Tahun 2012
melangkah seperti yang lain
bunga-bunga doa kembang sejagat.
Kekasih berkirim khabar
langit dan bumi kumasih
mendambakanmu.
Honiara
This collection of poetry is the work of Sabahuddin Senin. All the poems are copyright of the poet. Any publication must get permission from the poet. Most of the poems are written in the Malay language. Sabahuddin Senin is a writer from East Malaysia, Sabah.He studied at the Universiti Sains Malaysia, Penang, NIDA, University New South Wales and the Australian National University, Canberra. He spends most of his time in Malaysia, Australia and Solomon Islands. 13th April, 2011
Monday, 2 January 2012
Waktu (Suasana)*
Waktu
mengalir lembut
tenang dan perkasa
di riba Kekasih.
Waktu silam
bergerak menjauh
jadi kerdip
bintang pada
malam tafakur.
Waktuku
berkepak
melayang pada
pusar angin.
Di sini
kita masih bercanda
kelangsungan waktu
yang rela.
Honiara
3 Januari 2012
mengalir lembut
tenang dan perkasa
di riba Kekasih.
Waktu silam
bergerak menjauh
jadi kerdip
bintang pada
malam tafakur.
Waktuku
berkepak
melayang pada
pusar angin.
Di sini
kita masih bercanda
kelangsungan waktu
yang rela.
Honiara
3 Januari 2012
Sunday, 18 December 2011
Sepotong Lidah (Pasifik)
aku duduk memesan semangkok
sup lidah.
Duduk di sebelah meja
juga memesan sup lidah.
Resepi kampung
mengundang selera.
Di sini orang jauh, drebar teksi, bus
dan orang ofis menjamu selera
mereka makan berkeringat
restoran di pinggir jalan kota.
Tukang masak terbaik
mengauli rempah
cukup dengan takarannya.
Alahai, sepotong lidah
lembut tak bertulang
kuah seribu rempah.
Aku senyum menatap
teman pelanggan makan
kerana selera kami akur..
Ya, sepotong lidah
betah berzikir
lidah orang yang soleh
lidah tak pandai mengata.
Segumpal daging,
sup lidah semangkok penuh
di depan meja.
mataku tak gusar
liur menitis dan meneguk puas.
Teman makan menghirup
ia puas.
Bagaimana sepotong lidah
dari lidah berzikir
lidah tak habis mengata
asalnya lidah!
Kuhirup sup lidah
sambil mata
rasa bersalah
dan bimbang.
Makan saja
mengapa berfikir begitu
inikan lidah yang sudah dihiris-hiris
lidah lembu betina.
Kutatap mata
teman sebelah
keringatnya menitis
ke dalam mangkok
sup lidah
kuahnya tohor
dan tak habis-habis
bersendawa.
Honiara
19 Disember 2011
Friday, 16 December 2011
Adil*(ITBM)
Yang adil itu menawan
pada fikir dan tindakan
sekalipun harus menyingkir
memberi jalan.
Di pohon kehidupan
ia bergoyotan dari dahan ke dahan
melambung ke udara sepantas kilat
Ketika rimbanya dibakar hanggus
ia tersingkir dan sesat.
Yang adil itu
pasti meraih kemenangan
kebenaran tak mungkin
dapat didiamkan.
Honiara
17 Disember 2011
*ITBM
pada fikir dan tindakan
sekalipun harus menyingkir
memberi jalan.
Di pohon kehidupan
ia bergoyotan dari dahan ke dahan
melambung ke udara sepantas kilat
Ketika rimbanya dibakar hanggus
ia tersingkir dan sesat.
Yang adil itu
pasti meraih kemenangan
kebenaran tak mungkin
dapat didiamkan.
Honiara
17 Disember 2011
*ITBM
Anjung Zikir (Pasifik)
Apa nak kau katakan
si burung merak
aku pun tak ada selera
untuk berbual bicara
lebih baik menikmati
lazatnya sebiji mangga.
Pulau ini, telah
lama sendiri di laut biru
dolpin kejar-mengejar
kegirangan di desa Losiolen.
Hujan telah berhenti
rahsia langit tersingkap
hati yang mendambakan.
Di perladangan subur
kita sabar meraih hasilnya
air mengalir
resah tanah digenapkan.
Honiara
16 Disember 2011
*AP Volume 1, 2013
si burung merak
aku pun tak ada selera
untuk berbual bicara
lebih baik menikmati
lazatnya sebiji mangga.
Pulau ini, telah
lama sendiri di laut biru
dolpin kejar-mengejar
kegirangan di desa Losiolen.
Hujan telah berhenti
rahsia langit tersingkap
hati yang mendambakan.
Di perladangan subur
kita sabar meraih hasilnya
air mengalir
resah tanah digenapkan.
Honiara
16 Disember 2011
*AP Volume 1, 2013
Thursday, 15 December 2011
Bangkit (Ketuhanan)
Anak matanya masih menatap dedaunan hari melayang jatuh di depan ribanya
rambutnya kusut-masai tapi ia mengenal rupa, bentuk dan warna, igau suara perindu
Di kamar itu impiannya ikut bersama, jiwanya pasrah pada senandung malam kenangan
kalau ditanya mengapa jadi begini, terpulas dan menyerah sebelum berperang
ia memilih diam tanpa aksi dan pergelutan, degut nafasnya menurun, laila majnun.
Suara itu datang berbisik,'bangunlah, siang datang memberi salam,
tinggalkan kerudung malam.' Dari setitik cahaya jadi bola mentari yang terpencar
aku cinta pada-Mu, wahai kehidupan, katanya perlahan. Selamat tinggal terowong gelap yang panjang.
Honiara
16 Disember 2011
* ITBM
Tenanglah, Pulau Christmas (Boat People)
Mata suaminya memandang laut lepas
tunduk, perlahan mendongak wajah ke langit dan menarik nafas.Sayang, tiada jalan pulang. langkahmu ke dalam kapal
barangkali langkah kita yang terakhir.
Pecah ombak berdebur berulang-ulang
di malam penentuan.
Ketenangan dan manis kata malam pengantin
penghibur di malam petualang.
Anak perampuan menggenggam tangan ibu
bagai tak ingin melepaskannya.
Senja luluh di telapak hati
pertarungan pun siap menuntut korban.
Diciumnya dahi isterinya
dirangkulnya anak perampuan
tiada lagi kata-kata buaian
langit menyimpan rahsia esok.
Sepi. Barangkali malam menelur harapan
menghadang laut ke benua baru.
Manisku, Tak jauh lagi kita mendekati pantai
lihatlah, kelip cahaya Pulau Christmas
mereka masih berendam dalam mimpi
tidur anak, tenanglah jiwa.
Lenggang kapal melucur jauh
lenggang doa tali yang tersimpul.
Di lereng bukit Pulau Christmas
ia berdiri,
anak perampuan disampingnya
memandang pada batu-batu karang
hempas ombak datang bergulung-gulung.
Malam pelarian, lucur waktu
maut datang berkepak.
Janda manis berbisik sendiri
memang kau suami yang baik, aku kehilanganmu.
Amanlah kau di sana.
Honiara
15 Disember 2011
Subscribe to:
Posts (Atom)