This collection of poetry is the work of Sabahuddin Senin. All the poems are copyright of the poet. Any publication must get permission from the poet. Most of the poems are written in the Malay language. Sabahuddin Senin is a writer from East Malaysia, Sabah.He studied at the Universiti Sains Malaysia, Penang, NIDA, University New South Wales and the Australian National University, Canberra. He spends most of his time in Malaysia, Australia and Solomon Islands. 13th April, 2011
Tuesday, 28 August 2012
Nusantara (Boat People)
Masa silam itu telah tenggelam ke dasar lautan
Pulau Bidung, bualan terserempak dan sindiran
Lautan China Selatan, Lautan Pasifik atau laut
Afrika, jalan masuk ke benua Southern Cross
dan Eropah raya memburu impian dunia baru.
Ketika orang politik berhujah, mengirim armada
dan menembak tepat ke jantung pendatang malam.
Tiap hari mereka bergembar-gembor menabur
benci menjolok kedamaian langit dan samudera
lautan. Datang berita di lautan akan didirikan
rumah kaca, Pusat Penahanan baru, kerana perang
masih, regim diktator bergayut pada dahan dan
tanah sejengkal di hari-hari terakhir. Malam makin
panjang, Nusantara, pintu-pintu masuk ke benua
baru. Kau telah diberinama Pendatang haram,
Boat People, pendatang malam tanpa dokumen.
Ketika taufan lautan menenggelamkanmu, biru
laut menjadi kain kafanmu. Kau tumbuh sebagai
bunga Carol. Nusantara menjadi tebingmu berpaut.
Canberra
Ogos, 2012
Monday, 27 August 2012
Mimpi (Boat People)
Ada berita dari kejauhan
samudera masih bergelora
langit tenang cepat bertukar
wajahmu Pasifik tetap ramah
desir angin masa silam lembut
pulau-pulau dan pantaimu
menggoda masa silam dan
penumpang malam mencari
benua baru sekalipun ia harus
menantang maut dan akal licik.
Perang masih meletus di daerah-
daerah jauh di pusat bumi.
Angin kering datang membawa
ratusan dan malah ribuan kaki-
kaki longlai dan rambut kusut
mencari suaka. Di pulau ini,
penduduknya sibuk mengganti
atap sekolah lama, membongkar
dan mendirikan Pusat Penahanan
yang baru, kayu dari hutan jati
kepulauan Pasifik. Dulu, ia adalah
sekolah dalam serba kekurangan.
Penumpang malam yang pernah
bermukim di situ gelisah setiap
malam tiba. Jelas, mereka tak
pernah bermimpi dan harapannya
selalu terperoyok dan mati akal.
Sekarang akan dibuat sedemikian
hingga penumpang malam bisa
bermimpi dan menembus harapan.
Canberra
2012
samudera masih bergelora
langit tenang cepat bertukar
wajahmu Pasifik tetap ramah
desir angin masa silam lembut
pulau-pulau dan pantaimu
menggoda masa silam dan
penumpang malam mencari
benua baru sekalipun ia harus
menantang maut dan akal licik.
Perang masih meletus di daerah-
daerah jauh di pusat bumi.
Angin kering datang membawa
ratusan dan malah ribuan kaki-
kaki longlai dan rambut kusut
mencari suaka. Di pulau ini,
penduduknya sibuk mengganti
atap sekolah lama, membongkar
dan mendirikan Pusat Penahanan
yang baru, kayu dari hutan jati
kepulauan Pasifik. Dulu, ia adalah
sekolah dalam serba kekurangan.
Penumpang malam yang pernah
bermukim di situ gelisah setiap
malam tiba. Jelas, mereka tak
pernah bermimpi dan harapannya
selalu terperoyok dan mati akal.
Sekarang akan dibuat sedemikian
hingga penumpang malam bisa
bermimpi dan menembus harapan.
Canberra
2012
Wednesday, 22 August 2012
Pertanyaan di Pusat Penahanan (Boat People)
"Tabik Ofsir,
pertanyaanmu begitu terus terang
dan sangat sistematik."
Sehina dan semiskin
kau masih bisa memanggil
bumi ini tanah lelohormu.
Di sini, kau dilahirkan dan beri nama
dari bangsa yang beradab.
"Negaraku, ofsir, hanya sekeping kertas
telah hanggus
daftar namaku ikut menjadi abu."
"Dulu, sungai itu penuh air
sepotong kegembiraan kami.
Sekarang tohor dan berlumpur."
"Lihat,
ikan-ikan bergeseran dan menggelepar
mencari alir keluar, terperangkap.
Itulah kami.
Maut meloncat di sana sini."
Segala bukan rahsia:
penyataan kami ikut meminggir
dari mulut-mulut mereka keluar
raksasa: tak terkawal
memuntahkan api belerang.
Inferno.
Itulah negaraku
terlalu berat mengaku
kebiadapan yang nyata.
"Tabik ofsir, sekarang, aku
tanpa negara, tanpa wajah.
Kotaku telah ranap
udara menuba.
Jasad dan sukma ini,
kehormatan yang tinggal."
Canberra
23 Ogos, 2012
pertanyaanmu begitu terus terang
dan sangat sistematik."
Sehina dan semiskin
kau masih bisa memanggil
bumi ini tanah lelohormu.
Di sini, kau dilahirkan dan beri nama
dari bangsa yang beradab.
"Negaraku, ofsir, hanya sekeping kertas
telah hanggus
daftar namaku ikut menjadi abu."
"Dulu, sungai itu penuh air
sepotong kegembiraan kami.
Sekarang tohor dan berlumpur."
"Lihat,
ikan-ikan bergeseran dan menggelepar
mencari alir keluar, terperangkap.
Itulah kami.
Maut meloncat di sana sini."
Segala bukan rahsia:
penyataan kami ikut meminggir
dari mulut-mulut mereka keluar
raksasa: tak terkawal
memuntahkan api belerang.
Inferno.
Itulah negaraku
terlalu berat mengaku
kebiadapan yang nyata.
"Tabik ofsir, sekarang, aku
tanpa negara, tanpa wajah.
Kotaku telah ranap
udara menuba.
Jasad dan sukma ini,
kehormatan yang tinggal."
Canberra
23 Ogos, 2012
Tuesday, 21 August 2012
Banyak Hal Tak terduga (Boat People)
Banyak hal tak terduga
datang dalam diam dan senyap
tanpa sedar terasa terhukum.
Tanah kasih sayang ini
berubah menjadi kubu-kubu
dalam peralihan waktu.
Ketenanganmu telah
mengepul hilang
dalam udara kering.
Ketika terpulas
ia membanting terus
bualnya: dari degung lalat
menjadi letusan api
menyala
dan tak dapat dipadam.
Tangismu
seperti mericah
di anak mata.
Bencana
tercium di udara
langkahmu
makin kendur
sempadan menjauh.
Gerbang kota purba itu
teruji sekali lagi
oleh ribut angin.
Bagai bumimu
kehilangan mentari
malam pula kehilangan
rembulan.
Kau hanyut
bagai debu diterbangkan
angin
menjadi penumpang malam
mencari suaka
terdampar di Pusat Penahanan.
Honiara
22 Ogos 2012
datang dalam diam dan senyap
tanpa sedar terasa terhukum.
Tanah kasih sayang ini
berubah menjadi kubu-kubu
dalam peralihan waktu.
Ketenanganmu telah
mengepul hilang
dalam udara kering.
Ketika terpulas
ia membanting terus
bualnya: dari degung lalat
menjadi letusan api
menyala
dan tak dapat dipadam.
Tangismu
seperti mericah
di anak mata.
Bencana
tercium di udara
langkahmu
makin kendur
sempadan menjauh.
Gerbang kota purba itu
teruji sekali lagi
oleh ribut angin.
Bagai bumimu
kehilangan mentari
malam pula kehilangan
rembulan.
Kau hanyut
bagai debu diterbangkan
angin
menjadi penumpang malam
mencari suaka
terdampar di Pusat Penahanan.
Honiara
22 Ogos 2012
Aid Mubarak Dalam Sederhana. (Ramadan)
Tahun ini
seperti tahun sebelumnya
tak ada foto, yang ada
segulung kenangan
hidangan sederhana
tanpa resepi
cuma ada teman
dapat berbual lama
dan diajak makan.
Di langit petang
ada anak bulan
menitip salam
Eid Mubarak.
Alam tenang,
seadanya,
tanpa ada kejutan
atau kelebihan
pada warna
dan kelip cahaya.
Kesederhanaan
dalam langkah
dan perbualan.
Kesederhanaan
dalam kata
dan kalimat.
Honiara
Solomon Islands
22 Ogos 2012
seperti tahun sebelumnya
tak ada foto, yang ada
segulung kenangan
hidangan sederhana
tanpa resepi
cuma ada teman
dapat berbual lama
dan diajak makan.
Di langit petang
ada anak bulan
menitip salam
Eid Mubarak.
Alam tenang,
seadanya,
tanpa ada kejutan
atau kelebihan
pada warna
dan kelip cahaya.
Kesederhanaan
dalam langkah
dan perbualan.
Kesederhanaan
dalam kata
dan kalimat.
Honiara
Solomon Islands
22 Ogos 2012
Monday, 20 August 2012
Mimpi Isteri (Boat People)
Dari udara ia seperti pohon mati kelabu
yang hanggus dan mimpi-mimpnya tersepak
seperti bola di kaki anak-anak jalanan.
Di pinggir kota, tiap rembulan penuh
matanya selalu tertuju ke arah pintu
menunggu salam pendatang malam pembawa rahmat.
Anaknya telah tumbuh ikut menempel kota purba
ketika kota berubah ia ikut bersama longgokan sampah.
Ia melihat suaminya dalam mimpi, berdiri dan melambai
di atas sejengkal tanah di sekelilingi air
suaranya tengggelam timbul tak jelas.
Sebelum bual mereka habis sebuah gelombang
setinggi bukit bergulung ke arahnya. Terlalu besar.
Canberra
yang hanggus dan mimpi-mimpnya tersepak
seperti bola di kaki anak-anak jalanan.
Di pinggir kota, tiap rembulan penuh
matanya selalu tertuju ke arah pintu
menunggu salam pendatang malam pembawa rahmat.
Anaknya telah tumbuh ikut menempel kota purba
ketika kota berubah ia ikut bersama longgokan sampah.
Ia melihat suaminya dalam mimpi, berdiri dan melambai
di atas sejengkal tanah di sekelilingi air
suaranya tengggelam timbul tak jelas.
Sebelum bual mereka habis sebuah gelombang
setinggi bukit bergulung ke arahnya. Terlalu besar.
Canberra
Sunday, 19 August 2012
Pulang (Boat People)
Berapa musim telah berlalu
awal syawal di langit
sungai Tigris dan Euphrates
tak berubah cuma airnya kurang.
Terasa hujan menitis
pada siang jerebu
aku pulang dan
menciummu, Mesopotamia.
Semalam aku telah berlari
menyongsong angin
-sepantas kuda
menerjang ke depan
tanpa sempadan,
menerobos ke dalam lautan
menipis ke samudera langit
berteduh di rembulan
turun dalam cahaya
di kepulauan pasifik.
Tak perlu keramaian
di lapangan terbang.
Dari telefon lalu turun
ke mulut sampai
ke gerbang kota purba.
Gazelku,
kesabaranmu,
telah hijau
dalam matamu
mata yang tak pernah meminta.
Aku telah membunuh
raksasa itu
dan sekarang,
aku pulang kepadamu.
Canberra
20 Ogos, 2012
Subscribe to:
Posts (Atom)