Bumimu seperti hamparan kain kafan tak pernah putus
bunga-bunga mimpi telah lama gugur di tanah peribumi
malam kelam adalah bayangan maut yang mengintai
anjing pun terasa muak mencium bau mayat tertindih
puing-puing bangunan yang ranap dan hancur.
Musuh-musuh tambah ghairah menembak
seperti binatang buruan atau permainan sukan
tiada perasaan keciwa atau bersalah
sedang dunia melihat kebiadapan ini
tanpa melafaz kaka-kata keras memberhentikan
kekerasan dan kekejaman tanpa ada rasa
tanggung jawab dan naluri kemanusiaan.
Yang mengherankan demi ambisi politik
dan kebengkokan hidup mereka sanggup
melakukan apa saja demi bangsa dan impian Zionis
membunuh, merampas dan peluasan
berdiam dan menundukkan kepala tanpa perlawanan
sedangkan hak-hak dan maruah diri
ditendang di atas debu jalanan.
Hak milikmu telah terlepas di tangan orang lain
mereka merencanakan ini jauh dari sebelumnya
saudara-saudara sebangsa telah meninggalkanmu
dan melupakan penderitaan dan kezaliman
yang ditimpakan ke atasmu
Suara-suaramu tertimbus dalam letusan bom
kau memanggil dunia telinga yang tak mendengar
senandung malam kerudungmu lama sudah tak
memanggil perhatian dan simpati bangsamu.
Solidaritas bangsa Arab penuh dengan curiga
Ummatun wahidah pada prinsifnya
sedangkan tindakan berubah dan berlainan
dalam semua musim dan kebutuhan.aramu
akhirnya, orang lain berlagak penabur
kedamaian walaupun mereka sebenarnya
ada udang di sebalik batu.
Demi samawi dan bumi yang terdera
dan gencatan senjata, berhentilah
membunuh anak-anak dan ibu yang
berdosa.cukup darah yang tumpah
pembantaian massa tak harus berterusan
biarkan lautmu tenang
langitmu membawa berita keamanan
dan keadilan
sekali anak manusia bebas
dari udara sendat dan penjara perang,
This collection of poetry is the work of Sabahuddin Senin. All the poems are copyright of the poet. Any publication must get permission from the poet. Most of the poems are written in the Malay language. Sabahuddin Senin is a writer from East Malaysia, Sabah.He studied at the Universiti Sains Malaysia, Penang, NIDA, University New South Wales and the Australian National University, Canberra. He spends most of his time in Malaysia, Australia and Solomon Islands. 13th April, 2011
Wednesday, 20 August 2014
Muhasabah*(ITBM)
Kau tak pernah terlambat
demi kebaikan tak ada terlambat
telah berlalu adalah pengisian
perjuangan pembaikan mendatang.
Kini bergolak ke arahmu
diterbangkan angin benua jauh
dihanyutkan ke tebing
Pulau sepi di samudera lautan.
Segalanya terangkat kerana doa
kau cari waktu terindah
hamparkan doamu
di pagi malam yang tenang.
Doa adalah kekuatan anugerah
senjata tak mencederai
ketika samawi merenjis salam
sukmamu tersentuh menawan.
Rahsia jawaban kepada doamu
mengalir dari sukma ke hujung lidah
bagaikan kembang Kenanga malam hari
harumnya kepuasan abadi.
Tawajuh ini membawa doa-doa
berkembang dalam sukma mutaki
waktu tak ada takaran meraih
rimbunan kurnia-Mu.
*ITBM Jun 2015
demi kebaikan tak ada terlambat
telah berlalu adalah pengisian
perjuangan pembaikan mendatang.
Kini bergolak ke arahmu
diterbangkan angin benua jauh
dihanyutkan ke tebing
Pulau sepi di samudera lautan.
Segalanya terangkat kerana doa
kau cari waktu terindah
hamparkan doamu
di pagi malam yang tenang.
Doa adalah kekuatan anugerah
senjata tak mencederai
ketika samawi merenjis salam
sukmamu tersentuh menawan.
Rahsia jawaban kepada doamu
mengalir dari sukma ke hujung lidah
bagaikan kembang Kenanga malam hari
harumnya kepuasan abadi.
Tawajuh ini membawa doa-doa
berkembang dalam sukma mutaki
waktu tak ada takaran meraih
rimbunan kurnia-Mu.
*ITBM Jun 2015
Tanah Syria* (Syria)(Boat People)
Kau masih tak melihat walaupun telah
berapa kali kau diperingatkan
tapi, kau masih tak peduli.
Kau masih lalai
mereka memasang empat penjuru
perangkap di kotamu
sebentar lagi langitmu
dicerobohi
tapi kau masih tidur di siang hari.
Sengketa dua saudara
tak ada sempadan dan nokta
keadilan, barang murah dan
bualan kosong.
Yang lain hanya
memandang dengan mata kosong
dan tak berganjak membuat keputusan.
Keadilan telah lenyap
kemusnahan di bumimu
maut berguguran
keamanan, sekelip cahaya
telah menjauh.
Peperangan adalah wabak silam
meragut penghuninya
Mengapa PBB diam dan
kehilangan suaranya sendiri.
Bangsa Arab, kamu tak berbuat
dan membiar orang lain
menyibuk di negaramu sendiri.
Malam gerun telah berlabuh
di tanah Suria,
mendungnya telah berarak
ke tanah Asia.
Peperangan ini
seperti api menjalar
melewati sempadan.
Sekalipun ruang kecil
tapi, pintu keamanan dibuka
bergegaslah ke sana
dan mencari keadilan dari
runtuhan tembuk dan mayat
dan debu kota yang hancur.
berapa kali kau diperingatkan
tapi, kau masih tak peduli.
Kau masih lalai
mereka memasang empat penjuru
perangkap di kotamu
sebentar lagi langitmu
dicerobohi
tapi kau masih tidur di siang hari.
Sengketa dua saudara
tak ada sempadan dan nokta
keadilan, barang murah dan
bualan kosong.
Yang lain hanya
memandang dengan mata kosong
dan tak berganjak membuat keputusan.
Keadilan telah lenyap
kemusnahan di bumimu
maut berguguran
keamanan, sekelip cahaya
telah menjauh.
Peperangan adalah wabak silam
meragut penghuninya
Mengapa PBB diam dan
kehilangan suaranya sendiri.
Bangsa Arab, kamu tak berbuat
dan membiar orang lain
menyibuk di negaramu sendiri.
Malam gerun telah berlabuh
di tanah Suria,
mendungnya telah berarak
ke tanah Asia.
Peperangan ini
seperti api menjalar
melewati sempadan.
Sekalipun ruang kecil
tapi, pintu keamanan dibuka
bergegaslah ke sana
dan mencari keadilan dari
runtuhan tembuk dan mayat
dan debu kota yang hancur.
Sunday, 17 August 2014
Qurub dan Tajalli-Nya*(ITBM)
Kau ingin genggam sebutir bintang
tadah tangan pandang ke samawi
malam itu, komet berjatuhan
berserakan di Cakerawala.
Gerimis men
yapa
goresan usia pada wajah
Tapi kau ingin pelangi
walaupun sebentar.
Memburu di hutan kehilangan jati.
suaramu hilang dalam api membakar
mengheret telapak kakimu
mencari oasis.
Malam itu kau pandang samawi
lalu menyingkap tabirnya
kau temukan pintu qurub
mendorongmu pada tajalli-Nya.
*ITBM Jun 2015
tadah tangan pandang ke samawi
malam itu, komet berjatuhan
berserakan di Cakerawala.
Gerimis men
yapa
goresan usia pada wajah
Tapi kau ingin pelangi
walaupun sebentar.
Memburu di hutan kehilangan jati.
suaramu hilang dalam api membakar
mengheret telapak kakimu
mencari oasis.
Malam itu kau pandang samawi
lalu menyingkap tabirnya
kau temukan pintu qurub
mendorongmu pada tajalli-Nya.
*ITBM Jun 2015
Thursday, 14 August 2014
Kekejaman Di Tanah Peribumi Palestine (Palestine)
Di Tanah Gembur
ia tumbuh berdaun lebar
ia tumbuh berdaun lebar
pohon rendang
memberikan keteduhan
memberikan keteduhan
Kesentosaan alam sejagat.
ladangmu selamat
dari tumbuhan berduri
dari tumbuhan berduri
dan gema suaramu
bukan bahasa benci
bukan bahasa benci
menghalau penghuni peribumi
menyembur darah ke mukanya
menghendap siang-malam
bau hanyir darah dalam udara.
Kekejaman bukan balasan
kepada kekejaman
Langit silam tak menyedarkan
dan mengubah langkahmu
Kau bukan teman
berjiran yang baik.
Adakah di sini jalan kedamaian
yang abadi
sedangkan sukmamu
parah dan menderita
kemenangan yang dituntut
telah lama kabur
angin gelombang jauh ke laut.
Kamu mau menyakinkan
kepada dunia
kebenaran itu
ada pada pihakmu
jawabanmu semua telah ada
generasi penerus
memandang diam
Leluhur yang
tamak dan zalim.
Dunia turun
menyatakan protes
tapi, kamu masih
bersikeras
gencatan senjata itu
adalah jalan sehala.
Kami selalu
menginginkan kedamaian.
Peribumi mengenal
retorikamu mengabui semua mata
sedang malam terlalu panjang
di Tanah Palestine.
Kamu bilang ini bukan perampokan
bukan menghalau penghuni Tanah Peribumi
melarat.
tapi, kenyataan itu telah kami kenal
kata-katamu tak dapat dipegang dari dulu.
kepada kekejaman
Langit silam tak menyedarkan
dan mengubah langkahmu
Kau bukan teman
berjiran yang baik.
Adakah di sini jalan kedamaian
yang abadi
sedangkan sukmamu
parah dan menderita
kemenangan yang dituntut
telah lama kabur
angin gelombang jauh ke laut.
Kamu mau menyakinkan
kepada dunia
kebenaran itu
ada pada pihakmu
jawabanmu semua telah ada
generasi penerus
memandang diam
Leluhur yang
tamak dan zalim.
Dunia turun
menyatakan protes
tapi, kamu masih
bersikeras
gencatan senjata itu
adalah jalan sehala.
Kami selalu
menginginkan kedamaian.
Peribumi mengenal
retorikamu mengabui semua mata
sedang malam terlalu panjang
di Tanah Palestine.
Kamu bilang ini bukan perampokan
bukan menghalau penghuni Tanah Peribumi
melarat.
tapi, kenyataan itu telah kami kenal
kata-katamu tak dapat dipegang dari dulu.
Tuesday, 12 August 2014
Di Lahan Penantian* (Kata)(Metamorposis)
Hujan turun
menjawab panggilanmu
udara dingin
mengusap ibu jari
Siang sirna
seperti ke alam mimpi.
Waktu bagai berhenti
Sendiri.
Cermin di pojokan
telah
sebahagian dari kegelapan.
Di sini bait-bait puisimu
berakhir
di lahan penantian.
Tali itu telah terputus
Pintu tertutup rapat
Tak menakutkan
seperti arus kau terbawa
ke laut.
menjawab panggilanmu
udara dingin
mengusap ibu jari
Siang sirna
seperti ke alam mimpi.
Waktu bagai berhenti
Sendiri.
Cermin di pojokan
telah
sebahagian dari kegelapan.
Di sini bait-bait puisimu
berakhir
di lahan penantian.
Tali itu telah terputus
Pintu tertutup rapat
Tak menakutkan
seperti arus kau terbawa
ke laut.
Monday, 11 August 2014
Tanpa Tangan Bisa Menghalangmu*(Palestine)
Begitu mudah kau
mencontengkan rembulan
lalu mengatakan gerhana
menuduh dengan siasah
kebohongan.
Letusan dalam sukma
bagai gunung berapi
hanya rangkaian doa
mendinginkan amarah.
Kezaliman itu
tanpa sempadan
tanpa mengira anak
orang tua dan wanita.
Kejahatan tumbuh
tanpa mengira musim
tanpa peduli masjid
kau sembur api
dendam.
tanpa tangan bisa
menghalangmu.
kau tak peduli
keperihan dan maut.
mencontengkan rembulan
lalu mengatakan gerhana
menuduh dengan siasah
kebohongan.
Letusan dalam sukma
bagai gunung berapi
hanya rangkaian doa
mendinginkan amarah.
Kezaliman itu
tanpa sempadan
tanpa mengira anak
orang tua dan wanita.
Kejahatan tumbuh
tanpa mengira musim
tanpa peduli masjid
kau sembur api
dendam.
tanpa tangan bisa
menghalangmu.
kau tak peduli
keperihan dan maut.
Subscribe to:
Posts (Atom)