Kau mendongak seperti menunggu datangnya khabar
langit jerebu masih tak bertukar warna
siang menjadi gelap menyelimuti tanah leluhur
suaramu memberat cuba mencari jalan keluar.
Usah bermain api kalau tak tau memadamnya
usah berkelu-kisah kalau kau masih tak ada jawaban
asap jerebu seperti raksasa yang tak berhenti
dalam diam mencengkik lehermu di siang hari.
Samawi telah mengingatkanmu hujan akan turun
musim tengkujuh akan datang dan bumi basah
sang kodok terus memanggilmu siang-malam
sedikit air pelepas akan mengembalikan langitmu.
Seorang ibu mendokong anaknya hilang dalam jerebu
anak gajah dan orang utang terpisah dari ibunya
rimba jati sekali lagi dikalahkan tanpa bangkit melawan
pembakar hutan masih terus membidik api.
*Dikirim ke Majalah Solusi 31 Oktober 2015
This collection of poetry is the work of Sabahuddin Senin. All the poems are copyright of the poet. Any publication must get permission from the poet. Most of the poems are written in the Malay language. Sabahuddin Senin is a writer from East Malaysia, Sabah.He studied at the Universiti Sains Malaysia, Penang, NIDA, University New South Wales and the Australian National University, Canberra. He spends most of his time in Malaysia, Australia and Solomon Islands. 13th April, 2011
Tuesday, 20 October 2015
Sunday, 18 October 2015
Jerebu Tebal (Cemar)
Jerebu tebal telah turun
pada mata hitammu
rimba raya menangis
sepanjang malam
adakah yang peduli
sekalipun kau berterus terang
siang seperti neraka yang
terus mencengkam
belum ada isyarat
langit akan berubah
kota kemegahanmu
tenggelam tak bertali.
Kamu tak peduli
sekalipun suara protes
berkumandang
di langit dan bumi leluhur
hutan masih terbakar hanggus
berapa lama lagi kami
harus berdiam
kamu telah diingatkan
kamu datang
menceroboh ruang angkasa
ini adalah pencemaran
kamu telah mengotori udara
kami lemas di halaman sendiri
sekolah-sekolah ditutup dan
anak-anak kami diberi cuti.
Hentikan membakar hutan
Hentikan mengirim jerebu
langit kami mendung bukan
kerana hujan nak turun
Waktu terus berputar dan
kepala kami ikut pusing
dada kami penuh jerebu
tapi kamu masih tak peduli.
Kembalikan langit biru
kembalikan udara pergunungan
waktunya kamu mendengar kami
biarkan Nusantara bebas jerebu
kami melihat tindakanmu
kami tak akan lupa
tanah leluhurmu pun tak lupa
kamu telah membakar hanggus
rimba rayamu
bukankah ini satu kegilaan?
*Dkirimkan ke NST pada 20 Otober 2015
pada mata hitammu
rimba raya menangis
sepanjang malam
adakah yang peduli
sekalipun kau berterus terang
siang seperti neraka yang
terus mencengkam
belum ada isyarat
langit akan berubah
kota kemegahanmu
tenggelam tak bertali.
Kamu tak peduli
sekalipun suara protes
berkumandang
di langit dan bumi leluhur
hutan masih terbakar hanggus
berapa lama lagi kami
harus berdiam
kamu telah diingatkan
kamu datang
menceroboh ruang angkasa
ini adalah pencemaran
kamu telah mengotori udara
kami lemas di halaman sendiri
sekolah-sekolah ditutup dan
anak-anak kami diberi cuti.
Hentikan membakar hutan
Hentikan mengirim jerebu
langit kami mendung bukan
kerana hujan nak turun
Waktu terus berputar dan
kepala kami ikut pusing
dada kami penuh jerebu
tapi kamu masih tak peduli.
Kembalikan langit biru
kembalikan udara pergunungan
waktunya kamu mendengar kami
biarkan Nusantara bebas jerebu
kami melihat tindakanmu
kami tak akan lupa
tanah leluhurmu pun tak lupa
kamu telah membakar hanggus
rimba rayamu
bukankah ini satu kegilaan?
*Dkirimkan ke NST pada 20 Otober 2015
Thursday, 15 October 2015
Haruskah Aku Bimbang*(Cemar)
Aku sebenarnya tak bimbang
saat kau berkata
perjalananmu tak seindah
seperti dalam mimpimu
pada lautan kau telah membuktikan
gelombang dan badai malam itu
mengundur ke lautan dalam.
Tamanmu teruji ketika jerebu tebal
menyelinap ke dalam halamanmu
hujan telah lama tak turun
kembang kenanga layu di tangkai.
Gerhana akan datang
kau mungkin tak melihat
rahsia samawi
letusan di permukaan gunungmu
malam gumpalan maut
pulau yang tenggelam
rahsia yang tersingkap.
*Dikirimkan pada Utusan Borneo 11 November 2015
saat kau berkata
perjalananmu tak seindah
seperti dalam mimpimu
pada lautan kau telah membuktikan
gelombang dan badai malam itu
mengundur ke lautan dalam.
Tamanmu teruji ketika jerebu tebal
menyelinap ke dalam halamanmu
hujan telah lama tak turun
kembang kenanga layu di tangkai.
Gerhana akan datang
kau mungkin tak melihat
rahsia samawi
letusan di permukaan gunungmu
malam gumpalan maut
pulau yang tenggelam
rahsia yang tersingkap.
*Dikirimkan pada Utusan Borneo 11 November 2015
Pelabuhan Sepi*(Suasana)
Apalah ertinya ikatan
kalau ada rahsia dan curiga
yang mengintip di belakang pintu.
Kasih-sayang seperti buih dalam kaca
kelihatan, tak membawa makna
manis bahasa dan lakonan.
Tipu helah di sebalik awan
dan perbualan menjadi
kaca yang terhempas.
Usah kau tanyakan foto kenangan
deru angin lautan telah mulai
biarkan pelabuhan ini sepi.
kalau ada rahsia dan curiga
yang mengintip di belakang pintu.
Kasih-sayang seperti buih dalam kaca
kelihatan, tak membawa makna
manis bahasa dan lakonan.
Tipu helah di sebalik awan
dan perbualan menjadi
kaca yang terhempas.
Usah kau tanyakan foto kenangan
deru angin lautan telah mulai
biarkan pelabuhan ini sepi.
Dua Anak Di Pinggir Kota* (Syria) (Boat People) (HE)(Terbit)
Mereka tinggal sendirian di bawah runtuhan kota
ribut jerebu datang sesukanya siang berinsut senja
ketika kelaparan sampai ke puncaknya tak tertahan
di padang rumput seperti kambing mengunyah.
Di suatu siang mereka mengutip sisa beras di jalanan
sambil makan tanpa mempedulikan perang yang berlarut
mereka tak perlu kenyang dan tak perlu yang enak
asal hidup dan menunggu hari esok tiba.
Lama sudah mereka tak mendengar panggilan ibu
atau tengking ayah menyuruh mandi dan belajar
suara-suara itu telah lama menghilang di langit kelabu
tanpa kawan sepermainan dan orang tua.
Perang ini masih melingkari langit Syria
tak ada yang dapat mengira bila akan selesai
pengungsi malam tetap berpergian ke barat
yang masih tinggal dua anak di pinggir kota Syria.
Tersiar Di Daily Express 1 November 2015
ribut jerebu datang sesukanya siang berinsut senja
ketika kelaparan sampai ke puncaknya tak tertahan
di padang rumput seperti kambing mengunyah.
Di suatu siang mereka mengutip sisa beras di jalanan
sambil makan tanpa mempedulikan perang yang berlarut
mereka tak perlu kenyang dan tak perlu yang enak
asal hidup dan menunggu hari esok tiba.
Lama sudah mereka tak mendengar panggilan ibu
atau tengking ayah menyuruh mandi dan belajar
suara-suara itu telah lama menghilang di langit kelabu
tanpa kawan sepermainan dan orang tua.
Perang ini masih melingkari langit Syria
tak ada yang dapat mengira bila akan selesai
pengungsi malam tetap berpergian ke barat
yang masih tinggal dua anak di pinggir kota Syria.
Tersiar Di Daily Express 1 November 2015
Menafsirkan Perjalananmu (Boat People)
Di gurun ini matari luluh seperti gula merah yang tumpah
musim jerebu telah turun dan menenggelamkan kota purba
suaramu melantun ke empat penjuru alam supaya didengar
tapi, harapanmu seperti gelas krystal yang hancur berderai.
Kasih-sayang telah menjauh seperti samar-samar cahaya
di kalbumu kembang bunga telah layu dan tak berputik
mereka terus menabur benih kebencian itu siang malam
bulan purnama mengendur jauh ke dalam kanta matamu.
Ketika keselamatan dan kedamaian telah sirna di bumimu
datang berita kehancuran menyergapmu dalam paksa
kegelapan panjang bersarang dan menelurkan ketakutan
kemabukan dan kegilaan tanpa mempedulikan jatuh korban.
Kau mengharapkan perjalanan ini penyempurnaan mimpimu
maut menunggumu di setiap taufan pasir dan gelombang laut
kakimu terus melangkah tanpa mengira berapa lama lagi
soalan tak pernah terjawab kau pun tak mempedulikannya.
musim jerebu telah turun dan menenggelamkan kota purba
suaramu melantun ke empat penjuru alam supaya didengar
tapi, harapanmu seperti gelas krystal yang hancur berderai.
Kasih-sayang telah menjauh seperti samar-samar cahaya
di kalbumu kembang bunga telah layu dan tak berputik
mereka terus menabur benih kebencian itu siang malam
bulan purnama mengendur jauh ke dalam kanta matamu.
Ketika keselamatan dan kedamaian telah sirna di bumimu
datang berita kehancuran menyergapmu dalam paksa
kegelapan panjang bersarang dan menelurkan ketakutan
kemabukan dan kegilaan tanpa mempedulikan jatuh korban.
Kau mengharapkan perjalanan ini penyempurnaan mimpimu
maut menunggumu di setiap taufan pasir dan gelombang laut
kakimu terus melangkah tanpa mengira berapa lama lagi
soalan tak pernah terjawab kau pun tak mempedulikannya.
Friday, 9 October 2015
Jerebu Udara Cemar (Cemar)
Apa yang nak kau bantahkan
memang kau membakar rimba raya
jalan pintas yang merugikan
siang seperti malam menggurungmu.
Peribumimu kehilangan rimba raya
jiran-jiranmu terkepong dalam udara cemar
dalam tidur dan berjalan mereka menelan jerubu
kerongkongannya kering dadanya sesak.
Kalau kau tanya apakah mereka ambil tahu
jawabannya berjela-jela sampai ke kaki langit
lalu ia pula duluan cuba memarahkanmu
di tanah leluhur api masih berleluasa.
Di depan mata kau melihat ekosistemmu
terbakar hanggus dan habitatnya melarikan diri
pemukim rimba raya melihat api neraka
mengepongnya dari empat penjuru.
jalan pintas yang merugikan
siang seperti malam menggurungmu.
Peribumimu kehilangan rimba raya
jiran-jiranmu terkepong dalam udara cemar
dalam tidur dan berjalan mereka menelan jerubu
kerongkongannya kering dadanya sesak.
Kalau kau tanya apakah mereka ambil tahu
jawabannya berjela-jela sampai ke kaki langit
lalu ia pula duluan cuba memarahkanmu
di tanah leluhur api masih berleluasa.
Di depan mata kau melihat ekosistemmu
terbakar hanggus dan habitatnya melarikan diri
pemukim rimba raya melihat api neraka
mengepongnya dari empat penjuru.
Subscribe to:
Posts (Atom)