Aku menyambutmu,
Ramadan Al Mubarak
kasih-Mu mengalir
dari samawi
berkumpul kami
rahmat dan terkabulnya
doa.
Kerinduan anak yang pulang
mimpimu itu telah digenapkan
hadiah langit buat ibu tua
purnama berkaca di matamu
air danau mengalir dari sukma.
Apa lagi yang kau harapkan
pada malam pertama melihat
anak bulan di kaki langit
isyarat bermula
Ramadan Al Mubarak.
Sepanjang bulan
sahur dan berbuka
aku akan meneguk air
dan menelan nasi
dari tangan seorang ibu tua.
Ya Rabbi,
bagaimana mungkin aku
berdalih pulang dari rantau
Ramadan Al Mubarak
di tanah peribumi
penyempurnaan sebuah janji
seorang anak buat ibu tua.
This collection of poetry is the work of Sabahuddin Senin. All the poems are copyright of the poet. Any publication must get permission from the poet. Most of the poems are written in the Malay language. Sabahuddin Senin is a writer from East Malaysia, Sabah.He studied at the Universiti Sains Malaysia, Penang, NIDA, University New South Wales and the Australian National University, Canberra. He spends most of his time in Malaysia, Australia and Solomon Islands. 13th April, 2011
Thursday, 11 June 2015
Gunung Kinabalu Menawan*
Kinabalu,
khazanah turun-temurun
di tanah peribumi ini
keindahanmu
adalah kedamaian sukma
dari masa silam
kau penyejuk mata
dan inspirasi tak pernah kering.
Kau, gunung bertahan
hidup dalam tiap kenangan
mimpi dan impian.
Kau adalah lambang
melihatmu dari samudera lautan
kekuatan yang gah
tak terkalahkan.
Dari samawi seperti
tangan kasih-sayang mengusap
anak dibuaian.
Suara rimba memukau dan tunggal
pepohonan hijau menjulang langit.
Kau melihat pelangi
pada Aki Nabalu
kabus pagi bagai
pahlawan yang mengaburi
mata musuh.
Di dindingmu tersirat
grafiti
persaudaraan peribumi.
Dan kau, rohaniku, lihatlah
purnama timbul di Laban Rata
Nabaluku, di sini,
langit dan bumi bertemu.
khazanah turun-temurun
di tanah peribumi ini
keindahanmu
adalah kedamaian sukma
dari masa silam
kau penyejuk mata
dan inspirasi tak pernah kering.
Kau, gunung bertahan
hidup dalam tiap kenangan
mimpi dan impian.
Kau adalah lambang
melihatmu dari samudera lautan
kekuatan yang gah
tak terkalahkan.
Dari samawi seperti
tangan kasih-sayang mengusap
anak dibuaian.
Suara rimba memukau dan tunggal
pepohonan hijau menjulang langit.
Kau melihat pelangi
pada Aki Nabalu
kabus pagi bagai
pahlawan yang mengaburi
mata musuh.
Di dindingmu tersirat
grafiti
persaudaraan peribumi.
Dan kau, rohaniku, lihatlah
purnama timbul di Laban Rata
Nabaluku, di sini,
langit dan bumi bertemu.
Wednesday, 10 June 2015
Damai Ramadan Al Mubarak*
Menjelang Ramadan Al Mubarak
dua kalbu telah ditemukan
langit merelakan dan lautanmu
damai.
akhirnya aku mendakapmu
bulan purnama
dalam doa-doa terkabul.
Ramadan Al Mubarak ini
kita berkumpul
dalam satu bahtera
belayar ke lautan luas
mendung langit telah beredar
Di malam tarawih
kau baca kalimat suci
kalbu yang tawajuh
Ya Hafiz, Ya Aziz
kau telah menanggalkan
pakaian kotor
kini kau datang pada-Nya
sebagai kadim siap diberi perintah.
dua kalbu telah ditemukan
langit merelakan dan lautanmu
damai.
akhirnya aku mendakapmu
bulan purnama
dalam doa-doa terkabul.
Ramadan Al Mubarak ini
kita berkumpul
dalam satu bahtera
belayar ke lautan luas
mendung langit telah beredar
Di malam tarawih
kau baca kalimat suci
kalbu yang tawajuh
Ya Hafiz, Ya Aziz
kau telah menanggalkan
pakaian kotor
kini kau datang pada-Nya
sebagai kadim siap diberi perintah.
Mubarak datangnya Ramadan*
Kusambutmu dengan zikir illahi
dalam tangis doa langkah padu
titis-titis masa dan gunung bertahan
langit yang tersingkap
dan rahsia zaman merekah
lalu membacanya tenang dan
menemukan makna-makna tersirat.
Ramadan Al Mubarak
kau datang dan menghulurkan
tanganmu
aku telah jauh berjalan
dan pulang ke riba-Mu
suara-suara itu mengiyang-ngiyang
sampai ke perdu kalbu
jalan pulang yang selamat.
Lepa-lepamu telah
belayar ke dalam sukma malam
dan kini memasuki sempadan
negeri kenanga
mubarak datangnya Ramadan
huruf-huruf dan kalimat-kalimat-Mu
hidup seperti cahaya purnama penuh
aku sirna dalam lautan maghfirat.
dalam tangis doa langkah padu
titis-titis masa dan gunung bertahan
langit yang tersingkap
dan rahsia zaman merekah
lalu membacanya tenang dan
menemukan makna-makna tersirat.
Ramadan Al Mubarak
kau datang dan menghulurkan
tanganmu
aku telah jauh berjalan
dan pulang ke riba-Mu
suara-suara itu mengiyang-ngiyang
sampai ke perdu kalbu
jalan pulang yang selamat.
Lepa-lepamu telah
belayar ke dalam sukma malam
dan kini memasuki sempadan
negeri kenanga
mubarak datangnya Ramadan
huruf-huruf dan kalimat-kalimat-Mu
hidup seperti cahaya purnama penuh
aku sirna dalam lautan maghfirat.
Rindu Ramadan Al Mubarak*
Dalam peralihan waktu
samawi mengirimkan air dingin
di lembah sukma
di tanah peribumi ini
rindu Ramadan Al Mubarak
menunggu anak bulan
di persada langit
bermula halaman perjuangan
meraih buah kemenangan.
Musim memetik tiba
buah-buah manis di pohon
dan kau tak pernah puas
langitmu telah memberi isyarat
tahun ini para musafir
telah menghulurkan tangan
kata-katanya lunak dan menawan
doa-doa yang terkabul
janji-janji yang sempurna.
Ramadan Al Mubarak
pintu samawi terbuka
malam-malam tahajud
doa-doamu seperti
taburan bintang gemerlapan
cintamu telah tertanam
akarnya menjunam dan
tak akan musnah dalam
seribu kurun.
Kau telah melihat
kebenaran itu adalah
taman-taman indah
terus dijagai sekalipun
dalam zaman gerhana
Ramadan Al Mubarak
sapuan kalbu
dengan air samawi
damai pada tiap malam
adalah perjuangan
pada tiap siang
meraih qurub-Nya.
Ramadan Al Mubarak
pada jiwa yang tenteram
wajah tawajuh
Inayat-Mu
tak pernah berhenti mengalir
iradah-Mu
purnama gemilang.
samawi mengirimkan air dingin
di lembah sukma
di tanah peribumi ini
rindu Ramadan Al Mubarak
menunggu anak bulan
di persada langit
bermula halaman perjuangan
meraih buah kemenangan.
Musim memetik tiba
buah-buah manis di pohon
dan kau tak pernah puas
langitmu telah memberi isyarat
tahun ini para musafir
telah menghulurkan tangan
kata-katanya lunak dan menawan
doa-doa yang terkabul
janji-janji yang sempurna.
Ramadan Al Mubarak
pintu samawi terbuka
malam-malam tahajud
doa-doamu seperti
taburan bintang gemerlapan
cintamu telah tertanam
akarnya menjunam dan
tak akan musnah dalam
seribu kurun.
Kau telah melihat
kebenaran itu adalah
taman-taman indah
terus dijagai sekalipun
dalam zaman gerhana
Ramadan Al Mubarak
sapuan kalbu
dengan air samawi
damai pada tiap malam
adalah perjuangan
pada tiap siang
meraih qurub-Nya.
Ramadan Al Mubarak
pada jiwa yang tenteram
wajah tawajuh
Inayat-Mu
tak pernah berhenti mengalir
iradah-Mu
purnama gemilang.
Monday, 8 June 2015
Rohingya dan Tanah Lumpur*(Boat People)(UB)*
Suaramu tertimbus di perbatasan
lumpur khatulistiwa membalutmu
langkahmu telah terputus
dan menemui jalan mati.
Pepohonan rimba saksi
malam penderaan itu
kau tak mendengar ombak laut
angin telah menukar arah
menjauh dari hutan khatulistiwa.
Rohingya, jauh dari tanah Arakan
berpauh pada tanah curam
mereka telah menggelapkan matamu
lalu mencipta langit mimpi
tanjung harapan dalam tidurmu.
Kau tak mengira langkah kakimu
impianmu, kau akan melangkahi sempadan
dan selamat.
tapi suara perintah itu
telah meregut purnama di puncak gunung
menconteng pelangi bertukar mendung
pada sukmamu.
Di tanah lumpur ini
terkubur cerita Rohingya
suatu perjalanan yang tak kesampaian
*Disiarkan oleh UB 27 November 2016
lumpur khatulistiwa membalutmu
langkahmu telah terputus
dan menemui jalan mati.
Pepohonan rimba saksi
malam penderaan itu
kau tak mendengar ombak laut
angin telah menukar arah
menjauh dari hutan khatulistiwa.
Rohingya, jauh dari tanah Arakan
berpauh pada tanah curam
mereka telah menggelapkan matamu
lalu mencipta langit mimpi
tanjung harapan dalam tidurmu.
Kau tak mengira langkah kakimu
impianmu, kau akan melangkahi sempadan
dan selamat.
tapi suara perintah itu
telah meregut purnama di puncak gunung
menconteng pelangi bertukar mendung
pada sukmamu.
Di tanah lumpur ini
terkubur cerita Rohingya
suatu perjalanan yang tak kesampaian
*Disiarkan oleh UB 27 November 2016
Sunday, 7 June 2015
Senja Sungai Kinabatangan* (Lanskap)
Nafasmu air mengalir turun ke muara
sukmamu senja tenggelam di horizon
suaramu gema angin lautan berlalu
mimpimu mahkota malam ditemui.
Senja telah berlabuh
sungai Kinabatangan, diammu
menyimpan halaman sejarah
yang tak runtuh sekalipun
hakisan waktu terus mengalir.
Malammu telah berlalu
pertempuran dan pukul gendang perang
telah berhenti dan kedua pihak
menyerah dan menurunkan lambangnya
dari berkibar di udara musim derhaka.
Sungai Kinabatangan
ketenangan arusmu telah membawa
berita gembira itu sampai ke muara
samawi menitiskan gerimis dan
pelangi di bumi peribumi.
Rimbamu masih riuh
sungai Kinabatangan
airmu yang kuminum
mengalir dari sukma
dingin dan menghidupkan
dan degupmu tak akan berhenti
di sepanjang zaman.
*dikirimkan ke Dewan Sastera 29 Julai 2015
Subscribe to:
Posts (Atom)