Intan.
hamparan sutera,
kelopak mayang di taman.
Zamrud.
Keindahan, makna,
rahsia sebuah ujian.
Delima merah.
Terpaut di dahan senja,
mekar rasa.
Nilam.
Perutusan berpulang,
merenung dan akur.
Dari-Mu
tersingkap makna
dalam kandungan waktu.
Canberra
13 Jun 2011
*AP Volume 1, 2013
This collection of poetry is the work of Sabahuddin Senin. All the poems are copyright of the poet. Any publication must get permission from the poet. Most of the poems are written in the Malay language. Sabahuddin Senin is a writer from East Malaysia, Sabah.He studied at the Universiti Sains Malaysia, Penang, NIDA, University New South Wales and the Australian National University, Canberra. He spends most of his time in Malaysia, Australia and Solomon Islands. 13th April, 2011
Monday, 13 June 2011
Haqiqah (Ketuhanan)(Suasana)*
Bayi
manisnya
dalam buian,
kasih Halimah,
titian sejagat,
menyerahkan rembulan
di telapak tangan.
Ya Maulana,
kendi ini di tenda
masih penuh
dan manis bening.
Menggali
ke dalam malam
rahsia kelahiran
sebutir bintang.
Aku sebuah pasu
air dan api
pada segenggam
tanah.
Canberra
13 Jun 2011
manisnya
dalam buian,
kasih Halimah,
titian sejagat,
menyerahkan rembulan
di telapak tangan.
Ya Maulana,
kendi ini di tenda
masih penuh
dan manis bening.
Menggali
ke dalam malam
rahsia kelahiran
sebutir bintang.
Aku sebuah pasu
air dan api
pada segenggam
tanah.
Canberra
13 Jun 2011
Saturday, 11 June 2011
Lenggang Gelombang (Boat People)
Lenggang gelombang,
tari angin gundah
kapal tua sarat air
pantaimu berselindung.
Suara tersekat di tenggorok
lambaian kami
sebuah titik di samudera.
Kami sosok tubuh tanpa wajah
kami segenggam tanah di dalam laut.
Gelombang udara mengepul ke atas
matahari berkaca, hening
debur ombak dan deru angin menjauh
degup jantung meredup, perlahan ke dasar gelap,
rimba laut.
Kami tak melambai lagi.
Tiada requiem dan ghaib jenazah
tiada upacara
selamat datang dan kalungan bunga
atau tepuk sorak.
Kau tak perlu berkata kesat
di sini kami
tanpa pagar dan bilik kurungan.
Doa kami lagu sejagat
kemanusiaan terhakis.
berdirilah, berdoa dalam senyap
kami, boat people,
bermakam di samudera.
Canberra
12 Jun 2011
tari angin gundah
kapal tua sarat air
pantaimu berselindung.
Suara tersekat di tenggorok
lambaian kami
sebuah titik di samudera.
Kami sosok tubuh tanpa wajah
kami segenggam tanah di dalam laut.
Gelombang udara mengepul ke atas
matahari berkaca, hening
debur ombak dan deru angin menjauh
degup jantung meredup, perlahan ke dasar gelap,
rimba laut.
Kami tak melambai lagi.
Tiada requiem dan ghaib jenazah
tiada upacara
selamat datang dan kalungan bunga
atau tepuk sorak.
Kau tak perlu berkata kesat
di sini kami
tanpa pagar dan bilik kurungan.
Doa kami lagu sejagat
kemanusiaan terhakis.
berdirilah, berdoa dalam senyap
kami, boat people,
bermakam di samudera.
Canberra
12 Jun 2011
Terima Kasih (Boat People)
Aku tak punya tenda memanggilmu bertamu
ranggi langit terbang dibawa angin
jauh pada pucuk gelombang
membawamu ke pantai benua teduh.
Manis katamu, mententeramkan taufan laut
sejak rembulan kabur, rumah itu telah dikosongkan
orang terasing di tanah asing minta suaka
Tuhan, Engkau tetap ramah.
Kepadamu, pedal waktu itu taufik mengalir
mayang siang, kasih sayang sesama
di sini, ada juga kemanusiaan terjabar
tanpa minta datang menghidang.
Canberra
11 Jun 2011
ranggi langit terbang dibawa angin
jauh pada pucuk gelombang
membawamu ke pantai benua teduh.
Manis katamu, mententeramkan taufan laut
sejak rembulan kabur, rumah itu telah dikosongkan
orang terasing di tanah asing minta suaka
Tuhan, Engkau tetap ramah.
Kepadamu, pedal waktu itu taufik mengalir
mayang siang, kasih sayang sesama
di sini, ada juga kemanusiaan terjabar
tanpa minta datang menghidang.
Canberra
11 Jun 2011
Friday, 10 June 2011
Masapol, Nenek Pulang Kampung (Mama)
Kerisik kaki nenek tua menuruni jalan bukit
langit menitis doa, tabik burung terbang melintas
di sini, wajahnya tersenyum lagi, salam pada pohon getah,
nenek pulang kampung, sabar alam menunggu.
'Assalamualaikum,' kata nenek membuka pintu
air masih dalam tempayan, minyak kerosen di penjuru
nenek pulang kampung, sekarang bukan musim buah
langit malam masih mengirim mimpi.
Air melimpah, hujan turun sebagai kekasih
kerinduan bukit dan lambaian pohon bambu
air paya bergenang sampai ke pinggang
gelegar jambatan bambu telah hanyut
tapi nenek pulang kampung, hatinya puas.
Tanah sejengkal, satu musim buah berlalu
ia terpegun cengkerama orang kota
selama itu tidurnya tak pernah mekar bunga
kini nenek pulang kampung, tumis pakis ikan kering
semalam hujan lagi, rahmat tujuh tempayan penuh.
Canberra
11 Jun 2011
langit menitis doa, tabik burung terbang melintas
di sini, wajahnya tersenyum lagi, salam pada pohon getah,
nenek pulang kampung, sabar alam menunggu.
'Assalamualaikum,' kata nenek membuka pintu
air masih dalam tempayan, minyak kerosen di penjuru
nenek pulang kampung, sekarang bukan musim buah
langit malam masih mengirim mimpi.
Air melimpah, hujan turun sebagai kekasih
kerinduan bukit dan lambaian pohon bambu
air paya bergenang sampai ke pinggang
gelegar jambatan bambu telah hanyut
tapi nenek pulang kampung, hatinya puas.
Tanah sejengkal, satu musim buah berlalu
ia terpegun cengkerama orang kota
selama itu tidurnya tak pernah mekar bunga
kini nenek pulang kampung, tumis pakis ikan kering
semalam hujan lagi, rahmat tujuh tempayan penuh.
Canberra
11 Jun 2011
Terkenang (Buat AKI)
Kekadang terpergap sedang sendiri minum teh menonton tv
ingatan hinggap bagai burung cemar di bawah pohon cemara
wajah itu indah menjelma lalu menipis hilang jadi teka-teki
mengenangkan pertemuan, mencium bau dan mentari bersimbah.
Kekadang datang dalam mimpi lalu aku termangu
memburu mimpi agar digenggam kembali, sirna
antara keramaian dan keriuhan di taman sebuah kota
terkenang melihat seseorang yang telah tiada
tapi, malam ini aku mengenangkanmu.
Canberra
10 Jun 2011
*Novelis Achdiat K Mihardja Meninggal 99 Tahun
ingatan hinggap bagai burung cemar di bawah pohon cemara
wajah itu indah menjelma lalu menipis hilang jadi teka-teki
mengenangkan pertemuan, mencium bau dan mentari bersimbah.
Kekadang datang dalam mimpi lalu aku termangu
memburu mimpi agar digenggam kembali, sirna
antara keramaian dan keriuhan di taman sebuah kota
terkenang melihat seseorang yang telah tiada
tapi, malam ini aku mengenangkanmu.
Canberra
10 Jun 2011
*Novelis Achdiat K Mihardja Meninggal 99 Tahun
Thursday, 9 June 2011
Salam Terakhir (Boat People)
Di pinggir kota, siang ini, sejarah berbisik, bertenda di langit biru
pada selokan, di pinggir tebing, laut keruh, kapal tua ini akan teruji
satu berganda dua berganda empat berganda lapan mengulang ganda
senja sirkah, sosok tubuh berhimpit, diam, sesekali terdengar bisik ibu.
Bunyi enjin kapal tua berhanyut jauh ke dalam gelombang laut
malam berlenggang, beburung mimpi pun terbang menjauh
taman waktu terapong dipukul angin lalu tenggelam timbul
air mulai memasuki dek, seekor burung laut hinggap.
Di antara gelombang laut, kapal tua sarat, degup jantung
suara-suara itu berbaur, dalam riuh angin, debur laut
tenggelam dalam patah-patah sayap doa, hening.
'Peduli apa, rasakan, mampus kamu.' katanya sambil membaca .
Ketika laut teduh, langit tenang, di sebuah pesisir pantai
pendatang tanpa wajah menunggu, sambil mata melihat tanah seberang.
Canberra
9 Jun 2011
pada selokan, di pinggir tebing, laut keruh, kapal tua ini akan teruji
satu berganda dua berganda empat berganda lapan mengulang ganda
senja sirkah, sosok tubuh berhimpit, diam, sesekali terdengar bisik ibu.
Bunyi enjin kapal tua berhanyut jauh ke dalam gelombang laut
malam berlenggang, beburung mimpi pun terbang menjauh
taman waktu terapong dipukul angin lalu tenggelam timbul
air mulai memasuki dek, seekor burung laut hinggap.
Di antara gelombang laut, kapal tua sarat, degup jantung
suara-suara itu berbaur, dalam riuh angin, debur laut
tenggelam dalam patah-patah sayap doa, hening.
'Peduli apa, rasakan, mampus kamu.' katanya sambil membaca .
Ketika laut teduh, langit tenang, di sebuah pesisir pantai
pendatang tanpa wajah menunggu, sambil mata melihat tanah seberang.
Canberra
9 Jun 2011
Subscribe to:
Posts (Atom)