Aku menunggu di pintu Ramadan Al Mubarak
bukan kerana aku tak berdoa sebelum ini
atau tak pernah sujud kepada-Mu
tapi, kedatanganmu menggenapkan harapan
Aku merindukanmu seperti para mutaki
di zaman permulaan dan kini
aku berada di penghujung
Ini aku datang, sekujur tubuh
denyut jantung masih teratur
aku masih bisa berlari walaupun tak
sepantas kijang di tanah lembah.
Sebatang pohon rendang di halaman sukma
daunnya lebar dan di situ ada sebatang sungai
yang jernih, aku mandi sepuas-puasnya.
Ramadan, biar Ramadan menyerap
ke dalam sukma, dari sana ia mengalir
ke dalam urat-urat serambi sampai ke ubun-ubun.
Aku bukan tetamu yang jarang-jarang pulang
aku telah merendahkan sayap ini
Lihatlah, samawimu ada sarang madu
dan menitis sepanjang waktu
lalu madu ini mengalir menjadi sungai
semua orang pun dapat menikmatinya.
Kini aku terserap pula seperti madu
menitis dan mengalir.
This collection of poetry is the work of Sabahuddin Senin. All the poems are copyright of the poet. Any publication must get permission from the poet. Most of the poems are written in the Malay language. Sabahuddin Senin is a writer from East Malaysia, Sabah.He studied at the Universiti Sains Malaysia, Penang, NIDA, University New South Wales and the Australian National University, Canberra. He spends most of his time in Malaysia, Australia and Solomon Islands. 13th April, 2011
Sunday, 8 June 2014
Saturday, 7 June 2014
Dengan Sayap Kalam Aku Menerobos Samawi*(ITBM)
Setengah kurun kau
menyulami purnama
di langit kalbu
mindaku merayau
ke cakeralawala
galaksi ilmu
menebus pada
kerinduanku sendiri.
Aku telah mencium
harum bunga mawar
mendengar gema nasihatmu
bagai air mencurah
dari samawi.
Kau telah
mengajarku
mengerakkan
otot, sukma dan minda.
Pada air
yang mengalir
pada daun kering
yang lurut
dari gagangnya
pada sepi malam dan
bintang berserakan
Kau ada di situ.
Kau telah
memberikan aku kalam
menyelam
sampai ke dasar lautan
lalu terbang ke samawi
mengirimkan kerinduanku.
Pada pohon-pohon jati
di rimbamu
gunung bertahan
di lembah kalbu
kupacak huruf Alif
pada tanah gersang
pada pulau-pulau huruf lam
danau di kalbu huruf mim.
Aku melukismu
dengan warna hijau
amenyerapmu
dengan mawar merah
menciummu bau tanah
aku bertanya lalu
Kau menjawab.
Siang dan malam
malam dan siang.
*ITBM Jun 2015
menyulami purnama
di langit kalbu
mindaku merayau
ke cakeralawala
galaksi ilmu
menebus pada
kerinduanku sendiri.
Aku telah mencium
harum bunga mawar
mendengar gema nasihatmu
bagai air mencurah
dari samawi.
Kau telah
mengajarku
mengerakkan
otot, sukma dan minda.
Pada air
yang mengalir
pada daun kering
yang lurut
dari gagangnya
pada sepi malam dan
bintang berserakan
Kau ada di situ.
Kau telah
memberikan aku kalam
menyelam
sampai ke dasar lautan
lalu terbang ke samawi
mengirimkan kerinduanku.
Pada pohon-pohon jati
di rimbamu
gunung bertahan
di lembah kalbu
kupacak huruf Alif
pada tanah gersang
pada pulau-pulau huruf lam
danau di kalbu huruf mim.
Aku melukismu
dengan warna hijau
amenyerapmu
dengan mawar merah
menciummu bau tanah
aku bertanya lalu
Kau menjawab.
Siang dan malam
malam dan siang.
*ITBM Jun 2015
Jam Dinding Sukmamu*(ITBM)
Aku melirik jam dinding
masih berdetak.
Kau duduk kepala menunduk
dahi bertongkat tangan kiri.
Di halaman malam
bulan berkembang seperti bunga.
Di luar ada sepasang sayap
memanggilmu tak berhenti.
Jam di dinding sukma
Senyap.
cakerawala pun diam
di galaksi dan planet baru.
Hanya rembulan
di kanan langitmu
berkibar bendera sukma.
Di tanah gembur itu
serambi darahmu
menjalar dan menghisap
air samawi.
Kau telah diperingatkan
kapal akan berangkat
jangan jadi penumpang yang lewat.
*ITBM Jun 2015
masih berdetak.
Kau duduk kepala menunduk
dahi bertongkat tangan kiri.
Di halaman malam
bulan berkembang seperti bunga.
Di luar ada sepasang sayap
memanggilmu tak berhenti.
Jam di dinding sukma
Senyap.
cakerawala pun diam
di galaksi dan planet baru.
Hanya rembulan
di kanan langitmu
berkibar bendera sukma.
Di tanah gembur itu
serambi darahmu
menjalar dan menghisap
air samawi.
Kau telah diperingatkan
kapal akan berangkat
jangan jadi penumpang yang lewat.
*ITBM Jun 2015
Wednesday, 4 June 2014
Sungai Samawi Mengalir Ke Dalam Sukmamu*(ITBM)
Sungai, kau telah mengalir dari setitis air
antara dua lembah gunung ke laut lepas
arusmu perlahan melewati batu-batu kelikir
dan lapisan tanah dan celah-celah bukit
berlenggang-lengguk lalu membesar dan
menjadi air terjun dan namamu di hujung lidah.
Sukmamu tak pernah mengalah pada ratusan tahun
dan tak akan pernah kering dalam segala musim.
Sungai ini telah bercabang dari satu sampai puluhan
malah ratusan, ada yang menjadi sungai kecil dan
ada pula menjadi sungai yang besar dan bercantum
dengan laut teduh dan lautan senantiasa bergelora.
Di bawah langit, sungai ini senantiasa mengalir
dan tak akan berhenti sampai akhir zaman
Ia tetap mengalir dan dan memasuki desa-desa
dan daerah-daerah perang dan memukul-mukul
benteng Zulkarnain di Asia Tengah.
Pada bulan purnama, kau dapat melihat
sungai yang ini di dalam cahaya bulan.
sungai ini adalah mengalir dari masa silam
dan menjangkau langkaran ke masa mendatang.
dan mulut-mulut yang dahaga akan minum
dari sungai ini dan mereka tak akan merasa puasa
Dari Kepala kampung, Kepala suku, Orang hulu
dan orang kota, dari orang kebanyakkan, pelampau kanan,
kiri, golongan pembangkang dan Presiden dan
orang-orangnya, monarki, republikan dan demokratis
dan regim diktator, orang lapar dan kaya,
kulitnya putih, hitam, coklat, sawo matang
akan minum dari sungai ini.
Airnya tak pernah kering, senantiasa mengalir
langit akur menurunkan hujan ketika airnya mulai
menjadi surut. Tiada yang mampan semuanya
dapat ditembusi oleh sungai berbarkat ini.
tulang-tulang dan tengkorak dan nyanyi mantera
yang membosankan itu disepak ke sana ke mari
dan orang tak mempedulikannya lagi.
Sungai ini adalah kehidupan dan sumbernya
dari samawi, airnya bening dan manis
ia mengalir dari tangan yang menciptanya
dari tangan Kekasih-Nya
kini ia mengalir lagi tanpa sempadan waktu
masuk ke dalam sukma
dan sukmamu berdegup hidup
Khabarnya ada orang yang ingin mengeringkan
sungai ini, tapi tak pernah berhasil sejak masa silam
dan sekarang ia mencuba lagi
tapi percubahannya tetap tak akan berhasil
gerhana di sukmamu telah menjauh dan sirna
dan kemerdekaan dan kemenangan ini
telah tersurat dan khabarnya telah pun dialamatkan
Tabir malam yang tersingkap
Ini adalah kebenaran, para mutaki yang sirna
dalam doa-doa terus memohon bukan golongan
yang berpaling atau bangsa yang derhaka.
Malam-malam Ramadan Al Mubarak
pintu samawi terbuka luas
meraih terkabulnya doa dan sempurnanya kasyaf
lalu kau mengatakan memang benar
Aku bukan diciptakan sia-sia.
*ITBM Jun 2015
antara dua lembah gunung ke laut lepas
arusmu perlahan melewati batu-batu kelikir
dan lapisan tanah dan celah-celah bukit
berlenggang-lengguk lalu membesar dan
menjadi air terjun dan namamu di hujung lidah.
Sukmamu tak pernah mengalah pada ratusan tahun
dan tak akan pernah kering dalam segala musim.
Sungai ini telah bercabang dari satu sampai puluhan
malah ratusan, ada yang menjadi sungai kecil dan
ada pula menjadi sungai yang besar dan bercantum
dengan laut teduh dan lautan senantiasa bergelora.
Di bawah langit, sungai ini senantiasa mengalir
dan tak akan berhenti sampai akhir zaman
Ia tetap mengalir dan dan memasuki desa-desa
dan daerah-daerah perang dan memukul-mukul
benteng Zulkarnain di Asia Tengah.
Pada bulan purnama, kau dapat melihat
sungai yang ini di dalam cahaya bulan.
sungai ini adalah mengalir dari masa silam
dan menjangkau langkaran ke masa mendatang.
dan mulut-mulut yang dahaga akan minum
dari sungai ini dan mereka tak akan merasa puasa
Dari Kepala kampung, Kepala suku, Orang hulu
dan orang kota, dari orang kebanyakkan, pelampau kanan,
kiri, golongan pembangkang dan Presiden dan
orang-orangnya, monarki, republikan dan demokratis
dan regim diktator, orang lapar dan kaya,
kulitnya putih, hitam, coklat, sawo matang
akan minum dari sungai ini.
Airnya tak pernah kering, senantiasa mengalir
langit akur menurunkan hujan ketika airnya mulai
menjadi surut. Tiada yang mampan semuanya
dapat ditembusi oleh sungai berbarkat ini.
tulang-tulang dan tengkorak dan nyanyi mantera
yang membosankan itu disepak ke sana ke mari
dan orang tak mempedulikannya lagi.
Sungai ini adalah kehidupan dan sumbernya
dari samawi, airnya bening dan manis
ia mengalir dari tangan yang menciptanya
dari tangan Kekasih-Nya
kini ia mengalir lagi tanpa sempadan waktu
masuk ke dalam sukma
dan sukmamu berdegup hidup
Khabarnya ada orang yang ingin mengeringkan
sungai ini, tapi tak pernah berhasil sejak masa silam
dan sekarang ia mencuba lagi
tapi percubahannya tetap tak akan berhasil
gerhana di sukmamu telah menjauh dan sirna
dan kemerdekaan dan kemenangan ini
telah tersurat dan khabarnya telah pun dialamatkan
Tabir malam yang tersingkap
Ini adalah kebenaran, para mutaki yang sirna
dalam doa-doa terus memohon bukan golongan
yang berpaling atau bangsa yang derhaka.
Malam-malam Ramadan Al Mubarak
pintu samawi terbuka luas
meraih terkabulnya doa dan sempurnanya kasyaf
lalu kau mengatakan memang benar
Aku bukan diciptakan sia-sia.
*ITBM Jun 2015
Monday, 2 June 2014
Wanita Melihat Langit Dari Kaca Krystal*(Suasana)
Kau, wanita melihat
langit dari kaca krystal
Malam majnun menghapuskan
grafiti sejarahmu di dinding sukma
meninggalkan tanah leluhur
mencari suaka di benua asing
empat anak duduk
di tepi jendela
langit malam mengintai
bulan purnama di horizon
'Kami akan ke sana.'
Mereka telah jauh berlenggang
gelombang waktu
seperti benang kusut
di Tanah Khatulistiwa
mimpi mereka telah melayang jauh
ke cakerawala dan galaksi baru
mengharap esok membawa
berita baru.
Tiap hari ia
cuba meraih purnama
'Datanglah esok wanita.'
cerita bergema dari telinga ke telinga
kematianmu terputus
impian suaka di negeri selatan utara
kandas di Tanah asing
terbuang ke lautan
tanpa ada hari berkabung.
langit dari kaca krystal
Malam majnun menghapuskan
grafiti sejarahmu di dinding sukma
meninggalkan tanah leluhur
mencari suaka di benua asing
empat anak duduk
di tepi jendela
langit malam mengintai
bulan purnama di horizon
'Kami akan ke sana.'
Mereka telah jauh berlenggang
gelombang waktu
seperti benang kusut
di Tanah Khatulistiwa
mimpi mereka telah melayang jauh
ke cakerawala dan galaksi baru
mengharap esok membawa
berita baru.
Tiap hari ia
cuba meraih purnama
'Datanglah esok wanita.'
cerita bergema dari telinga ke telinga
kematianmu terputus
impian suaka di negeri selatan utara
kandas di Tanah asing
terbuang ke lautan
tanpa ada hari berkabung.
Gemerincing Kaki Angin dan Purnamamu*(Harian Express)
Aku semakin rindu pada kanvas kosong
dalam sukmaku ada warna telah kupilih
sedikit sentuhan kanvas ini berganti wajah.
Aku dengar gemerincing kaki angin di hutan jati
lembut menawan seperti gumalai penari Keraton
ketika kupejam mata yang hampir tertutup
bagai degung bunyi gamelan dari samawi.
Kau yang menuangkan kasyaf ke dalam mata
dan aku menafsirkan pesan khabar gembira
aku telah mencium musim bunga di udaramu
diam alam bernafas dari perdu sampai ke akar.
Kata-kata gerhanamu telah hapus tenggelam
kegelisahanmu telah berakhir dan duka laramu
komet yang hanggus dan kuasa manteramu
telah patah sayap dan sirna selamanya.
Dalam diam bertafakur kata-kata lahir semula
gerak sukmamu, bagai kau telah melewati silam
sentuhan di kulitmu bagai perdu yang menetas
gemerincing kaki angin datang membawa alamat.
Doamu akhirnya terkabul dalam denyut waktu
seperti kuda semberani yang tangkas itu telah
membawamu ke garis kemenangan terakhir
sejak itu purnama tak pernah lepas dari sukmamu.
*Disiarkan Harian Ekspress 5 Jun 2016
dalam sukmaku ada warna telah kupilih
sedikit sentuhan kanvas ini berganti wajah.
Aku dengar gemerincing kaki angin di hutan jati
lembut menawan seperti gumalai penari Keraton
ketika kupejam mata yang hampir tertutup
bagai degung bunyi gamelan dari samawi.
Kau yang menuangkan kasyaf ke dalam mata
dan aku menafsirkan pesan khabar gembira
aku telah mencium musim bunga di udaramu
diam alam bernafas dari perdu sampai ke akar.
Kata-kata gerhanamu telah hapus tenggelam
kegelisahanmu telah berakhir dan duka laramu
komet yang hanggus dan kuasa manteramu
telah patah sayap dan sirna selamanya.
Dalam diam bertafakur kata-kata lahir semula
gerak sukmamu, bagai kau telah melewati silam
sentuhan di kulitmu bagai perdu yang menetas
gemerincing kaki angin datang membawa alamat.
Doamu akhirnya terkabul dalam denyut waktu
seperti kuda semberani yang tangkas itu telah
membawamu ke garis kemenangan terakhir
sejak itu purnama tak pernah lepas dari sukmamu.
*Disiarkan Harian Ekspress 5 Jun 2016
Kau Musafir Membawa Sukma* (ITBM)
Kau musafir membawa sukmamu
tapi kau sendiri tak tau di mana
perjalananmu akhir.
Kelihatannya tak ada jalan kembali
pertemuan malam itu adalah
yang terakhir.
Gema suaramu makin jauh
cintamu bagai tak tertahan
dalam pergeseran waktu
terlalu cepat.
Dari barat kau terbawa jauh
ke timur. Kau masih mencari
persinggahan.
Siang yang terkupas
terasa pedih seperti tercuka
Gelisahmu seperti gelombang lautan
mengheret dan mencekekmu
ke Pusat Tahanan
di kepulauan asing.
Barangkali kau tak akan pulang
tanah airmu jadi badai sahara
yang menerjamu dalam mimpi-mimpi gurun.
Kau cuba melupakan
ia selalu menyisip seperti hama
Kini dalam igau malam atau siang
kau berkata selamat tinggal
Kau musafir di persimpangan
Tuhan adalah kompas
dan kau siap pada segala kemungkinan.
*ITBM Jun 2015
tapi kau sendiri tak tau di mana
perjalananmu akhir.
Kelihatannya tak ada jalan kembali
pertemuan malam itu adalah
yang terakhir.
Gema suaramu makin jauh
cintamu bagai tak tertahan
dalam pergeseran waktu
terlalu cepat.
Dari barat kau terbawa jauh
ke timur. Kau masih mencari
persinggahan.
Siang yang terkupas
terasa pedih seperti tercuka
Gelisahmu seperti gelombang lautan
mengheret dan mencekekmu
ke Pusat Tahanan
di kepulauan asing.
Barangkali kau tak akan pulang
tanah airmu jadi badai sahara
yang menerjamu dalam mimpi-mimpi gurun.
Kau cuba melupakan
ia selalu menyisip seperti hama
Kini dalam igau malam atau siang
kau berkata selamat tinggal
Kau musafir di persimpangan
Tuhan adalah kompas
dan kau siap pada segala kemungkinan.
*ITBM Jun 2015
Subscribe to:
Posts (Atom)