Remang senja
danaumu tenang
muazin memanggil tertib.
Para dai masih belum pulang
perjalanannya tanpa sempadan
makin jauh ke negeri gerhana.
Dalam mimpi masa silam
seperti hamparan kenangan
langkahmu masih tak berhenti.
Kerinduan itu
danau yang ditinggalkan
kebenaran cintamu
tak akan luntur
dalam pergolakkan waktu.
Kegelisahanmu sementara
kembang kenanga
di malam kenangan.
*Terbit Di Wadah DBP CS Disember 2015
This collection of poetry is the work of Sabahuddin Senin. All the poems are copyright of the poet. Any publication must get permission from the poet. Most of the poems are written in the Malay language. Sabahuddin Senin is a writer from East Malaysia, Sabah.He studied at the Universiti Sains Malaysia, Penang, NIDA, University New South Wales and the Australian National University, Canberra. He spends most of his time in Malaysia, Australia and Solomon Islands. 13th April, 2011
Tuesday, 7 April 2015
Danau Singkarak* (UB)(Lanskap)(Terbit)
Kita berdua berdiri
membelakangi danau Singkarak
aku adalah tamu
kau, anak yang pulang.
Danaumu berombak
langit senja
di sini dipertemukan
musafir dan anak peribumi.
Kuucap salam persaudaraan
di depan permatangan padi
kerinduan pada silam
keberkatan yang melimpah.
Danau Singkarak
Gerhana di langitmu.
*Tersiar di Utusan Borneo 26 April 2015
membelakangi danau Singkarak
aku adalah tamu
kau, anak yang pulang.
Danaumu berombak
langit senja
di sini dipertemukan
musafir dan anak peribumi.
Kuucap salam persaudaraan
di depan permatangan padi
kerinduan pada silam
keberkatan yang melimpah.
Danau Singkarak
Gerhana di langitmu.
*Tersiar di Utusan Borneo 26 April 2015
Gerhana Bulan* (Suasana)
Gerhana di langit-Mu
membawa pesan peringatan.
Gerhana bulan dan matahari
tanda dan kebenaran
akhir zaman.
Kau sepatutnya sedar
gerhana itu jalan
membuka pintu sukma.
membawa pesan peringatan.
Gerhana bulan dan matahari
tanda dan kebenaran
akhir zaman.
Kau sepatutnya sedar
gerhana itu jalan
membuka pintu sukma.
Pohon Getah* (Suasana)
Aku melihat pohon getah
tumbang dan tercabut
dengan akarnya sekali.
Di tanah waris
getah tua adalah
cerita dari zaman silam.
Tiap pagi kau dilukai
grafiti sejarahmu masih
terguris di dinding sukmamu.
tumbang dan tercabut
dengan akarnya sekali.
Di tanah waris
getah tua adalah
cerita dari zaman silam.
Tiap pagi kau dilukai
grafiti sejarahmu masih
terguris di dinding sukmamu.
Padang Sumatera (UB)(Lanskap)(Terbit)
Tanah danau bukit tinggi
telah menyahut gema suara
turun dari samawi lalu
mengetuk pintu sukmamu
lembut dan menawan.
Di tanah adat membakar selera
budaya Minang akur dengan alamnya.
Debu kerikil dari zaman silam
mengelus dan menghadang musafir
desa-desamu bersulam cahaya
purnama menghalau kegelapan
kau pasrah pada suara memanggil
sukmamu.
Suara itu adalah
doa-doa bersayap
bukan kedatangannya itu
membawa celaka
atau malam membawa
gempa dan Tsunami.
Suara itu bergema dari menara
wajah tawajuh itu pernah berdoa
di bumimu.
Kau tak pernah berhenti
berdoa walaupun
pemuda-pemudamu masih berburu
sedang matari
telah condong ke langit maghrib.
*Tersiar Di Utusan Borneo 26 April 2015
Monday, 6 April 2015
Catatan Gerhana Bulan (AMNS)
Pengkalan malam di hujung tanjung
menunggu datangnya gerhana
membawa berita samawi
rahsia sukmamu tersingkap
peronda malam telah menjauh
Inayat-Mu tiba dengan kepak perkasa
kegelapan telah menyusut
tiap isyarat tak akan berubah
di sini, aku masih memanggilmu
malam ini sayap gelombang meredah
Tapi, gerhana malam ini akan
mengumpul para mutaki tawajud.
nafas gurun di waktu malam
menyerap ayat-ayat-Mu
menyerap ayat-ayat-Mu
bukankah rukumu berganda
sujudmu dipanjangkan
langit saksi zaman tak akan
merubah takdir dan ketentuan malam
doa-doamu mengalir seperti air jernih
dari menara tinggi pulang ke lembah.
sujudmu dipanjangkan
langit saksi zaman tak akan
merubah takdir dan ketentuan malam
doa-doamu mengalir seperti air jernih
dari menara tinggi pulang ke lembah.
Kota Warisan*(Lanskap)
Di bumimu aku melihat
seribu warna pelangi
tiap halaman terbaca
keindahan sebuah kota
ketenangan langit
mencipta hening berdoa
ketulusan zikir dalam
sukma di Kota Warisan.
Aku berada di kotamu
ketika gerimis turun
menyentuh wajah bumimu
dan isyarat itu
memanggilmu tak berhenti
pertarungan dalam sukma.
*Dikirimkan ke Utusan Borneo pada 24 April 2015
seribu warna pelangi
tiap halaman terbaca
keindahan sebuah kota
ketenangan langit
mencipta hening berdoa
ketulusan zikir dalam
sukma di Kota Warisan.
Aku berada di kotamu
ketika gerimis turun
menyentuh wajah bumimu
dan isyarat itu
memanggilmu tak berhenti
pertarungan dalam sukma.
*Dikirimkan ke Utusan Borneo pada 24 April 2015
Subscribe to:
Posts (Atom)