Langit mendung Pulau Lesbos di permukaan laut
debar di dadamu melihat langit dan gelombang
kau tak mendengar tembakan dan lontaran gas
letupan bom di lapangan anak bermain.
Bot getah meluncur jauh pada gelombang
tak ada jalan berpatah pulang keputusan telah dibuat
siang itu kau menyerahkan dirimu pada samawi
dingin laut menusuk ke dalam kulit dan semangatmu.
Kau melihat wajah ibu bimbang mendakap bayi
ibu tua mengheret usia pada perjalanan belum pasti
anak-anak kehilangan teman sepermainan
mereka mempertaruh segalanya meninggalkan tanah leluhur.
Pulau Lesbos menyambut kedatanganmu
kau akan ingat dari pulau ini ke tanah daratan Eropah
siang malam kau datang membawa cerita
supaya dunia tak melupakan tentang kehadiranmu.
*Tersiar Di Daily Express 8 November 2015
This collection of poetry is the work of Sabahuddin Senin. All the poems are copyright of the poet. Any publication must get permission from the poet. Most of the poems are written in the Malay language. Sabahuddin Senin is a writer from East Malaysia, Sabah.He studied at the Universiti Sains Malaysia, Penang, NIDA, University New South Wales and the Australian National University, Canberra. He spends most of his time in Malaysia, Australia and Solomon Islands. 13th April, 2011
Friday, 9 October 2015
Jerebu Tebal Mengepong Nusantara (Cemar)(UB)(Terbit)
Dalam mimpinya malam itu
ribuan kerangga meninggalkan sarang
di langit burung-burung terbang ke tanah seberang
hewan mengosongkan tanah leluhurnya.
Api menawan dan membakar hanggus
dalam diam ia bersekutu dengan angin
menyapu habis rimba raya dan lembah gunung
seperti gunung berapi meletuskan belerang.
Langit gelap di siang hari
bahang nafasmu panasnya terlalu
mereka mengejar untung dan jalan pintas
memusnahkan eco sistem dan warisan.
Kau seperti berbicara pada orang tuli
ada mulut tak kesampaian bicara
kelopak mayang dan bunga dijilat api
jerebu tebal turun mengepong Nusantara.
*Tersiar Di Utusan Borneo 1 November 2015
ribuan kerangga meninggalkan sarang
di langit burung-burung terbang ke tanah seberang
hewan mengosongkan tanah leluhurnya.
Api menawan dan membakar hanggus
dalam diam ia bersekutu dengan angin
menyapu habis rimba raya dan lembah gunung
seperti gunung berapi meletuskan belerang.
Langit gelap di siang hari
bahang nafasmu panasnya terlalu
mereka mengejar untung dan jalan pintas
memusnahkan eco sistem dan warisan.
Kau seperti berbicara pada orang tuli
ada mulut tak kesampaian bicara
kelopak mayang dan bunga dijilat api
jerebu tebal turun mengepong Nusantara.
*Tersiar Di Utusan Borneo 1 November 2015
Thursday, 8 October 2015
Orang Utan dan Langit Jerebu (Cemar)(UB)(Terbit)
Api menjulang ke langit siang
seperti membuka pintu neraka
rimba raya teruji sekali lagi
jerebu telah menyelebungi halamanmu.
Keindahanmu menjadi debu jerebu
lidah api tak berhenti siang malam
seperti perang telah diumumkan
pemukim rimba raya kehilangan akal.
Dalam keributan api telah menghalau
Orang Utan dan habitatnya lari bertempiaran
desa-desa dan kota terperangkap
jerebu tebal menghisap udara khatulistiwa.
Rimbamu kosong dan sunyi
langit jerebu telah melangkahi sempadan
pencemaran langit dan bumi
keputusan pintas yang merugikan.
*Tersiar Di Utusan Borneo 1 November 2015.
seperti membuka pintu neraka
rimba raya teruji sekali lagi
jerebu telah menyelebungi halamanmu.
Keindahanmu menjadi debu jerebu
lidah api tak berhenti siang malam
seperti perang telah diumumkan
pemukim rimba raya kehilangan akal.
Dalam keributan api telah menghalau
Orang Utan dan habitatnya lari bertempiaran
desa-desa dan kota terperangkap
jerebu tebal menghisap udara khatulistiwa.
Rimbamu kosong dan sunyi
langit jerebu telah melangkahi sempadan
pencemaran langit dan bumi
keputusan pintas yang merugikan.
*Tersiar Di Utusan Borneo 1 November 2015.
Wednesday, 7 October 2015
Api Jerebu (Cemar)
Hawa rimba seperti air mendidih
langit bertukar warna kelabu
mereka masih belum berhenti
hujan masih pada angan-angan.
Penghuni rimba dalam dharurat dan cemas
mencari suaka menyeberangi sempadan
hanggus dan terbakar di halaman sendiri
menyangka musim kebakaran pertukaran cuaca.
Jerebu menyekat nafasmu
lautan seperti hilang dalam pandangan
orang telah kurang melihat dengan mata
menerka, mengira dan ikut suara hati.
Kau merindukan bulan dan bintang
dan matari khatulistiwa d luar jendelamu
bebas dari tawanan asap jerebu
yang kini memanjangkan masa tinggalnya.
langit bertukar warna kelabu
mereka masih belum berhenti
hujan masih pada angan-angan.
Penghuni rimba dalam dharurat dan cemas
mencari suaka menyeberangi sempadan
hanggus dan terbakar di halaman sendiri
menyangka musim kebakaran pertukaran cuaca.
Jerebu menyekat nafasmu
lautan seperti hilang dalam pandangan
orang telah kurang melihat dengan mata
menerka, mengira dan ikut suara hati.
Kau merindukan bulan dan bintang
dan matari khatulistiwa d luar jendelamu
bebas dari tawanan asap jerebu
yang kini memanjangkan masa tinggalnya.
Pengungsi Syria* (Syria) (Boat People)
Dalam kegelapan suara itu mengapung
kau mendengar lalu menutup pintu
angin telah berhenti degup jantungmu
tak pernah diam sekalipun dalam sepi.
Ribut padang pasir telah menjauh
tanah leluhur mengusirmu perg
kau menatap pada mata memanggilmu
yang lain telah berhenti menyanyi.
Mimpi gerun itu telah menyerap tidurnya
ketika bulan sirna dalam jerebu malam
pulau itu ikut tenggelam dalam samudera
kau bagai tawanan perang yang dicurigai.
Langit di pergunungan sajli berkirim khabar
langkah kakimu tak mudah menyerah
hadiahmu ketika kau mendengar suara
memandang esok halaman baru tanpa menoleh.
kau mendengar lalu menutup pintu
angin telah berhenti degup jantungmu
tak pernah diam sekalipun dalam sepi.
Ribut padang pasir telah menjauh
tanah leluhur mengusirmu perg
kau menatap pada mata memanggilmu
yang lain telah berhenti menyanyi.
Mimpi gerun itu telah menyerap tidurnya
ketika bulan sirna dalam jerebu malam
pulau itu ikut tenggelam dalam samudera
kau bagai tawanan perang yang dicurigai.
Langit di pergunungan sajli berkirim khabar
langkah kakimu tak mudah menyerah
hadiahmu ketika kau mendengar suara
memandang esok halaman baru tanpa menoleh.
Monday, 5 October 2015
Pintu Perbatasan Ditutup Hungary /Serbia* (Boat People) (HE)(Terbit)
Jalan keluar pintu Perbatasan Hungary dan Serbia telah ditutup
mereka terkandas dan mengintip dari lubang rahsia pada esok.
Malam menjadi siang. Pintu siang tertutup menunggu malam tiba.
Suaramu tertahan di tengkuk, lagumu kautitipkan pada bintang
langkahmu makin kecil dan akhirnya terheret di bawah jembatan
salji di pergunungan turun tanpa menoleh kepadamu yang tersesat.
Suatu siang kau seperti menguasai lanskap menyedut udara sepuas
di malam yang lain kau terhimpit seperti ikan-ikan dalam lumpur
ruangmu kecil, bulan dan bintang-bintang telah kau simpan
dan kau bawa mimpimu yang belum tau menetas ke mana-mana.
Kau telah mencipta kepak yang bisa bertahan dalam segala musim
destinasimu ingin sampai ke garis terakhir sekalipun mengambil masa
yang tinggal adalah hatimu yang membawamu melangkah ke depan
esok entah di bumi dan stesen keretapi mana kau akan berhenti.
Makin jauh tanah leluhurmu, kau mulai bermimpi panas gerun
salji tebal telah telah menyerap sampai ke dinding jantungmu
gelombang laut memabukkan itu tersimpan dalam peti kenangan
perjalanan ini hanya sekali dan kau tak ingin dikalahkan.
*Tersiar Di Harian Express 18 October 2015, Harian Express.
mereka terkandas dan mengintip dari lubang rahsia pada esok.
Malam menjadi siang. Pintu siang tertutup menunggu malam tiba.
Suaramu tertahan di tengkuk, lagumu kautitipkan pada bintang
langkahmu makin kecil dan akhirnya terheret di bawah jembatan
salji di pergunungan turun tanpa menoleh kepadamu yang tersesat.
Suatu siang kau seperti menguasai lanskap menyedut udara sepuas
di malam yang lain kau terhimpit seperti ikan-ikan dalam lumpur
ruangmu kecil, bulan dan bintang-bintang telah kau simpan
dan kau bawa mimpimu yang belum tau menetas ke mana-mana.
Kau telah mencipta kepak yang bisa bertahan dalam segala musim
destinasimu ingin sampai ke garis terakhir sekalipun mengambil masa
yang tinggal adalah hatimu yang membawamu melangkah ke depan
esok entah di bumi dan stesen keretapi mana kau akan berhenti.
Makin jauh tanah leluhurmu, kau mulai bermimpi panas gerun
salji tebal telah telah menyerap sampai ke dinding jantungmu
gelombang laut memabukkan itu tersimpan dalam peti kenangan
perjalanan ini hanya sekali dan kau tak ingin dikalahkan.
*Tersiar Di Harian Express 18 October 2015, Harian Express.
Saturday, 3 October 2015
Jerebu Langit Perak (Cemar)
Kau memaksa aku melihat dalam jerebu
malah lidahmu melepaskan panah-panah liar
bicaramu bukan simpatis seperti menjolok tabuan
orang bersalah lebih banyak olahnya.
Matari oren diseliputi kabus jerebu perak
dadamu seperti orang berpenyakit asthma
hujan tak turun penantian yang resah
langit peribumi seperti dicat perak.
Matamu kehilangan arah di siang hari
mata angin terus ditiup ke arahmu
kau merontah ingin keluar dari kepungan
tapi kelihatan semuanya pun terkurung.
Puisi ini datanglah kau sebagai hujan
atau angin lautan yang membawa jerebu
ke tengah gelombang semudera
lalu tenggelam ke dasar lautan.
*Dikirimkan pada KST 8 October 2015
malah lidahmu melepaskan panah-panah liar
bicaramu bukan simpatis seperti menjolok tabuan
orang bersalah lebih banyak olahnya.
Matari oren diseliputi kabus jerebu perak
dadamu seperti orang berpenyakit asthma
hujan tak turun penantian yang resah
langit peribumi seperti dicat perak.
Matamu kehilangan arah di siang hari
mata angin terus ditiup ke arahmu
kau merontah ingin keluar dari kepungan
tapi kelihatan semuanya pun terkurung.
Puisi ini datanglah kau sebagai hujan
atau angin lautan yang membawa jerebu
ke tengah gelombang semudera
lalu tenggelam ke dasar lautan.
*Dikirimkan pada KST 8 October 2015
Subscribe to:
Posts (Atom)