Saturday, 12 April 2014

Senyum Seorang Da'i*(ITBM)

Seperti heretan langkahmu
makin perlahan dan kendur
tambahan tongkat dan degup
jantung masih mengimbangi
gerakmu siang dan malam.

Sukmamu tetap subur
seperti taman mutaki
selalu hijau dan wangi.

Kasih-sayangmu adalah
lambang keberanianmu
tak berhenti di sempadan
dan doa tangis itu telah sempurna.

Masihku ingat
musim kering dan jerebu
keretapi meluncur ke dalam terowong
dan desa-desa lemas dalam
gelombang mimpi
dan harapan yang menjauh.

Di dataran tinggi ini,
kami menangis
sebagai bangsa yang kalah
kerana samawi menurunkan hujan
dengan benih-benih yang baik.

Kegelapan menyentuh bola mata
bagai dinding didirikan empat penjuru
tertutup rapat menghalang udara
jabat tangan mesra dari seorang Da'i.

Kau kembali masuk ke dalam kamarmu
melengkapi yang terlupa dan tertinggal
esok mendekat dan kau merelakan
kepulangan ini.

Yang terucap itu janji dan
pada langit sukma yang menitis
dari perdunya
Kesabaran itu, kemenangan
hujan semi membawa khabar baik.

12 April 2014

*ITBM Jun 2015










Thursday, 10 April 2014

Kehilangan MH 370, Tiap Sukma Gundah, Mencari Sekelip Cahaya*(APSPMH370)

Bayangkan ketika pintu tidurmu diketuk
ketika bangun, kau hilang ingatan dan bual.

Kau ingin bertanya atau mengucap salam
tapi, suaramu tak terucapkan, gemanya tak sampai.

Alammu sepi dan semua inderamu tak berkerja
kau paksakan juga seperti menyedut kepul udara terakhir.

Suara yang merontah dan tubuh bergerak memberi isyarat
semuanya kembali kepada sebelumnya.

Aku kehilangan langit dan tanah, seakan tak ada
jalan pulang seperti lingkaran benang yang kusut.

Malam panjang  lautan gundah
tiap pintu bagai tertutup rapat serentak.

Ke mana saja kutoleh ketakutan mengembangkan
kepaknya dan tiap sukma mencari cahaya harapan.

Doa-doa mencair dilidah orang-orang merendah
dalam panik dan kegelapan pekat aku panggil nama-Mu.

Firasat dan doa-doa para musafir dan mereka yang ingat
kepadamu, sedikit demi sedikit langit samawi tersingkap.

Malam yang panjang itu, Kekasihmu menjawab
doa-doa musafir dan pintu Tajalli-Mu terbuka.

Ini adalah ujian, di saat-saat begini
tiap sukma mendambakan kehadiran-Mu.

*Disiarkan dalam antologi Segugus Pasrah Buatmu MH370, book digital, Kuala Lumpur, 2014





Orang Tak Berbangsa* (Suasana)

Sedang minum kopi di pinggir kota
datang seorang ibu tua
senyum dan sopan.

Sebelum ini tak pernah berjumpa
apa lagi dalam mimpi purnama.

Ia memberi salam dan pergi
aku membalas dan ingin
berbual
tapi, dalam keramaian itu ia
hilang.

Suara itu menyampaikan
salam kedamaian
dan lebih dari itu
sebuah doa tulus mengalir
dari sukma ke bola mata.

Kini kau sedang berdiri
di tengah traffik
orang-orang berduyun-duyun
tanpa wajah mencari suaka.

Ke mana pun kau melarat
di belahan dan pelosok bumi
sesat di tanah asing atau
kepulauan atol
kau tak akan hanyut dan tenggelam
ke dasar lautan atau mati lemas
sebagai orang tak berbangsa.

Harimu penuh ketakutan
kau kini sebuah nombor
penungguan tak berakhir
Mimpi-mimpimu telah kau bina
atas keyakinan.

Di tanah peduli ini
kau berhenti berteduh
esok, kau memakai kasut
lalu bercerita untuk menyakinkan

Kau tak pasti di tanah pelangi
kau akan berehat
di atas lidah gelombang laut
di pulau atol tak kesampaian
di pelabuhan sepi yang ditinggalkan
di Pusat Penahanan pengungsi tak berbumbung.

Kepadamu,
ceritamu tak akan berhenti di sini
dan kau terus bercerita
sekalipun mereka tak ingin mendengar
Kekasihmu telah menutup telinga
kusambut salammu kerana
kita saudara sejagat.

10 April 2014









Wednesday, 9 April 2014

Gelombang Malam*(ITBM)

Malam tadi tidurmu
bagai kapal dipukul gelombang
dadamu bagai
ikan di laut keruh cuba
menyedut udara.

Kau menangis
bagai menerja gunung berapi
memuntahkan laharnya.

Kasih-sayang
adalah kalimat indah
bila dilakarkan
oleh seorang kekasih
tapi, bila diucapkan
tanpa rasa dan harapan
igauan mimpi buruk
kata-katamu
adalah kalajenking
yang berdendam.

10 April 2014

*ITBM Jun 2015

Tuesday, 8 April 2014

Mari Kita Melangkah*(Wadah DBPCS)

Mari, kita melangkah
tenang-tenang melihat bagai
anak riang bermain di dunianya sendiri.

Kau tak perlu menyapa
sekalipun salam tak terucap
kau telah sampaikan dari sekilas
pandangan matamu.
Itu sudah cukup.

Ketika kau bertanya
pengakuan yang tulus
sukma dan tubuh ini bergetar
seperti terpanah kalimat suci
menusuk tepat pada sasarannya.

Kau yang ditinggalkan
memang aku tak mampu
menafsirkan di antara seribu malam mendatang
yang jelas samasekali kau tak pernah
dilupakan.

Aku telah lama merantau, katamu
sekarang pun aku seorang musafir
di celah-celah waktu
di ufuk senja
aku melangkah sempadan
dan aku tak akan bermimpi
mengakhirinya sebagai sebuah sandiwara tragik
atau dirindukan sebagai tukang pelawak drama komedi.

Kalau kau tak mendengar
aku dalam beberapa musim mendatang
pada langit selalu ada kedamaian
pada anak-anak huruf tersembunyi ketenangan
dan memang mereka adalah teman-teman
tak akan menyakiti sukma apa lagi
menyimpan dendam gunung berapi.

Aku melihat wajahmu
tetap manis bagai matari pagi
sukmamu
penawar,
perjuangan dan pengorbanan
kerinduan itu adalah
penyempurnaan iman.

9 April 2014

*Tersiar Di Majalah Wadah DBP KK, 2014







Letusan Di Pinggir Mata*(ITBM)

Kau tersiksa dalam pergelutan
kulit-kulitmu luka-luka
waktu tetap mengalir.

Sukmamu merayau
suaramu bagai tersumbat
hilang dalam jerebu perang
jembatan sukmamu
telah runtuh
airmu telah tercemar
sampai ke anak tangga.

Langit pendamai
di kepulauan sepi
kepadamu,
amarah meluap itu.
tak akan ada penyelesaian
meredahkan api
dari kanca peperangan.

9 April 2014
*ITBM Jun 2015

Monday, 7 April 2014

Tanah Pelangi*(ITBM)

Mereka
kini mengintai langitmu
yang tak seberapa pun
bisa menjadi sasaran.

Langit yang ingin didera
masih lembut dan lidahnya masih
melafazkan
bahasa sopan dan memikat
sukma.

Aku tak akan membalasmu
sedang malam tetap tenang
sekalipun sebentar nanti
beritamu akan gempar.

Mendengarmu
dan melihat letusan di matamu
di tanah pelangi ini
suara ini harus didengarkan.

8 April 2014
*ITBM Jun 2015