Monday, 18 May 2015

Adakah Perubahan Di Langit Rohingya (Boat People)

Dengarkan langit jika ada perubahan
adakah cuaca Arakan telah meredah
laut masih bergejolak di laut Andaman
tapi, kau masih menuruni lembah
menyeberang sempadan.

Di tengah malam kau masih gundah
dan menjerit sekalipun suaramu tak sampai
tanah seberang terasa jauh seakan
kau tak akan dapat ke tepian
kapal ini telah kehilangan kuasa
tapi penumpangnya memburu kejora.

Sudah berapa hari kapal ini berhanyut
gema suara penumpang mulai melemah
walaupun kau masih memanggil
gelora lautan tak akan berubah
kau terapung menunggu arus bertukar arah.

Rohingya, kesabaranmu dituntut
samawi mengirim pelangi dan hujan
gerak lautan menghantarmu ke daratan
gelombang suaramu terbang tinggi
membawa harapan ke benua baru.


Friday, 15 May 2015

Anak Rohingya (Boat People)

Ketika laut kematian angin
ijin kapal telah berhenti
langit seperti negeri kenyangan
tak terjangkau.

Matari seperti batu-bara di atas kepala
anak Rohingya memejam mata
melepas sayap imaginasinya ke cakerawala
terbang tinggi-tinggi mencari benua baru
atau sempadan yang belum dipunyai.

Ia bayangkan Aladin dengan piala ajaib
konsentrasinya digandakan
beri aku tiga pilihan
setelah itu aku tak akan memintamu.

Sosok tubuh di atas dek
seperti terpanggang dan kelaparan
menusuk sampai ke hulu hati
bibirnya kering dan suaranya melemah.

Matanya masih terpejam
Ia mencipta seribu satu  watak pilihan
yang tak akan pernah dikalahkan
dalam medan pertempuran ciptaan
imaginasinya.

Kapal Pelarian Rohingya
berlenggang dibawa arus
matari telah condong
mereka masih menelek rahsia esok
atau lenggangnya sampai di sini
tak kemana-mana.


Gadis Rohingya (Boat People)

Kau telah banyak menangis
masa silammu penuh raksasa
bau tanah kelahiranmu
dan hujan hutan Khatulistiwa
kejutan ngeri di malam durjana.

Siapakah petualang yang masih
terus menghajar dan memburumu
kau datangi rimba supaya melindungimu
tapi, celakanya rimba jati
telah ditebang orang.

Kau meratap tangis tanah kelahiranmu
bagaimana aku dapat membuat kubu
sedang kegilaan mereka terus mendarahi
hak kemanusiaan sejagat.

Kau pilih samudera
membawa impian dan sisa-sisa mimpi
berhanyut tanpa arah tuju
berharap esok arus lautan
mendamparmu di tanah daratan merdeka.

Rohingya, Matamu Mengirim Isyarat (Boat People)

Terapung di tengah lautan
karam di sempadan negeri
menatap wajahmu
antara hidup dan mati
kemanusiaan seperti bola
yang ditendang ke sana ke mari.

Sebenarnya kau telah puas menangis
air mata menitis ke dalam lautan
tapi raunganmu hilang dalam
samudera
matamu mengirimkan isyarat.

Ya Rabbi, cukuplah sudah kesengsaraan ini
biarkan kami melangkah ke tanah dataranmu
kami telah puas berhanyut
mimpi-mimpi kami telah lama
hanggus di khemah-khemah pelarian
atau desa-desa Arakan.

Kami minta perlindungan
suaka luar negeri
tapi tak ada telinga yang mendengar
kejahatan petualang malam
masih datang membakar
dan memusnahkan sukma
dan mimpi-mimpi Rohingya.




Kamu anak keturunan Rohingya (Boat People)

Apa yang ingin kuceritakan padamu
apakah kau ingin melepaskan masa silammu
melemparkannya lalu menjadi
desa yang ditinggalkan
kehilangan penghuni mengungsi
entah di bumi dan langit mana?

Di sini anak pertamamu telah lahir
tumbuh membesar menjadi orang kebanyakan
di pasar raya ibukota.
Rohingya asal-usul bangsamu
desamu di perbukitan yang indah
kini daerah rawan yang kosong.

Kamu anak keturunan Rohingya
semudah itu kau melupakan
jilid sejarahmu yang berdarah
kezaliman yang disembunyikan
dalam gua tamadun manusia.
Lidahmu dipotong dan mimpi-mimpi
dimusnahkan.

Di tanah asing matarimu bersinar terang
tapi sukmamu merontah
kerana dirimu telah kehilangan
tanah leluhur, tradisi dan budaya Rohingya
Ke mana anak Rohingya selepas ini?
tenggelam dalam hiruk-piruk
layan sendiri mengaut keuntungan
putar belit orang kota.

Cerita apa yang ingin kau dengar
tentang perjuangan Rohingya
ribut badai Teluk Andaman
kapal tanpa Nahkoda dan anak kapal
terombang-ambing di malam durjana
tanpa wajah
tanpa dokumen.

Rohingya sekali lagi namamu disebut
supaya sejarahmu tak akan dilupakan.

Rohingya, halamanmu lautan luas (Boat People)

Kapal patah kemudi
gelombang telah mendamparmu
ke tengah lautan
langit gelap
suaramu hilang
di Teluk Andaman.

Tanah daratan kau tinggalkan
malam itu
telah menjadi gumpalan
masa silam.

Kau masih mengharapkan
pelabuhan teduh
atau sebuah pulau persinggahan
lenggang kapalmu
seperti dipukul sepanjang malam
kesabaranmu telah menipis.

Kau, adalah pendatang malam
di tanah leluhurmu kau
pelarian dan bangkai busuk.

Rohingya, halamanmu lautan luas
kau masih mengharapkan
kembang purnama di langit sukma.



Monday, 11 May 2015

Tepung Tumpe Ma* (Mama)

Tepung dan air sedikit garam
kasihmu berbaur larut dalam
tepung tumpe.

Matamu redup tersimpan rahsia
seperti kasih sayang samawi
tiap gerak di sukmamu membawa
khabar gembira.

Tanganmu pernah menimang
bayi di pangkuan dan lagumu
adalah getaran di danau cinta
membolak-balik halaman kenangan
perutusan masa silam
yang mengalir terus ke lautmu.

Kata-katamu mengiyang-iyang
bergema pada lembah gunung
suara seorang ibu ditinggalkan
Kesabaranmu adalah bumi
dalam takaran waktu.

Kau, gunung yang bertahan
ketenangan nadimu berakar
di rimba jati
dan tak akan pernah dikalahkan
sekalipun mereka menjauh.


*Tepung dan air  seperti lemping
*Dkirimkan ke Dewan Sastera, 29 Julai 2015