Kau telah meletakkan bulan balik ke persada
arus sungai Kinabatangan seakan berlalu
tanpa menyapa sebuah kampung di pinggir sungai
Ibu gajah telah menemukan anaknya
hilang di perladangan sawit.
Di tepi jalan seekor tapir terbaring
awan mendung resah jalan jerebu
Sekumpulan kera tersesat menyeberangi
jalan masuk ke desa di musim buah.
Laut berombak sedikit
ada kebakaran di kampung air
di sebuah pulau
lama sudah penyu tak mendarat
tapi, telurnya masih dijual
di pasar pelabuhan Kotaraya.
Kau hanya melihat hutan
dari pinggir jalan
ke dalam sedikit
ada orang mulai berkampung.
Di belakang rumah teres
tumbang pohon mangga
sedang berbuah lebat.
Hari-hari Ramadan
kau menyaksikan jerebu
dibawa angin melewati sempadan.
This collection of poetry is the work of Sabahuddin Senin. All the poems are copyright of the poet. Any publication must get permission from the poet. Most of the poems are written in the Malay language. Sabahuddin Senin is a writer from East Malaysia, Sabah.He studied at the Universiti Sains Malaysia, Penang, NIDA, University New South Wales and the Australian National University, Canberra. He spends most of his time in Malaysia, Australia and Solomon Islands. 13th April, 2011
Sunday, 6 July 2014
Anjung Singgah Ramadan*
Anjung Singgah Ramadan
tak berdinding dan berpintu
tiap kalbu yang singgah
disambut cahaya bulan
Di sini saudaraku tak disuruh pulang
menjamumu tanpa banyak bertanya
burung gagak di pohon tinggi
kucing kota turut menumpang
Berita Anjung Singgah
telah didengar Abu Hurairah
dia di antara yang ikut berbaris
di bawah langit terbuka kotaraya
Musafir yang kelelahan
memerah bumi melepaskan dahaga
dan berteduh di bawah bumbung khatulistiwa
pribumi melayan tanpa suara hutannya
mengeluh.
Anjung Singgah Ramadan
adalah Langkar Khana
dijagai malaikat 24 jam
burung-burung pipit singgah
dan bercanda sepanjang malam
tanpa risau
penjaga kota datang menghalau.
Mereka akan menghias malam
dengan lampu neon
dan ketika siang kau
adalah buruan hukum.
Anjung Singgah Ramadan
lanjutan rahmat dari masa silam
sampai hari ini
dan kemakmuran itu
adalah hak peduli padamu.
tak berdinding dan berpintu
tiap kalbu yang singgah
disambut cahaya bulan
Di sini saudaraku tak disuruh pulang
menjamumu tanpa banyak bertanya
burung gagak di pohon tinggi
kucing kota turut menumpang
Berita Anjung Singgah
telah didengar Abu Hurairah
dia di antara yang ikut berbaris
di bawah langit terbuka kotaraya
Musafir yang kelelahan
memerah bumi melepaskan dahaga
dan berteduh di bawah bumbung khatulistiwa
pribumi melayan tanpa suara hutannya
mengeluh.
Anjung Singgah Ramadan
adalah Langkar Khana
dijagai malaikat 24 jam
burung-burung pipit singgah
dan bercanda sepanjang malam
tanpa risau
penjaga kota datang menghalau.
Mereka akan menghias malam
dengan lampu neon
dan ketika siang kau
adalah buruan hukum.
Anjung Singgah Ramadan
lanjutan rahmat dari masa silam
sampai hari ini
dan kemakmuran itu
adalah hak peduli padamu.
Sahur Ramadan, Aku Di Belakangmu Kekasih
Salam pada matari
menyingkap siang
di garis mula nafasmu terkumpul
sebuah perjalanan adalah
pengorbanan yang reda.
Salam pada bulan
aku lebur dalam cahaya
kata-kata memanggil-Mu
tunduk mencium
hamparan bumi.
Aku tak akan menentang
graviti dan nizam
seribu malam bagai
bunga-bunga di taman samawi.
Di ruang malam
ada seorang khadim
minum segelas susu dengan gula merah
sehabis 5 biji kurma
menunggu
datangnya panggilan.
Sahur
membawa pulang sisa-sia
malam
dingin subuh
menyentuh sukma bumi
aku berdiri di belakangmu kekasih.
menyingkap siang
di garis mula nafasmu terkumpul
sebuah perjalanan adalah
pengorbanan yang reda.
Salam pada bulan
aku lebur dalam cahaya
kata-kata memanggil-Mu
tunduk mencium
hamparan bumi.
Aku tak akan menentang
graviti dan nizam
seribu malam bagai
bunga-bunga di taman samawi.
Di ruang malam
ada seorang khadim
minum segelas susu dengan gula merah
sehabis 5 biji kurma
menunggu
datangnya panggilan.
Sahur
membawa pulang sisa-sia
malam
dingin subuh
menyentuh sukma bumi
aku berdiri di belakangmu kekasih.
Ramadan, Pemburu Malam Telah Dikurung*
Ke mana bintang-bintang
mataku tak dapat menembusimu
jerebu telah seperti awan tebal
dibawa angin malam
Pintu pagar telah dibuka lebih awal
malam ini sekawan burung terbang
bertukar haluan
Ya, hanya malam ini.
Seekor itik bersenandung sayu
kerana kolamnya telah kering
penjaga taman mengingatkan
berkunjunglah ke sini
Kau tak perlu curiga
pemburu malam telah dikurung.
Kekasih, usah menjauh dari
air sungai yang mengalir
seperti doamu tak putus-putus
sedekah dan pengampunanmu
jembatan memanjang ke samawi.
Bagaimana aku menjawab salammu
kau penabur bibit fitnah
di hujung lidahmu
sebagai pemburu malam penyimpan dendam
Muhammad adalah Kekasih Allah
pintu keselamatan langit dan bumi
rahmat seantero alam
yang minum dari air samawimu
tak akan pernah puas.
Malam-malam Ramadan
bayangmu sedikitpun tak akan
memaling kalbu seorang khadim dan Ansar.
mataku tak dapat menembusimu
jerebu telah seperti awan tebal
dibawa angin malam
Pintu pagar telah dibuka lebih awal
malam ini sekawan burung terbang
bertukar haluan
Ya, hanya malam ini.
Seekor itik bersenandung sayu
kerana kolamnya telah kering
penjaga taman mengingatkan
berkunjunglah ke sini
Kau tak perlu curiga
pemburu malam telah dikurung.
Kekasih, usah menjauh dari
air sungai yang mengalir
seperti doamu tak putus-putus
sedekah dan pengampunanmu
jembatan memanjang ke samawi.
Bagaimana aku menjawab salammu
kau penabur bibit fitnah
di hujung lidahmu
sebagai pemburu malam penyimpan dendam
Muhammad adalah Kekasih Allah
pintu keselamatan langit dan bumi
rahmat seantero alam
yang minum dari air samawimu
tak akan pernah puas.
Malam-malam Ramadan
bayangmu sedikitpun tak akan
memaling kalbu seorang khadim dan Ansar.
Saturday, 5 July 2014
Solat Tarawih Malam Pertama Ramadan
Malam perisai
kita telah mengumpul bintang-bintang
di atas sejadah
dan bulan sabit di dalam kalbu.
dalam sunyi malam
Kau buka pintu maghfira
kami menunduk memetik
kuntum-kuntum wangi
di taman-Mu.
dalam keasyikan doa
langit dan bumi bercantum
kita melangkah dan qurub
kepada-Mu.
dalam kata-kata
yang terucap
kita berenang ke pulau-Mu
dengan ikthibar diri.
Nikmat samawi
kepuasan air dari gunung
Nikmat burung di angkasa
kepuasan malam-malam yang tembus.
Bisik dan suara
tak pernah lelah.
Air menitis dari perdu bulan
melegakan haus musafir.
Malam Tarawih
aku seperti bayi
menyusu ibu
dan tak pernah puas
kelazatan solat.
Belenggu yang mengikat
yang mengikat siang dan malammu
telah terlerai
benih-benih kebaikan
telah bercambah di taman
lembah gunung.
kita telah mengumpul bintang-bintang
di atas sejadah
dan bulan sabit di dalam kalbu.
dalam sunyi malam
Kau buka pintu maghfira
kami menunduk memetik
kuntum-kuntum wangi
di taman-Mu.
dalam keasyikan doa
langit dan bumi bercantum
kita melangkah dan qurub
kepada-Mu.
dalam kata-kata
yang terucap
kita berenang ke pulau-Mu
dengan ikthibar diri.
Nikmat samawi
kepuasan air dari gunung
Nikmat burung di angkasa
kepuasan malam-malam yang tembus.
Bisik dan suara
tak pernah lelah.
Air menitis dari perdu bulan
melegakan haus musafir.
Malam Tarawih
aku seperti bayi
menyusu ibu
dan tak pernah puas
kelazatan solat.
Belenggu yang mengikat
yang mengikat siang dan malammu
telah terlerai
benih-benih kebaikan
telah bercambah di taman
lembah gunung.
Thursday, 3 July 2014
Takbir Pertama Bulan Ramadan
Anak bulan
di langit Ramadan
lautan damai
lembah makmur
aku menyambutmu
dengan tawajjuh
dan sukma yang pasrah
di persada-Mu.
Kaulah
madu manisan
di lapangan
aku, lebah, yang
berpergian
menyedut
dari titisan samawi.
di langit Ramadan
lautan damai
lembah makmur
aku menyambutmu
dengan tawajjuh
dan sukma yang pasrah
di persada-Mu.
Kaulah
madu manisan
di lapangan
aku, lebah, yang
berpergian
menyedut
dari titisan samawi.
Lebur Dalam Iradah-Mu*(ITBM)
Seperti ais batu yang
mencair di atas lidah
mengalir dengan kasih
dan tawajuh.
Malammu adalah
hamparan doa
dari seribu kata-kata
yang tercantum.
Kata yang dilafazkan
sederhana dari
kalbu yang pasrah
menemukan dirinya.
Tiap pengulangan
mendekatkan
pada pintu makrifat
lalu lebur dalam iradah-Mu.
*ITBM Jun 2015
mencair di atas lidah
mengalir dengan kasih
dan tawajuh.
Malammu adalah
hamparan doa
dari seribu kata-kata
yang tercantum.
Kata yang dilafazkan
sederhana dari
kalbu yang pasrah
menemukan dirinya.
Tiap pengulangan
mendekatkan
pada pintu makrifat
lalu lebur dalam iradah-Mu.
*ITBM Jun 2015
Subscribe to:
Posts (Atom)