Thursday, 10 July 2014

Soal Palestine buat Kesatuan Negara-negara Arab dan Pemimpin Islam*(UB)(Terbit)

Apa sebenarnya yang terjadi
Ketika Tanah Palestine dizalimi
kau duduk di meja perundingan
tanpa aksi dan keputusan
sedang korban berjatuhan
lalu menjadi tontonan dan keluhan
sesekali di depan mimbar dan meja rundingan.

Di mana salahnya
seperti tiada yang ambil peduli
yang peduli hanya kami
orang kecil dan tak punya kuasa.

Mau di salahkan siapa?
Masaalah ini telah masuk
ke halaman alaf 21.
Telah berapa kali Presiden
berganti
Telah berapa kali negaramu hancur
dibangunkan kembali
dari tulang-belulang
dan ruh-ruh yang terkorban
dan ditampal dengan
propaganda penuh
kebohongan dan janji-janji
yang tak terlaksana.

Kalau aku yang bersuara
kerana reaksi dan sukma tersiksa
sekian lama
Itupun tak akan mengubah situasi semasa.

Mengapa kau bimbang
dan takut pada bayang-bayangmu
Kau seharusnya memainkan perananmu
menonton berita keperihan
Palestine di kaca TV
lalu marah-marah dan memaki-maki.
Apakah itu saja yang dapat kita
lakukan.

Aku tak berkata kau harus menjadi seorang militan
atau ikut berjihad di Tanah Asing
sepatutnya ada pintu lain
kita dapat masuk dan berunding.

Apakah dirimu kehilangan 'hikmah'
Apakah pemimpin-pemimpinmu tak melihat
seperti yang aku lihat.

Barangkali kau tak mengerti
lalu aku pula yang dituduh tak tau
menimbang perkara.
Jatuh korban telah terlalu banyak
perundingan telah terlalu lama
Tanah Palestine, darahmu terus mengalir.

*Tersiar Di Utusan Borneo 13 Julai 2014

Wednesday, 9 July 2014

Ibu Palestine* (UB) (Palestine)(Terbit)

Kamu masih terus mengasak
seperti orang termakan dadah sabu.
Anak-anakmu bergelimpangan
seperti batu dingin dan tak bergerak

Kekerasan dan penderaan kamu
tak akan merubah samawi dan
destinasi Tanah Palestine.

Langit sejagat mencium dahimu
yang mogel
Pulanglah kau sayang
ke langit kejora dan pintu samawi
telah terbuka.

Ummi tak pernah ingin kau disakiti
dan kau adalah anak Palestine
yang lahir untuk perjuangan.
Suamiku, kau juga dilahirkan
dari rahim seorang ibu
menggenggam Tanah Palestine
lalu berkata padamu
Mereka tak akan dapat
melumpuhkan jiwa wiramu
seorang Palestine dan Muslim.

Kamu telah merampas langit
dan menembak bintang-bintang kecil
dan mengembur  tanah  pohon zaitun
tempatmu bermain.

Bangsa apa itu
membunuh anak dan kaum ibu
di siang  dan malam majnun.

Kamu ingin menguburkan Palestine
Tanah Turun-temurun,
di sini, Kekasih-Mu pernah bersamamu
Cintamu tak luntur sampai Kiamat.

Aku seperti dirimu, Palestine sayang
Kau tak akan dapat mematahkan
tulang belakang Palestine
kejantanan dan impian perjuangan.
Ketika kamu menyangka telah berhasil
ibu Palestine terus melahirkan
anak-anak perjuang dari rahim Palestine
demi persiapan esok.

Dan akan berkata, sekarang dan esok
adalah waktu kami
Generasi silih berganti
Kerana perjuangan ini  hidup
dalam mimpi dan impian.

Ketika waktu yang ditunggu itu tiba
Kamu tak akan dapat menidakkan
Tanah Palestine telah merdeka
merdeka, merdeka,
lepas dari belenggu serakah Zionis.

*Tersiar Di Utusan Borneo 3 Julai 2014

Tanah Palestine* (UB) (Palestine)(Terbit)

Kamu semakin jalang dan zalim
membongkar mimpi dan impianmu
kejahatan tak berbatas dan kau
melupakan sejarah hitammu.

Di Tanah Palestine, akarnya menjunam
sampai ke pusat bumi
Kamu hanya berhasil
mematahkan ranting dan dahannya
atau barangkali pohonnya
tapi kamu tak akan memusnahkan
akar tunjang.

Ingat, kamu tak akan dapat
membunuh mimpi dan kemerdekaan
Palestine yang hidup
dalam sukma
ke mana saja mereka pergi
tak akan melupakan
Pohon Zaitun di Tanah Palestine
kunci rumah menunggu kepulanganmu.

Samawi tak akan membiarkan
kejahatanmu yang di luar batas kemanusiaan
Kamu telah melupakan
bagaimana Allah bertindak cepat
dan tepat menembusi sukmamu
dan mencabut urat nadimu.

Kamu tak akan dapat mengakal
kerana Samawi mempunyai rancangannya sendiri.
Seribu malam penyesalan tak akan dapat
mengendurkan laknat yang turun
pada Kamu, bangsa yang bongkak.

Ketika mimpi kamu terbakar hanggus
rumahmu berubah menjadi piung-puing debu
kerongkong dan dadamu tercekik
dan tulang belakangmu patah
halaman sejarah bertukar warna.

Peringatan samawi
adalah kebenaran
tak akan berubah
langit inferno yang kamu ciptakan
samasekali  tak akan merubah
laluan takdir
Tanah Palestine akan merdeka.

*Tersiar Di Utusan Borneo 13 Julai 2014







Tazkirah diri Malam Ramadan

Aku telah memanggilmu
gema suaraku melantun sampai
ke rumahmu di hujung kota.
Kau pun tak dapat berdalih
matari telah menukar wajah
langit dan laut kepulauanmu
setenang Nabalu ketika mendung
telah berangkat.

Pengembala kambing
bimbang tak sudah
Mengapa kambing makan rumput
di kebun orang.

Di lereng bukit
ia memanggil binatang ternaknya
Yang jelas, tak mungkin tersesat
kerana kambing-kambingnya
biasa pulang sendiri.

Sekarang musim memburu
daging hewan buruan mendapat
tempahan tinggi, apalagi kambing liar
di lereng bukit.

Yang nyata sudah lama hutan
bertukar wajah, bukit gondol.
Binatang liar telah menjauh
ke hutan jati dekat sempadan.

Kau telah pulang ke lubukmu
air telah pasang dalam
kapal telah menarik sauhnya
mulakat di lain purnama.






Tuesday, 8 July 2014

Selepas Sungkai Ramadan

Sendiri menaksir gerak jarum jam dinding
pintu malam terbuka luas
kegelapan meminggir memberi laluan
pada cahaya.

Aku bukan pelari yang anggun
tapi, lambat-laun aku tiba di garis terakhir.

Malam telah berangkat dari
sukma
siang akan datang
dengan cahaya
setelah siang pergi
ia akan tinggal sampai kiamat
gelap yang berkepak
tak akan hinggap
di dahan sukma.

Kau telah baiat
di tangan samawi
dan sesudah ini kau tak akan pergi
sebagai petualang atau penderhaka
cahaya penuh purnama
kebenaran di tanah pribumi.

Pohon mangga yang tumbang
buahnya manis dan membuka selera
kerana tangan yang menanam biji semalam
telah berniat sesiapapun boleh
mengecap buahnya.

Menatap bulan Ramadan
dari jendela sukma
tiap malam mendatang
kau terus berkembang
dan mengirimkan cahayamu
kepada yang mendambakan.






Buka Puasa Bulan Ramadan

Siang turun bagai selembar kain
berwarna lalu  perlahan-lahan bertukar
warna matari sirkah yang lembut.

Suaramu berkepak dan berkumandang
di angkasa raya bulan Ramadan
aku memadang ke sukma samawi
seakan berkata, aku sendiri di sini
kirimkan tamu-tamumu.

Ya Rabbi, kalau aku mengulang-ulang
kecintaan ini pada-Mu
kerana aku masih di sini
menyempurnakan puasa
untukmu.

Aku telah jauh mengharung lautan
dan benua
di tanah pribumi ini
kuda semberani dan gazel
kubawa pulang dan makan berbuka.






Mimpi-mimpi Dalam Ramadan*

Kalau aku terlupa mengirimkanmu
kad idil fitri tahun ini
bukan kerana aku telah melupakanmu
tidak juga disegajakan.

Mimpi-mimpiku di bulan Ramadan
membawa kuntum-kuntum kenangan
masa silam
dan rahsia yang tenggelam
di dasar lautan seakan
kesepiannya tak ingin terganggu.

Aku mengenangkanmu
seperti menghidupkan api lilin
dan membuka album lama
merenung seketika lalu
menarik nafas dan menghapuskan
cahaya lilin dengan ibu jari dan telunjuk.

Dalam kegelapan
seperti aku melihat mimpi-mimpi
di layar putiih
pelaku-pelakunya hidup kembali
bergerak dan berbual.

Aku menontonmu
tak terlalu lama, lenyap dari pandangan
lalu dari setitik cahaya
berkembang seperti bunga
indah kemudian berubah menjadi
taman bunga berwarna-warni
sedang lebah-lebah bunga
menyibukkan diri.

Mimpi-mimpi bulan Ramadan
tak pernah menyeramkan
ia datang seperti musim bunga
dalam cahaya gemilang
menghapuskan noda-noda hitam.

Rumahku tak pernah kosong
datanglah tamu-tamu dan musafir
di sini, kau dihormati sebagai
tamu dari samawi.