Di sini dulu sebuah kampung
ia tumbuh dari lautmu
bila malam tiba
lagenda dan mitos bersayap
keluar dari mulut lautan
ke langitmu
tiap kelip bintang bercerita
dalam mimpimu.
Aku datang kepadamu
kerana keramaian suaramu
terbakar hanggus
lantai kedamaian sukmamu
telah menjadi debu.
Segalanya hening
hanya lagu debur ombak
berulang-ulang ke tanah daratan
puing-puing
seperti tombak-tombak terpacak
di dadamu.
Air telah surut
kini aku dapat melihat luka-luka
jeritan perihmu sampai ke pintu samawi
kau mencari dahan-dahan untuk berpaut
memanggil hujan pada malam durjana
tapi, suaramu tertahan di kerongkong waktu.
Aku tabur kuntum kata
ke laut dalam
foto-foto memori
hanggus terbakar
sejarahmu debu bertebaran.
This collection of poetry is the work of Sabahuddin Senin. All the poems are copyright of the poet. Any publication must get permission from the poet. Most of the poems are written in the Malay language. Sabahuddin Senin is a writer from East Malaysia, Sabah.He studied at the Universiti Sains Malaysia, Penang, NIDA, University New South Wales and the Australian National University, Canberra. He spends most of his time in Malaysia, Australia and Solomon Islands. 13th April, 2011
Friday, 17 April 2015
Wednesday, 8 April 2015
Bukit Tinggi* (UB)(Landskap)(Terbit)
Udara dingin menyelenap
ke dalam maghrib
musafir baru menghela nafas
memasuki Bukit Tinggi
penjaja sibuk menawar harga
malam itu keramaian bintang
pudar ditelan jerebu
dari hutan terbakar.
Kau menjamu
durian dan pulut
sejadah untuk solat
pertemuan dua sungai
mengalir
menyatukan dua rohani.
gunungmu tetap bertahan
perbualan mereka masih
api yang membakar
tak akan berubah
kilau purnama di langitmu
kebenaran lafaz katamu
menggulangi kalimah.
Kedatanganmu di Bukit Tinggi
mempertemukan kasih
langit dan bumi
selamanya tak akan terpisah.
*Tersiar Di Utusan Borneo 26 April 2015
ke dalam maghrib
musafir baru menghela nafas
memasuki Bukit Tinggi
penjaja sibuk menawar harga
malam itu keramaian bintang
pudar ditelan jerebu
dari hutan terbakar.
Kau menjamu
durian dan pulut
sejadah untuk solat
pertemuan dua sungai
mengalir
menyatukan dua rohani.
gunungmu tetap bertahan
perbualan mereka masih
api yang membakar
tak akan berubah
kilau purnama di langitmu
kebenaran lafaz katamu
menggulangi kalimah.
Kedatanganmu di Bukit Tinggi
mempertemukan kasih
langit dan bumi
selamanya tak akan terpisah.
*Tersiar Di Utusan Borneo 26 April 2015
Tuesday, 7 April 2015
Danau* (Suasana) (Wadah)(Terbit)
Remang senja
danaumu tenang
muazin memanggil tertib.
Para dai masih belum pulang
perjalanannya tanpa sempadan
makin jauh ke negeri gerhana.
Dalam mimpi masa silam
seperti hamparan kenangan
langkahmu masih tak berhenti.
Kerinduan itu
danau yang ditinggalkan
kebenaran cintamu
tak akan luntur
dalam pergolakkan waktu.
Kegelisahanmu sementara
kembang kenanga
di malam kenangan.
*Terbit Di Wadah DBP CS Disember 2015
danaumu tenang
muazin memanggil tertib.
Para dai masih belum pulang
perjalanannya tanpa sempadan
makin jauh ke negeri gerhana.
Dalam mimpi masa silam
seperti hamparan kenangan
langkahmu masih tak berhenti.
Kerinduan itu
danau yang ditinggalkan
kebenaran cintamu
tak akan luntur
dalam pergolakkan waktu.
Kegelisahanmu sementara
kembang kenanga
di malam kenangan.
*Terbit Di Wadah DBP CS Disember 2015
Danau Singkarak* (UB)(Lanskap)(Terbit)
Kita berdua berdiri
membelakangi danau Singkarak
aku adalah tamu
kau, anak yang pulang.
Danaumu berombak
langit senja
di sini dipertemukan
musafir dan anak peribumi.
Kuucap salam persaudaraan
di depan permatangan padi
kerinduan pada silam
keberkatan yang melimpah.
Danau Singkarak
Gerhana di langitmu.
*Tersiar di Utusan Borneo 26 April 2015
membelakangi danau Singkarak
aku adalah tamu
kau, anak yang pulang.
Danaumu berombak
langit senja
di sini dipertemukan
musafir dan anak peribumi.
Kuucap salam persaudaraan
di depan permatangan padi
kerinduan pada silam
keberkatan yang melimpah.
Danau Singkarak
Gerhana di langitmu.
*Tersiar di Utusan Borneo 26 April 2015
Gerhana Bulan* (Suasana)
Gerhana di langit-Mu
membawa pesan peringatan.
Gerhana bulan dan matahari
tanda dan kebenaran
akhir zaman.
Kau sepatutnya sedar
gerhana itu jalan
membuka pintu sukma.
membawa pesan peringatan.
Gerhana bulan dan matahari
tanda dan kebenaran
akhir zaman.
Kau sepatutnya sedar
gerhana itu jalan
membuka pintu sukma.
Pohon Getah* (Suasana)
Aku melihat pohon getah
tumbang dan tercabut
dengan akarnya sekali.
Di tanah waris
getah tua adalah
cerita dari zaman silam.
Tiap pagi kau dilukai
grafiti sejarahmu masih
terguris di dinding sukmamu.
tumbang dan tercabut
dengan akarnya sekali.
Di tanah waris
getah tua adalah
cerita dari zaman silam.
Tiap pagi kau dilukai
grafiti sejarahmu masih
terguris di dinding sukmamu.
Padang Sumatera (UB)(Lanskap)(Terbit)
Tanah danau bukit tinggi
telah menyahut gema suara
turun dari samawi lalu
mengetuk pintu sukmamu
lembut dan menawan.
Di tanah adat membakar selera
budaya Minang akur dengan alamnya.
Debu kerikil dari zaman silam
mengelus dan menghadang musafir
desa-desamu bersulam cahaya
purnama menghalau kegelapan
kau pasrah pada suara memanggil
sukmamu.
Suara itu adalah
doa-doa bersayap
bukan kedatangannya itu
membawa celaka
atau malam membawa
gempa dan Tsunami.
Suara itu bergema dari menara
wajah tawajuh itu pernah berdoa
di bumimu.
Kau tak pernah berhenti
berdoa walaupun
pemuda-pemudamu masih berburu
sedang matari
telah condong ke langit maghrib.
*Tersiar Di Utusan Borneo 26 April 2015
Subscribe to:
Posts (Atom)