Aku merasa langitmu belum dihiaskan sempurna
rimbamu sunyi dari impian hujan khatulistiwa
langitmu seperti terkurung dalam gerhana panjang
tapi, kau masih terhibur pada deru gelombang silam.
Kita melangkah dalam samar-samar malam
setelah bertahun berpisah kita masih memburu
di tebing sebuah daratan kita berhenti memandang
langit terbuka lautan luas terpisah dari sebuah garis.
Tiap perbualan ada kelembutan dan gelombang
sesekali kita berundur ke belakang berdamai
pada suara hati yang mengajakmu berhenti
mengulang-ulang kerinduanmu pada cahaya langit.
Di pinggir malam kau selalu memberi ingat
selamanya kau tak akan pernah melupakan
jalan pulang sekalipun kau telah di benua jauh
impian tetap sempurna di akhir kembara ini.
This collection of poetry is the work of Sabahuddin Senin. All the poems are copyright of the poet. Any publication must get permission from the poet. Most of the poems are written in the Malay language. Sabahuddin Senin is a writer from East Malaysia, Sabah.He studied at the Universiti Sains Malaysia, Penang, NIDA, University New South Wales and the Australian National University, Canberra. He spends most of his time in Malaysia, Australia and Solomon Islands. 13th April, 2011
Wednesday, 9 March 2016
Gerhana Matahari (Ketuhanan)*
Kau telah diingatkan tentang datangnya gerhana
siang itu menyingkap tabirnya dengan cahaya
matahari bergerak naik perlahan dari garis horizon
alam tenang menunggumu dan membaca isyarat.
Ketika gerhana matahari kau berdiri salat
dalam ketenangan meluncur ayat-ayat-Mu
doa-doa kau ucapkan mohon perlindungan
tiap gerak perubahan alam tanda-tanda-Mu.
Ya Rasulullah, Wujud Suci, Junjungan
Kekasih Allah, mengikutimu melangkah
ke pintu syafaat akhir zaman yang damai
dan kau telah menunjuki jalan pada-Mu.
Dalam sujud kau melamakan doa-doamu
suaramu merendah dan lembut dilafazkan
kalbumu tunduk dan itaat pada panggilan-Mu
kebenaran samawi selamanya tak akan dikalahkan.
siang itu menyingkap tabirnya dengan cahaya
matahari bergerak naik perlahan dari garis horizon
alam tenang menunggumu dan membaca isyarat.
Ketika gerhana matahari kau berdiri salat
dalam ketenangan meluncur ayat-ayat-Mu
doa-doa kau ucapkan mohon perlindungan
tiap gerak perubahan alam tanda-tanda-Mu.
Ya Rasulullah, Wujud Suci, Junjungan
Kekasih Allah, mengikutimu melangkah
ke pintu syafaat akhir zaman yang damai
dan kau telah menunjuki jalan pada-Mu.
Dalam sujud kau melamakan doa-doamu
suaramu merendah dan lembut dilafazkan
kalbumu tunduk dan itaat pada panggilan-Mu
kebenaran samawi selamanya tak akan dikalahkan.
Gema Air (Ketuhanan)*
Bicaramu bergema di celah-celah batu bukit
melintasi sempadan ceruk rantau tanah asing
tak ada kelembutan dan kasih-sayang pada
suaranya keras dan senang memberi hukum.
Malammu dalam igau gundah yang panjang
kata-kata telah meluncur dari jiwamu takabur
gema air mengalir menyejukkan kalbumu
ketenangan pada rimbamu kerana hujan turun.
Kesabaranmu telah membuka pintu rahmat
lautmu tenang mengirim angin sejuk dan
kembaramu telah melewati zaman gerhana
doa-doamu terucap sebagai musafir pulang.
Kau meraih gurub Illahi dengan tawajuh
buruj-buruj miraj telah hilang ketika senja
ketika kau merindukan gema air dari samawi
hujan turun membasahi tanah-tanah kering.
melintasi sempadan ceruk rantau tanah asing
tak ada kelembutan dan kasih-sayang pada
suaranya keras dan senang memberi hukum.
Malammu dalam igau gundah yang panjang
kata-kata telah meluncur dari jiwamu takabur
gema air mengalir menyejukkan kalbumu
ketenangan pada rimbamu kerana hujan turun.
Kesabaranmu telah membuka pintu rahmat
lautmu tenang mengirim angin sejuk dan
kembaramu telah melewati zaman gerhana
doa-doamu terucap sebagai musafir pulang.
Kau meraih gurub Illahi dengan tawajuh
buruj-buruj miraj telah hilang ketika senja
ketika kau merindukan gema air dari samawi
hujan turun membasahi tanah-tanah kering.
Saturday, 5 March 2016
Air Samawi (Ketuhanan)*
Musim Kemarau telah mengheretmu jauh ke dalam gerhana
tanah-tanah kering mengirim jerebu melangkah sempadan
kehausan bumimu menguji kesabaran sampai titis terakhir
belum ada tanda bau hujan yang tercium dalam udaramu.
Dalam doa-doamu tengah malam kau pohon suatu perubahan
di atas sajadah air matamu menitis bertahan dalam kesabaran
kalimatmu lahir dalam suara lembut, rendah diri dan istighafar
semangat kental dan pengorbananmu mengetuk pintu samawi.
Ketika samawi telah berubah dan mengirimkanmu air turun
kemarau di tanah peribumi telah berakhir hujan lebat mencurah
mengalir dari puncak gunung sampai ke rangkaian pulau-pulau
jiwa istiqamamu telah bertarung membawa perubahan suci.
Kembara rohani ini membawamu pada qurub illahi yang abadi
telah meninggalkan bayang-bayang duniawi jauh selamanya
ketenteraman kalbumu kemenangan pada ketahanan dirimu
meraih pintu syafaat dari Wujud Suci, Rasulullah, Kekasih-Mu.
tanah-tanah kering mengirim jerebu melangkah sempadan
kehausan bumimu menguji kesabaran sampai titis terakhir
belum ada tanda bau hujan yang tercium dalam udaramu.
Dalam doa-doamu tengah malam kau pohon suatu perubahan
di atas sajadah air matamu menitis bertahan dalam kesabaran
kalimatmu lahir dalam suara lembut, rendah diri dan istighafar
semangat kental dan pengorbananmu mengetuk pintu samawi.
Ketika samawi telah berubah dan mengirimkanmu air turun
kemarau di tanah peribumi telah berakhir hujan lebat mencurah
mengalir dari puncak gunung sampai ke rangkaian pulau-pulau
jiwa istiqamamu telah bertarung membawa perubahan suci.
Kembara rohani ini membawamu pada qurub illahi yang abadi
telah meninggalkan bayang-bayang duniawi jauh selamanya
ketenteraman kalbumu kemenangan pada ketahanan dirimu
meraih pintu syafaat dari Wujud Suci, Rasulullah, Kekasih-Mu.
Friday, 4 March 2016
Jalan Kemenangan(ISIS)*
Saudaraku, aku ingin berkata padamu
terus terang dan di bawah langit damai
sejarah silam telah tertulis pada memori
manusia sejagat kekerasan tak akan sukses.
Pada lautan jernih kau melihat sendiri
dan dinding-dinding tragedi tak akan
dapat kau kikis dari tamadun manusia
ia tombak-tombak tajam menusuk kalbu.
Dendam dan benci tak akan bersekutu
dengan kedamaian dan kesejahteraan
sejagat yang tak akan berhenti bersuara
zalim dan pembunuhan perjuangan gagal.
Berkatalah kau berterus terang dan bangkit
usah membuka jalan pada eksterimisme
dan radikalisme hanya kehancuran dan maut
kasih sayang dan kedamaian jalan kemenangan.
terus terang dan di bawah langit damai
sejarah silam telah tertulis pada memori
manusia sejagat kekerasan tak akan sukses.
Pada lautan jernih kau melihat sendiri
dan dinding-dinding tragedi tak akan
dapat kau kikis dari tamadun manusia
ia tombak-tombak tajam menusuk kalbu.
Dendam dan benci tak akan bersekutu
dengan kedamaian dan kesejahteraan
sejagat yang tak akan berhenti bersuara
zalim dan pembunuhan perjuangan gagal.
Berkatalah kau berterus terang dan bangkit
usah membuka jalan pada eksterimisme
dan radikalisme hanya kehancuran dan maut
kasih sayang dan kedamaian jalan kemenangan.
Sekolah Di Runtuhan Bangunan (Palestine)
Yang kau lihat runtuhan bangunan
anjing-anjing berkeliaran mencari makan
jerebu masih dalam udara berkumpul
penembak sembunyi masih berkeliaran.
Di langitmu masih terdengar kapal terbang
bom meledak jatuh di kota-kota dan desa
seperti melenyapkan harapan berunding
keamanan terporok di bawah runtuhan.
Dari runtuhan itu muncul seorang ibu
mengumpul anak-anak terbuang pada
lapangan dulunya kebun Pokok Zaitun
memulai kelas pada siang yang mulas.
Anak-anak mendengar guru di depan
bisa melihat langit sendiri biru indah
dan bau tanah peribumi yang terdera
membina impian mereka buat esok.
anjing-anjing berkeliaran mencari makan
jerebu masih dalam udara berkumpul
penembak sembunyi masih berkeliaran.
Di langitmu masih terdengar kapal terbang
bom meledak jatuh di kota-kota dan desa
seperti melenyapkan harapan berunding
keamanan terporok di bawah runtuhan.
Dari runtuhan itu muncul seorang ibu
mengumpul anak-anak terbuang pada
lapangan dulunya kebun Pokok Zaitun
memulai kelas pada siang yang mulas.
Anak-anak mendengar guru di depan
bisa melihat langit sendiri biru indah
dan bau tanah peribumi yang terdera
membina impian mereka buat esok.
Gempa Bumi Di Tanah Peribumi (Suasana)
Ia datang ketika kau tak sedar
kehadirannya mengecut hati
tiap yang hadir jadi saksi
lenggang bumi di tanah peribumi.
Kau melihat tanda dan isyarat
dari samawi datang peringatan
kejadian duniawi menyingkap
rahsia kebenaran dan kesedaran.
Gunungmu bergoyang di atas kepala
laut bergelombang dan kotamu
bergetar dan retak seribu
rimbamu pohon-pohon tumbang.
Pada skala ini kau masih bertahan
kebimbanganmu sampai ke dalam
tidur dan kau mulai melihat alammu
petanda kau kembali pada Tuhan-Mu.
kehadirannya mengecut hati
tiap yang hadir jadi saksi
lenggang bumi di tanah peribumi.
Kau melihat tanda dan isyarat
dari samawi datang peringatan
kejadian duniawi menyingkap
rahsia kebenaran dan kesedaran.
Gunungmu bergoyang di atas kepala
laut bergelombang dan kotamu
bergetar dan retak seribu
rimbamu pohon-pohon tumbang.
Pada skala ini kau masih bertahan
kebimbanganmu sampai ke dalam
tidur dan kau mulai melihat alammu
petanda kau kembali pada Tuhan-Mu.
Subscribe to:
Posts (Atom)