamu.
Terlalu dekat hanya
mengundang kepahitan.
Kesederhanaan itu
jalan pulang yang sebaiknya.
Kota Kinabalu
28 March 2013
kalau sentuhan ini membuat kau
menukar haluan, memang segalanya
tiada yang akan kekal.
Kita mendahulukan
yang terlalu dekat di sukma
kalau hari ini kau menjauh
dan berdiam kerana waktu telah
berubah. Datang pergi satu
generasi bersama harapan dan cita-citanya.
Ketika kita berjauhan
kerinduan mengikat malam dan rembulan
lautan dan daratan, langit dan bumi.
Setelah aku di pinggir matamu
kau mulai merasa kepedihan
kedekatan itu jarak tapi bukan
pengikat sukmamu.
Terlalu dekat hanya
mengundang kepahitan.
Kesederhanaan itu
jalan pulang yang sebaiknya.
Kota Kinabalu
28 March 2013
Wednesday, 27 March 2013
Ingatan orang kecil
Mereka telah mengatur barisan
duduk tersenyum seperti telah
meraih kemenangan.
Suaraku adalah suara orang kecil
melihatmu hati-hati sekalipun
adakalanya orang kecil keliru
melihat serigala disangka kambing.
Aku melihat wajah-wajah baru
dan lama ingin jadi pemimpin
kabilah. Sekalipun sukmanya
sangat mudah berubah musim.
Ingatan orang kecil sangat panjang
jiwanya ingin mesin perubahaan
biarkan tanah ini menaruh yakin
pada tiap langkah dan derap kakimu.
Kota Kinabalu
28 March 2013
duduk tersenyum seperti telah
meraih kemenangan.
Suaraku adalah suara orang kecil
melihatmu hati-hati sekalipun
adakalanya orang kecil keliru
melihat serigala disangka kambing.
Aku melihat wajah-wajah baru
dan lama ingin jadi pemimpin
kabilah. Sekalipun sukmanya
sangat mudah berubah musim.
Ingatan orang kecil sangat panjang
jiwanya ingin mesin perubahaan
biarkan tanah ini menaruh yakin
pada tiap langkah dan derap kakimu.
Kota Kinabalu
28 March 2013
Sekalipun Payah Diucapkan Salam* (Cinta)
Kau tidak seperti dulu
sepi dan ditinggalkan
sendirian.
Langit sirkah
berendam dalam desamu
kau menjadi pendiam.
Hari-hari adalah perhitungan
bunyi gong meredup
ditelan bumi.
Getaranmu teresap
warnamu kelabu
yang terlangkah tak
dapat diundurkan.
Akhirnya kau
membisu dan menyingkir
deru angin
dan ombak berguling
ke pantai, santai.
Sekarang
curiga mulai tumbuh
meliar ke dalam mimpi
dan di langit terluka.
Kita tak bertantang mata
ketika duduk minum
atau berpapasan.
Sekalipun payah
ia paksakan mengucap salam.
Kota Kinabalu
27 March 2013
sepi dan ditinggalkan
sendirian.
Langit sirkah
berendam dalam desamu
kau menjadi pendiam.
Hari-hari adalah perhitungan
bunyi gong meredup
ditelan bumi.
Getaranmu teresap
warnamu kelabu
yang terlangkah tak
dapat diundurkan.
Akhirnya kau
membisu dan menyingkir
deru angin
dan ombak berguling
ke pantai, santai.
Sekarang
curiga mulai tumbuh
meliar ke dalam mimpi
dan di langit terluka.
Kita tak bertantang mata
ketika duduk minum
atau berpapasan.
Sekalipun payah
ia paksakan mengucap salam.
Kota Kinabalu
27 March 2013
Monday, 25 March 2013
Berbaring di Tempat Tidur (Ketuhanan)
Kau merebahkan kepalamu ke atas bantal
perlahan kau melepaskan malam ke singgahsana
impian dunia melayang jauh hingga tangan tak
tergapai. Kau melihat bumbung rumah, tak berkata
apa-apa. Sekujur tubuh terdampar, merelakan segala.
Hanya sekujur tubuh tanpa selimut. Malam ini
adalah kekasih, kau tak akan aku biarkan pergi.
Biar kudakapmu sampai ke pagi murni.Jauhkan
api belerang yang meletus dari gunung. Aku tak
pernah memintamu datang sekalipun dalam igauan.
Kuperah malam, menitislah air dari pergunungan
sukmaku ini dalam ketandusan dan kemarau.
Kau jauh tapi terasa dekat, aku sekujur tubuh
yang terlentang di pembaringan. Aku memanggilmu.
Aku tak ingin telentang di sini, redhakan aku
mendakimu sampai ke anak tangga yang terakhir.
Sekalipun otot-otot kaki ini kejang namun aku masih
mendaki. Ada yang tak perlu dimengerti. Beruntung
kepada mereka, malamnya dikirimkan mimpi. Para
malaikat menjagaimu dan menurunkan rahmat.
Ruh-ruh jahat telah terbocor sarangnya. Mereka
berkeliaran mencari bumbung dan rumah baru
dan tersasar ke daerah-daerah perang. Keresahannya
telah mengendur dan nafasnya menurut. Di dalam
kegelapan ada keindahan, tapi tak perlu jin atau
mentera untuk menenteram suatu malam. Di
sekujur tubuh ini, ia lafazkan sebuah harapan.
Dari menara itu sekawan burung merpati terbang
berkawan ke arahnya. Azan bersahutan. Dalam
kegelapan ini didambakan sepotong syurga.
Aku ingin mengenggammu. Aduhai ruhaniku,
mari, di pintu gerbang yang terbuka ini, kita
memulakan langkah tanpa sangsi dan wasangka
tumbuh menjadi lumut di sukmamu. Aku adalah
kain kapas yang kembali ke tanah. Putih dan
lembut. Sendiri.
Kota Kinabalu
25 March 2013
*AP BBSS
perlahan kau melepaskan malam ke singgahsana
impian dunia melayang jauh hingga tangan tak
tergapai. Kau melihat bumbung rumah, tak berkata
apa-apa. Sekujur tubuh terdampar, merelakan segala.
Hanya sekujur tubuh tanpa selimut. Malam ini
adalah kekasih, kau tak akan aku biarkan pergi.
Biar kudakapmu sampai ke pagi murni.Jauhkan
api belerang yang meletus dari gunung. Aku tak
pernah memintamu datang sekalipun dalam igauan.
Kuperah malam, menitislah air dari pergunungan
sukmaku ini dalam ketandusan dan kemarau.
Kau jauh tapi terasa dekat, aku sekujur tubuh
yang terlentang di pembaringan. Aku memanggilmu.
Aku tak ingin telentang di sini, redhakan aku
mendakimu sampai ke anak tangga yang terakhir.
Sekalipun otot-otot kaki ini kejang namun aku masih
mendaki. Ada yang tak perlu dimengerti. Beruntung
kepada mereka, malamnya dikirimkan mimpi. Para
malaikat menjagaimu dan menurunkan rahmat.
Ruh-ruh jahat telah terbocor sarangnya. Mereka
berkeliaran mencari bumbung dan rumah baru
dan tersasar ke daerah-daerah perang. Keresahannya
telah mengendur dan nafasnya menurut. Di dalam
kegelapan ada keindahan, tapi tak perlu jin atau
mentera untuk menenteram suatu malam. Di
sekujur tubuh ini, ia lafazkan sebuah harapan.
Dari menara itu sekawan burung merpati terbang
berkawan ke arahnya. Azan bersahutan. Dalam
kegelapan ini didambakan sepotong syurga.
Aku ingin mengenggammu. Aduhai ruhaniku,
mari, di pintu gerbang yang terbuka ini, kita
memulakan langkah tanpa sangsi dan wasangka
tumbuh menjadi lumut di sukmamu. Aku adalah
kain kapas yang kembali ke tanah. Putih dan
lembut. Sendiri.
Kota Kinabalu
25 March 2013
*AP BBSS
Sunday, 24 March 2013
Mak Tua Membersihkan Bilis (Mama)
Tiap petang Mak Tua
duduk di atas lantai membuang
kepala ikan bilis dan perutnya.
Di depannya selonggok bilis
di atas surat khabar tua. Diam
dan sabar, Mak Tua membersihkan
bilis lalu masukkan ke dalam berkas.
Kepenatan kelihatan anak mata Mak Tua
tapi kehidupan ini tak boleh patah
semangat, berulang kali ia memberi
tahu pada anak-anaknya. Kita mesti
berjuang. Mak Tua jalan membongkok
sedikit dan perlahan.
Tidurnya sedikit. Ketika Mak Tua ini
merasa terlalu penat, ia tertidur
sambil tangan masih mengopak
bilis, sesekali tersedar, melihat
sekeliling dan memulai lagi.
Ia meneruskan pekerjaan tanpa
mengira rembulan telah jauh
di langit malam. Atau kereta
jiran pulang jauh malam berhenti
di tempat parkirnya.
Bilis telah dibersihkan,
fikirannya masih pada sambal,
telur dan menanak nasi dengan
santan.
Seperti solat, ketika masuk waktu,
Mak Tua terbangun sendiri. Membuat
Nasi lemak pun ada waktunya, di pagi
buta. Persiapan untuk dijual besok.
Mak Tua suka mendengar perkataan
esok. Kerana esok membawa
harapan dan penungguan hasil
jual dari hari ke hari.
Malam beredar, Mak Tua
Nasi Lemak ini masih senyap
di dalam kamar. Pekerja telah turun.
Pelajar jururawat di Country Height
bergegas keperhentian bus.
Di atas meja kedai makan
yang selalu mendapat tempahan
Nasi Lemak Mak Tua kosong
hari ini. Pelanggannya beratur
menunggu Nasi Lemak Mak Tua.
Kota Kinabalu
25 March 2013
*Antologi Puisi Kemerdekaan
Subscribe to:
Posts (Atom)