This collection of poetry is the work of Sabahuddin Senin. All the poems are copyright of the poet. Any publication must get permission from the poet. Most of the poems are written in the Malay language. Sabahuddin Senin is a writer from East Malaysia, Sabah.He studied at the Universiti Sains Malaysia, Penang, NIDA, University New South Wales and the Australian National University, Canberra. He spends most of his time in Malaysia, Australia and Solomon Islands. 13th April, 2011
Thursday, 8 March 2018
Gempa* (Puisi suasana)
Apa gerangan gempa semalam
ketika sepi berlabuh
kau datang dengan gegaran
kalbumu sarat bertanya.
Apa gerangan gempa semalam
walaupun sesaat mengundang panik
dan menggangu ketenangan
pada sebuah lembah di tepi gunung.
Apa gerangan gempa semalam
isyarat samawi menyingkap
rahsia kini menjadi jelas
keyakinan pada sebuah kebenaran.
Apa gerangan gempa semalam
di mata rohanimu
kau lihat peringatan
turunnya siang yang menawan.
Kota Marudu
9 March 2018
*disiarkan oleh Utusan Borneo 11 March 2018
Wednesday, 7 March 2018
Syria Mencari Damai*
Syria, bumi menjadi lelah
debu-debu perang masih bertebaran
mimpi-mimpi damai seperti
terbawa ke lorong gelap panjang.
Syria, kau makin kosong
tiap mata mencari tempat berlindung
burung-burung telah terbang menjauh
dan tak pulang.
Syria, kesabaranmu telah teruji
sampai pada puncaknya
resahmu mengirim gelombang
sampai ke penjuru dunia baru.
Syria, tangis anak-anak belum redah
hari-hari kau mencari sempadan
tanah seberang masih terlalu jauh
suara-suaramu hilang dalam ribut pasir.
Syria, pada samawi kau tak pernah kendur
ruh dan kekuatan membawamu pulang
ketenangan dalam doa-doamu
datangnya musim semi.
Kota Marudu
March 2018
debu-debu perang masih bertebaran
mimpi-mimpi damai seperti
terbawa ke lorong gelap panjang.
Syria, kau makin kosong
tiap mata mencari tempat berlindung
burung-burung telah terbang menjauh
dan tak pulang.
Syria, kesabaranmu telah teruji
sampai pada puncaknya
resahmu mengirim gelombang
sampai ke penjuru dunia baru.
Syria, tangis anak-anak belum redah
hari-hari kau mencari sempadan
tanah seberang masih terlalu jauh
suara-suaramu hilang dalam ribut pasir.
Syria, pada samawi kau tak pernah kendur
ruh dan kekuatan membawamu pulang
ketenangan dalam doa-doamu
datangnya musim semi.
Kota Marudu
March 2018
Saturday, 3 March 2018
Suaramu tak berhenti di pojokan*(Puisi Suasana)
Suaramu tak berhenti di pojokan
samawi telah mengirim isyarat
dan makin dekat pada bumi
gerhana berlalu purnama pada samawi.
Bulan khalis malam tawajuh
kalammu tak pernah berhenti
khazanah abadi rahsia tersingkap
kasih sayang-Mu dalam ribuan tanda.
Aku datang dan menyerah
di Mehzab-Mu sebagai domba
dan siap dikorbankan
tanpa bertanya dan undur.
Kota Marudu
4 March 2018
Musim Bunga Syria*
apakah kata-kata buat kau mengerti
hentikan perang dan mulai rundingan damai
tiap saat bumi leluhurmu
rata menjadi runtuhan debu
mimpi gerun yang ngeri
maut berjatuhan
Syria, kota-kotamu kosong
ke mana perginya jiran dan sahabat
jalan-jalan sepi
keramaian telah bertukar kuburan
kau bertanya sendiri
apa telah terjadi
dendam meregut kasih bangsamu
tiap mata memandang curiga
tiap pintu seperti telah tertutup
jalan pulang bukan pilihan
kau masih rindukan
musim bunga tahun ini.
Kota Marudu
4 March 2018
hentikan perang dan mulai rundingan damai
tiap saat bumi leluhurmu
rata menjadi runtuhan debu
mimpi gerun yang ngeri
maut berjatuhan
Syria, kota-kotamu kosong
ke mana perginya jiran dan sahabat
jalan-jalan sepi
keramaian telah bertukar kuburan
kau bertanya sendiri
apa telah terjadi
dendam meregut kasih bangsamu
tiap mata memandang curiga
tiap pintu seperti telah tertutup
jalan pulang bukan pilihan
kau masih rindukan
musim bunga tahun ini.
Kota Marudu
4 March 2018
Anak Syria*
aku telah melangkahi sempadan
tanpa menoleh ke belakang
kalian telah kutinggalkan
langit gurun musim dingin.
ma, aku telah tiba di sini
tanpa kau bersama
kakak, katamu, pelangi turun
dan doamu terkabul.
di dalam tas kertas ini
ma, dan kakak masih
kubawa bajumu
ke mana saja belahan dunia.
Kota Marudu
4 March 2018
Friday, 2 March 2018
Perang Syria*
ribut perang masih berlinggar di langitmu
korban berjatuhan di segala penjuru
tangismu telah kering dan
suaramu hilang dalam panik.
usah kau tanya anak siapa yang terkorban
di lapangan ini bergelimpangan mayat
nama dan asalnya tak ditanyakan
jumlah korban makin meningkat.
di bumi leluhurmu parah
perang tak selesai
pintu jalan keluar
seperti telah tertutup
yang membaca dan mendengar
tentangmu berdiam diri dan
tak tau hendak berbuat apa
malam gelap makin panjang.
kedamaian seperti tak terjangkau
harapan menipis dalam angan-angan
tapi kau masih berdoa
datangnya cahaya menghalau kegelapan.
Kota Marudu
March 2018
korban berjatuhan di segala penjuru
tangismu telah kering dan
suaramu hilang dalam panik.
usah kau tanya anak siapa yang terkorban
di lapangan ini bergelimpangan mayat
nama dan asalnya tak ditanyakan
jumlah korban makin meningkat.
di bumi leluhurmu parah
perang tak selesai
pintu jalan keluar
seperti telah tertutup
yang membaca dan mendengar
tentangmu berdiam diri dan
tak tau hendak berbuat apa
malam gelap makin panjang.
kedamaian seperti tak terjangkau
harapan menipis dalam angan-angan
tapi kau masih berdoa
datangnya cahaya menghalau kegelapan.
Kota Marudu
March 2018
Tuesday, 12 December 2017
Malam di Baitul Maqdis*
Kau berjalan dalam terowong gelap
laluan ini makin menguji sabar
malammu tergangu
komet meletus dan hadir dalam mimpimu.
Tiap kezaliman kauhadapi
bintangmu tidak akan pudar
malam digenggam dengan tawajuh
doamu menembusi pintu samawi.
Gunungmu tetap bertahan
suaramu tidak akan dapat dihalang
sekalipun mereka mendirikan tembuk
dalam kekurangan Dia akan mengenapkan
kau tidak akan merampas
tanah leluhur
kekerasan samasekali tidak akan
mendiamkan kami
kebijaksanaan akan membawa
siangmu sampai datangnya fajar.
Baitul Maqdis
kalau tidurmu kurang
sejak hari-hari belakangan ini
kau tidak akan gusar dan bimbang
kemenanganmu adalah membebaskan diri
dari nafsu amarah musuh.
Damailah, tiap langkahmu
penuh hikmah dan
kau makin kebal dengan
siasah di tengah malam.
Demi kemenangan hari-hari
esok pasti datang dengan cahaya .
Subscribe to:
Posts (Atom)