Thursday, 4 September 2014

Peti Pandora*(Puisi)(Terbit) (HE)


Kau sendiri tak tahu
dalam peti Pandora
sejak terakhir kata-katamu
mulai bercelaru
gema suaramu terdengar
mendayu-dayu
di lembah kata dan bual.

Ketika api
membakar rimbamu
langit jerebu
memenuhi ruang angkasa
Kau tak tau
ke arah mana gerak mata angin.

Melindungi kedamaian
harus di langit tenang
kebencian tak akan bercambah
di tanah gersang
kasih Sayang
menawan lembah sukmamu.

*Tersiar Di Daily Express 7 Jun 2015

Wednesday, 3 September 2014

Bangsa Palestine, Doa Kami Bersamamu

Aku tak akan berhenti menegurmu
tak akan menggunakan kekerasan
dan kezaliman.
Kau telah menghiaskan kata-katamu
sekalipun isi retorika tetap sama
kau tak akan menukar haluan gelombang.

Apakah kau tak melihat  masa silammu
tanpa mempelajari sejarah dan membelakangkannya.
Tiap hari kau menimbun bangkai di langit terbuka
tiap malam gundah tidurmu makin tak terkawal.

Apakah selamanya dunia berada di pihakmu?
Satu hari mereka akan bertukar pendirian
kala itu kau sendirian mencari sekutu
pada selembar daun atau lubang anak ketam
di pantai.

Israel ingin dihormati kerana sejarak tragik
masa silammu
tapi kejahatanmu hari ini menutup pintu-pintu
jiranmu.
Kau sudah diperingatkan pada satu masa
tak ada jalan pulang atau pengampunan tulus.

Berhentilah, biarkan langit  tenang
bumimu tidur sejenak dari kelangsungan Perang
Isreal seluruh tubuhmu mengering dengan darah Palestine
kelihatannya kau makin suka menyiksa dan membunuh.

Aku tau ada di antaramu
menyesali tindakan Benjamin Netanyahu
Mengapa diam dan tak bertindak
membiarkan burung-burung Kondor
melingkari langit Palestine mencium bau mayat.
Kegilaan Netanyahu harus stop
Israel berhenti
merampas Tanah Palestine.

Bangsa Palestine, kau tak sendiri
doa kami bersamamu.

Pendatang Malam buat Aziz Zitan (Boat People)

Aku mengikuti jejak perjalananmu di petala bumi ini
kakimu melangkah tak berhenti hanya ketika kau
merasa kantukmu berkali-kali memberi peringatan
tidurlah, supaya esok kakimu dapat melangkah
dan menyeberangi sempadan ke negeri asing
tak pernah kau mimpikan di sini kau akan tiba
tanpa ada orang berkumpul mengucap selamat datang.

Tiap perhentian, berhenti sebentar, mencari ketenangan
meredahkan denyut jantung supaya kau dapat tersenyum
tanpa dicurigai. Kau adalah musafir di alaf 21,
pengembara yang dirinya tak pasti esok mau ke mana.
apakah ia mengejar bayang-bayangnya atau
ia segaja membiarkan dirinya hanggus ditelan waktu
sebagai pendatang malam.

Kau tak pernah berundur, langkahmu ke depan
ingatanmu tentang tanah leluhur makin gelap
lupa pada keindahan dan kehebatan bangsamu
sebenarnya kau adalah musafir rohani yang
menyerahkan dirimu kepada Tuhan Semesta Alam
membawamu ke pohon rendang  tempatmu
beristirehat memandang bintang malam
menceduk mimpi dan harapan.

Ketika mereka menyuruhmu pulang
melangkah balik ke sempedan sebelumnya
kau adalah musafir tak punya apa-apa
Passport mati dan tak ada jalan pulang.
kau seperti berdiri di sejengkal tanah
yang terapong di tengah samudera lautan.

Kau tak akan berhenti mencuba terus
mereka tak akan dapat mematahkan
semangat dan pengorbanan ini.
Kebenaran yang kau pegang
suatu hari akan membawamu pulang
kemenanganmu adalah kesabaran
dan keberanianmu adalah lautan tak bertepi
doa-doamu adalah cahaya yang tak akan padam.
Bertahanlah seperti gunung
pasti ada siang yang membawa khabar dan harapan.

Tuesday, 2 September 2014

Perubahan*(ITBM)


Apa lagi yang disembunyi
namanya musuh
punya kepentingan sendiri
besok atau lusa
kau memutuskan siratul-rahim
kerana kau memilih
jalan pulang ke selatan.

Bagaimana aku dapat
menyakinkanmu
isyarat samawi membawa
musim perubahan
Kau tak melihat siang
ketika malam berlalu
berdusta.

Namanya pun
adalah saksi kebenaran
langit dan bumi
adalah bukti.
Kau tak akan dapat
meniadakan sinar
telah masuk
ke dalam kamarmu.


*ITBM Jun 2015


Percakapan Sendiri di Tanah Palestin (Palestine)

Kau telah pandai membedakan
yang asli dengan kaca.
Kebenaran dan Penipuan yang mutlak
suara protesmu sampai ke pintu Gaza
dan tabir Samawi.
Kemarahanmu bagai gelombang tak dapat
dikongkong oleh waktu.
Keadilan telah hancur tanah pasir
di bawah puing-puing bangunan yang
hancur.

Inilah hadiah kemerdekaan,
kau dapat menyatakan kepada dunia
pendirian dan sikap
dan kejahatan suatu bangsa
yang zalim.

Soalnya, hari ini
kau melihat kejahatan itu di pihaknya
bagaimana pula kalau itu berputar esok
lalu kau pula jadi fanatik bangsa
dan penyiksa yang zalim di Tanah Peribumi.

Ya Rabbi, mohon dijauhkan
Kau Maha Perkasa dan Maha Pelindung.



Monday, 1 September 2014

Erti Sebuah Kemerdekaan* (Kemerdekaan)

Terus-terang ketika aku mendengarmu
kau ingin membelah purnama di langit
tanpa berkata apapun aku mendoakanmu
sekalipun kau menconteng kebenaran.

Di langitmu tanda-tanda hujan akan turun
menanggalkan jeritan sukmamu selama ini
kau mendera desamu sendiri kerana
ingin memberi laluan sebuah harapan.

Kalau kau ingin mencipta kedamaian
mengapa kau memakai bahasa dendam
sampai jauh ke pusar mimpi benar
meniup bara api di pojok sukmamu.

Kemerdekaan ini adalah ikat jaminan
ketenteraman di langit kedamaian di bumi
kebenaran ini wajah anak segala bangsa
kau sendiri dilindungi sepanjang musim.

Sekali kau membuka pintu amarah
kau tak akan berhenti menyiksa
bumi peribumi melaung keperihan
lalu kau cipta mitos dan legenda palsu.

Fitratmu kebaikan dan kasih-sayang
budaya adalah kemakmuran bangsamu
bukan gema suara berpuak yang hinggap
pada suatu siang di pohon merdeka.

*10 Puisi dikirimkan pada 27 April 2015



Serigala Kerap Turun Mengikuti Jejak Anak Manusia.*(Jurnal Puisi Melayu)

Kau menyisip
dalam malam gelap
memburu mangsa tanpa
tau sendiri telah diekori
kedatanganmu merubah
antara hidup dan mati.
Ketika kau terpanggil
menerima perintah
matamu tak berkelip
sekalipun kau harus
melangkah sempadan
ke tanah asing.

Ombak berkecamuk
membanting dirinya ke tepian.
Tiap tanjung ada isyarat
kau keluar dari lubang
sedikitpun tak terconteng.
Kalau kau ingin kelipan bintang
hanya pada malam perkasa.

Malam ini, kau pemenang
esok, tiada yang tahu
rumah kaudirikan
berbumbung tak berdinding.
Serigala dari pergunungan
kerap turun mengikuti jejak
dan bau tubuh sihatmu.

*Dikirimkan  ke Jurnal Puisi Melayu, 14 Julai 2015