Kamar ini sederhana dan luasnya ketenangan
dekorasinya pada dinding dan lantai biasa saja
keheningan di sini mencipta suasana menyerah
kau pun terpanggil mengisi kekosongan ini.
Di sini kau bangun seperempat malam terakhir
sukmamu terbiasa membaca gerak dan denyut
kata-kata yang tercantum dalam nafas waktu
dalam rimbun firasat perjalanan seorang khadim.
Ada pintu masuk dan keluar dari kamar ini
tak pernah terkunci dan terbuka setiap waktu
berilah salam dan melangkah masuk ke dalam
bintang-bintang terkumpul menjadi cahayamu.
This collection of poetry is the work of Sabahuddin Senin. All the poems are copyright of the poet. Any publication must get permission from the poet. Most of the poems are written in the Malay language. Sabahuddin Senin is a writer from East Malaysia, Sabah.He studied at the Universiti Sains Malaysia, Penang, NIDA, University New South Wales and the Australian National University, Canberra. He spends most of his time in Malaysia, Australia and Solomon Islands. 13th April, 2011
Monday, 10 August 2015
Pemukim Di Hujung Malam* (Ketuhanan)
Kau pernah berjanji membawa hujan ke pesisir
rimba raya, banjaran gunung dan sungaimu
rahsia malam turun bersama hujan mengalir jauh
bualmu yang melekat pada batu-batu dan tebing.
Sebenarnya suara itu dari masa silam menitis
dalam gua sukma membina kolam kenangan
kedamaian seperti genang air bergetar ramah
lalu tenang sampai suatu detik yang lain pula.
Tiap pohon berperanan sendiri dalam terompah waktu
kekuatan akar menentukan perjalanan pohon kehidupan
kerana ketika ia sihat maka kau akan melihat pohon
rendang berdaun lebar, berbunga dan berbuah manis.
Kehadiran matari tak pernah mungkir pada janji
kecuali awan mendung membawa isyarat hari itu
hujan akan turun dan menjadi banjir merempuh
bumimu ketika pemukim masih lena di hujung malam.
*Dkirimkan ke DS 16 August 2015
rimba raya, banjaran gunung dan sungaimu
rahsia malam turun bersama hujan mengalir jauh
bualmu yang melekat pada batu-batu dan tebing.
Sebenarnya suara itu dari masa silam menitis
dalam gua sukma membina kolam kenangan
kedamaian seperti genang air bergetar ramah
lalu tenang sampai suatu detik yang lain pula.
Tiap pohon berperanan sendiri dalam terompah waktu
kekuatan akar menentukan perjalanan pohon kehidupan
kerana ketika ia sihat maka kau akan melihat pohon
rendang berdaun lebar, berbunga dan berbuah manis.
Kehadiran matari tak pernah mungkir pada janji
kecuali awan mendung membawa isyarat hari itu
hujan akan turun dan menjadi banjir merempuh
bumimu ketika pemukim masih lena di hujung malam.
*Dkirimkan ke DS 16 August 2015
Sunday, 9 August 2015
Kau Belum Tiba (Cemar)
Air bergulung datang melimpah jauh
turun menerja tanah di kedua tebing
matamu hanya bisa memandang saja
dengan berat menerima kekalahan ini.
Hujan masih turun di pergunungan
kekuatan air masih belum menurun
bumimu basah-kuyup semalaman
ada suara merintih di tebing sungai.
Amarahmu seperti belum berhenti
menyapu habis yang menghandang
kau mencari suaka dalam negerimu
jeritanmu terkandas di kerongkongan.
Di sebalik tanah halamanmu runtuh
jembatan terpotong dua digolong air
jalan ke desa telah terputus semalam
kau diselimuti udara dingin menusuk.
Aku masih menunggu di simpang dua
di pinggir desa menunggu kau datang
dewan serbaguna ini pun mulai ramai
tapi, kau belum tiba sejak semalam.
turun menerja tanah di kedua tebing
matamu hanya bisa memandang saja
dengan berat menerima kekalahan ini.
Hujan masih turun di pergunungan
kekuatan air masih belum menurun
bumimu basah-kuyup semalaman
ada suara merintih di tebing sungai.
Amarahmu seperti belum berhenti
menyapu habis yang menghandang
kau mencari suaka dalam negerimu
jeritanmu terkandas di kerongkongan.
Di sebalik tanah halamanmu runtuh
jembatan terpotong dua digolong air
jalan ke desa telah terputus semalam
kau diselimuti udara dingin menusuk.
Aku masih menunggu di simpang dua
di pinggir desa menunggu kau datang
dewan serbaguna ini pun mulai ramai
tapi, kau belum tiba sejak semalam.
Saturday, 8 August 2015
Mereka Mulai Berfikir. (Cemar)
Ketika diumumkan pada dunia malam itu
kau bilang kau adalah pilihan yang terbaik
namamu mulai disebut-sebut dan disanjung
sebagai pemimpin di Sungai Mengalir Jauh.
Kau mulai menyukai dirimu dengan panggilan
gema suaramu makin besar di gegendang telinga
ketika kau marah bahasamu mulai kasar
orang mendengar pun tercengang dan heran.
Pidatomu bahasanya retorika membosankan
bila peribadimu tersentuh kau seperti ikan mabuk
mulutmu tercunggap-cunggap mengertak lawan
menyumpah serana gunung dan rimba raya.
Mereka yang ikut ke awan dan gelombang laut
tak berkata apa-apa menurut tanpa menyoalmu
tapi kini orang mulai suka menyoal hasil kerjamu
kerana mereka tak boleh lagi dibodohkan atau tertipu.
kau bilang kau adalah pilihan yang terbaik
namamu mulai disebut-sebut dan disanjung
sebagai pemimpin di Sungai Mengalir Jauh.
Kau mulai menyukai dirimu dengan panggilan
gema suaramu makin besar di gegendang telinga
ketika kau marah bahasamu mulai kasar
orang mendengar pun tercengang dan heran.
Pidatomu bahasanya retorika membosankan
bila peribadimu tersentuh kau seperti ikan mabuk
mulutmu tercunggap-cunggap mengertak lawan
menyumpah serana gunung dan rimba raya.
Mereka yang ikut ke awan dan gelombang laut
tak berkata apa-apa menurut tanpa menyoalmu
tapi kini orang mulai suka menyoal hasil kerjamu
kerana mereka tak boleh lagi dibodohkan atau tertipu.
Suatu Siang (Cemar)
Bagaimana aku bisa tenang melihatmu
terbaring puluhan atau ratusan bergelimpangan
di padang rumput terbuka di bawah kolong langit
kaku dan membusuk dalam waktu bergolek.
Kedamaian langit terusik dan pintu-Mu diketuk
maut mengintai dan mengherdap jatuh korban
dan tak ada orang yang menuntut atau datang
kau kembali merata ke bumi menjadi tanah.
Tiap tubuh yang terbaring mempunyai ceritanya
di lapangan ini seperti mereka tak ada pilihan lain
mereka dikumpulkan dan menerima hukuman
tanpa sempat mengucapkan pesan atau salam terakhir.
Mereka melepaskan das-das tembakan menembusi
kulitmu menusuk ke dalam otot dan daging pejal
kau melepaskan pandangan ke samawi mengucap
patah-patah doa dan darahmu mengalir sampai kering.
terbaring puluhan atau ratusan bergelimpangan
di padang rumput terbuka di bawah kolong langit
kaku dan membusuk dalam waktu bergolek.
Kedamaian langit terusik dan pintu-Mu diketuk
maut mengintai dan mengherdap jatuh korban
dan tak ada orang yang menuntut atau datang
kau kembali merata ke bumi menjadi tanah.
Tiap tubuh yang terbaring mempunyai ceritanya
di lapangan ini seperti mereka tak ada pilihan lain
mereka dikumpulkan dan menerima hukuman
tanpa sempat mengucapkan pesan atau salam terakhir.
Mereka melepaskan das-das tembakan menembusi
kulitmu menusuk ke dalam otot dan daging pejal
kau melepaskan pandangan ke samawi mengucap
patah-patah doa dan darahmu mengalir sampai kering.
Friday, 7 August 2015
Dalam Takaran Waktu (Ketuhanan)
Mengenangmu seperti lepa-lepa yang terlepas talinya bergerak
dalam diam arus lautmu membawamu jauh ke tengah samudera
tabir malam pun tersingkap kau melihat sendiri keramaian langit
kau terlentang di antara pulau-pulau sukmamu dan cakerawala.
Matamu redup dan terkandung rahsia hidup yang ditelan waktu
kau membaca kitab kesayangan ini di sepanjang jalan hayatmu
Ia menghiburkanmu ketika kegelapan malam ini menggurungmu
menutup semua jalan-jalan dan membiarkanmu bingung sendiri.
Kau sebenarnya seorang itaat dan pemberani di lapangan terbuka
gema suaramu telah menembusi lantai langit dan tanah peribumi
tapi kata-kata tak berakar seperti angin tanpa arah dan kulit saja
bergulung-gulung seakan mencipta halilintar dan tofan badai.
Dalam takaran waktu siang ini telah menitis menyirami rimba raya
satu kekuatan telah turun dan sungai menyempurnakan mimpimu
pada gunung kau memandang samawi dan bulan purnama penuh
matarimu naik di ufuk Barat mengirim gelombang sampai ke sini.
dalam diam arus lautmu membawamu jauh ke tengah samudera
tabir malam pun tersingkap kau melihat sendiri keramaian langit
kau terlentang di antara pulau-pulau sukmamu dan cakerawala.
Matamu redup dan terkandung rahsia hidup yang ditelan waktu
kau membaca kitab kesayangan ini di sepanjang jalan hayatmu
Ia menghiburkanmu ketika kegelapan malam ini menggurungmu
menutup semua jalan-jalan dan membiarkanmu bingung sendiri.
Kau sebenarnya seorang itaat dan pemberani di lapangan terbuka
gema suaramu telah menembusi lantai langit dan tanah peribumi
tapi kata-kata tak berakar seperti angin tanpa arah dan kulit saja
bergulung-gulung seakan mencipta halilintar dan tofan badai.
Dalam takaran waktu siang ini telah menitis menyirami rimba raya
satu kekuatan telah turun dan sungai menyempurnakan mimpimu
pada gunung kau memandang samawi dan bulan purnama penuh
matarimu naik di ufuk Barat mengirim gelombang sampai ke sini.
Tuesday, 4 August 2015
Membaca Lenggang Ombak (Ketuhanan)
Kau telah lama berlepa-lepa di daerah rawan
membaca lenggang ombak laut gerak awan
pada bintang dan purnama di langit malam
tiap perjalanan meninggalkan titisan rindu.
Sepasang kasut kau pakai telah haus tapaknya
garis wajahmu bertambah dalam waktu bergeser
kau melipat-lipat sejarah awalmu dalam lugasi
lalu pergi sebagai kekasih ke negeri rumpaian laut.
Malam itu kunang-kunang menjadi cahaya bulan
kau tak menyoal sampai kapan kegelapan malam
langkahmu anggun seperti tawakal seorang khadim
datang membawa berita yang tak melukai sukmamu.
Deru angin lautan telah menggerakkan gelombang
langit telah memberikan isyarat bermula pertarungan
lepa-lepamu setiap gerak ke depan menguasai laut
rahsiamu pun terungkap dan pertanyaanmu terjawab.
membaca lenggang ombak laut gerak awan
pada bintang dan purnama di langit malam
tiap perjalanan meninggalkan titisan rindu.
Sepasang kasut kau pakai telah haus tapaknya
garis wajahmu bertambah dalam waktu bergeser
kau melipat-lipat sejarah awalmu dalam lugasi
lalu pergi sebagai kekasih ke negeri rumpaian laut.
Malam itu kunang-kunang menjadi cahaya bulan
kau tak menyoal sampai kapan kegelapan malam
langkahmu anggun seperti tawakal seorang khadim
datang membawa berita yang tak melukai sukmamu.
Deru angin lautan telah menggerakkan gelombang
langit telah memberikan isyarat bermula pertarungan
lepa-lepamu setiap gerak ke depan menguasai laut
rahsiamu pun terungkap dan pertanyaanmu terjawab.
Subscribe to:
Posts (Atom)