Kau telah meninggalkan Arakan
masih bau hutan dan hujan
masin lautan dan matari siang
berlinggar dalam ingatanmu.
Bumi leluhurmu hidup
dalam impianmu
kau telah menyeberangi
sempadan masuk dari
satu negara ke negera lain.
Di sini kau meraih
tangan-tangan kasih
dan wajah-wajah manis
kepedihanmu telah
mengetar tali kecapi hati.
Penderitaan Rohingya
harus dihentikan
pintu kasih sayang
terbuka luas
purnama penuh datang
dalam mimpimu
membebaskanmu
dari kegelapan majnun.
Kuala Lumpur
This collection of poetry is the work of Sabahuddin Senin. All the poems are copyright of the poet. Any publication must get permission from the poet. Most of the poems are written in the Malay language. Sabahuddin Senin is a writer from East Malaysia, Sabah.He studied at the Universiti Sains Malaysia, Penang, NIDA, University New South Wales and the Australian National University, Canberra. He spends most of his time in Malaysia, Australia and Solomon Islands. 13th April, 2011
Wednesday, 18 January 2017
Tanah Leluhur Arakan (Rohingya)*
Kesabaranku terkandas di pulau ini
peribumi tanah segenggam ini
mengingatkan kami pendatang
yang tak diundang.
Pusat Penahanan Pulau Nauru
seperti jalan mati, apa lagi setelah ini
langit harapanmu menjadi tipis
esok penuh dengan kemungkinan.
Tak ada rasa persahabatan
kau dicurigai dan dirimu
menjadi sasaran kezaliman
dan kemarahan padamu.
Setelah berhempas
melawan gelombang
dan panas lautan
kau terkenangkan lamanmu
tanah leluhur Arakan.
Kuala Lumpur
peribumi tanah segenggam ini
mengingatkan kami pendatang
yang tak diundang.
Pusat Penahanan Pulau Nauru
seperti jalan mati, apa lagi setelah ini
langit harapanmu menjadi tipis
esok penuh dengan kemungkinan.
Tak ada rasa persahabatan
kau dicurigai dan dirimu
menjadi sasaran kezaliman
dan kemarahan padamu.
Setelah berhempas
melawan gelombang
dan panas lautan
kau terkenangkan lamanmu
tanah leluhur Arakan.
Kuala Lumpur
Monday, 16 January 2017
Anak Kehilangan Ayah (Rohingya)*
Dalam takaran waktu
anak kecil ini telah
menjadi pulau di lautan
harapannya berpaut pada
matari siang
pada langit benua selatan.
Gerhana di Arakan
api mejulang
abu dan puing rumahmu
arca peninggalan Rohingya
artifak di sepanjang
perjalanan ke sempadan
sungai naf
memisahkanmu.
Malam itu
kali terakhir kau melihat
wajah seorang ayah
melepaskanmu
mencari suaka
menyeberangi laut
terbawa ke Pulau Christmas
mimpi pada ayah
masih tertinggal
di khemah pelarian
sempadan.
Kau masih menata malammu
dengan harapan
di Pulau Nauru
dinding kalbumu
penuh coretan dan
artifak seorang anak Rohingya
membaca tanda-tanda
sekiranya ada perubahan
melangkah ke benua selatan
langit Southern Cross.
Nilai
2017
anak kecil ini telah
menjadi pulau di lautan
harapannya berpaut pada
matari siang
pada langit benua selatan.
Gerhana di Arakan
api mejulang
abu dan puing rumahmu
arca peninggalan Rohingya
artifak di sepanjang
perjalanan ke sempadan
sungai naf
memisahkanmu.
Malam itu
kali terakhir kau melihat
wajah seorang ayah
melepaskanmu
mencari suaka
menyeberangi laut
terbawa ke Pulau Christmas
mimpi pada ayah
masih tertinggal
di khemah pelarian
sempadan.
Kau masih menata malammu
dengan harapan
di Pulau Nauru
dinding kalbumu
penuh coretan dan
artifak seorang anak Rohingya
membaca tanda-tanda
sekiranya ada perubahan
melangkah ke benua selatan
langit Southern Cross.
Nilai
2017
Sunday, 15 January 2017
Mungkin Esok (Rohingya)*
Di pulau terasing ini
kau menjadi batu
terdampar menunggu
kau cuba membaca
kalau ada
perubahan
langit dan bumi
ternyata segalanya
terlalu perlahan.
Tiap malam kau
terkepung empat penjuru
langkahmu terbatas
kau diam
dan tak berkata
sepatahmu.
Mimpi meredup
kau mulai kehilangan
langit impian
dan tanah Rohingya
makin jauh
terbawa angin lautan.
Di sini kau
menempel pada dinding
waktu
1, 117 hari telah
berlalu
kau terus menghitung
mungkin esok.
Nilai
January 2017
kau menjadi batu
terdampar menunggu
kau cuba membaca
kalau ada
perubahan
langit dan bumi
ternyata segalanya
terlalu perlahan.
Tiap malam kau
terkepung empat penjuru
langkahmu terbatas
kau diam
dan tak berkata
sepatahmu.
Mimpi meredup
kau mulai kehilangan
langit impian
dan tanah Rohingya
makin jauh
terbawa angin lautan.
Di sini kau
menempel pada dinding
waktu
1, 117 hari telah
berlalu
kau terus menghitung
mungkin esok.
Nilai
January 2017
Friday, 13 January 2017
Terapung Di lautan (Rohingya)*
Terapung di lautan
seperti buah kelapa mencari
pantai dan daratan
kedamaian hari-harimu
kering di perdu waktu
walau kau masih
mencipta impian agar
berbuah suatu hari.
Suaramu ditelan gelombang
dan badai lautan
kau pendatang kehilangan
tanah
pulau-pulau seakan menolakmu
balik ke tengah laut
tiap kali kau mendekati
daratan pantai
perahumu kehabisan
daya.
Kau tumbuh
dalam pengasingan
tapi,
tanah leluhurmu
memanggilmu pulang
dari mati berkali-kali
lebih baik mati sekali.
Nilai
2017
seperti buah kelapa mencari
pantai dan daratan
kedamaian hari-harimu
kering di perdu waktu
walau kau masih
mencipta impian agar
berbuah suatu hari.
Suaramu ditelan gelombang
dan badai lautan
kau pendatang kehilangan
tanah
pulau-pulau seakan menolakmu
balik ke tengah laut
tiap kali kau mendekati
daratan pantai
perahumu kehabisan
daya.
Kau tumbuh
dalam pengasingan
tapi,
tanah leluhurmu
memanggilmu pulang
dari mati berkali-kali
lebih baik mati sekali.
Nilai
2017
Tuesday, 10 January 2017
Snipper Mencari Sasaran (Syria)*
Dalam langit biru
dan runtuhan bangunan kota
bisa bertukar neraka
bom berjatuhan dari udara
letupan seperti bunga api.
Hari-harimu
tak terduga
dalam diam api bekerja
deritamu tertimbus
di bawah runtuhan
batu-batu
bangunan kosong
ada snipper
mencari sasaran.
Nilai
Januari 2017
dan runtuhan bangunan kota
bisa bertukar neraka
bom berjatuhan dari udara
letupan seperti bunga api.
Hari-harimu
tak terduga
dalam diam api bekerja
deritamu tertimbus
di bawah runtuhan
batu-batu
bangunan kosong
ada snipper
mencari sasaran.
Nilai
Januari 2017
Friday, 6 January 2017
Maut Menyergap Kotamu(Syria)*
Kau sendiri dalam kegelapan
lorong ini terlalu panjang
kata-kata telah tersingkir
dari landasan
sengketa ini seperti lingkaran
syaitan.
Kau seperti lupa ada
langit di atas runtuhan ini
siapa teman dan lawan
sekutu dan musuh
tak dapat dibedakan.
Maut menyergap
tanpa sedar ia datang
kau menyerah tanpa
perlawanan.
Nilai
2017
lorong ini terlalu panjang
kata-kata telah tersingkir
dari landasan
sengketa ini seperti lingkaran
syaitan.
Kau seperti lupa ada
langit di atas runtuhan ini
siapa teman dan lawan
sekutu dan musuh
tak dapat dibedakan.
Maut menyergap
tanpa sedar ia datang
kau menyerah tanpa
perlawanan.
Nilai
2017
Subscribe to:
Posts (Atom)