Tuesday, 8 April 2014

Letusan Di Pinggir Mata*(ITBM)

Kau tersiksa dalam pergelutan
kulit-kulitmu luka-luka
waktu tetap mengalir.

Sukmamu merayau
suaramu bagai tersumbat
hilang dalam jerebu perang
jembatan sukmamu
telah runtuh
airmu telah tercemar
sampai ke anak tangga.

Langit pendamai
di kepulauan sepi
kepadamu,
amarah meluap itu.
tak akan ada penyelesaian
meredahkan api
dari kanca peperangan.

9 April 2014
*ITBM Jun 2015

Monday, 7 April 2014

Tanah Pelangi*(ITBM)

Mereka
kini mengintai langitmu
yang tak seberapa pun
bisa menjadi sasaran.

Langit yang ingin didera
masih lembut dan lidahnya masih
melafazkan
bahasa sopan dan memikat
sukma.

Aku tak akan membalasmu
sedang malam tetap tenang
sekalipun sebentar nanti
beritamu akan gempar.

Mendengarmu
dan melihat letusan di matamu
di tanah pelangi ini
suara ini harus didengarkan.

8 April 2014
*ITBM Jun 2015

Sunday, 23 March 2014

Sendiri Di Lereng Bukit (Suasana)

Berdiri di beranda memandang
pohon cempedak berbuah lebat
lalu melihat rumah tua ini
telah lama kosong dan sepi
Cicak dan Dayang Siti Payung
lama berpindah ke hutan getah.

Ia sendiri di lereng bukit
dulu, ia pernah mendaki
menuruni lurah, memikul
susu getah di hujung malam.

20 April 2014













Tanah Gembur Kasih -Sayang*(ITBM)

Datanglah wahai kekasih-Mu
kehadiranmu melepaskan rindu
terbanglah melalui gerbang ini
indah melihatmu mengembangkan
kepakmu ke pelosok bumi.

Panggilah ia ke telapak tangan
dan berikan benih terbaik yang
kau kumpulkan sejak semalam.

Peganglah tangan ini
jangan kau lepaskan
Kau, dai' yang terpilih.

Kau adalah tanah kasih-sayang
di sini tak ada dendam kesumat
persaudaraan sejagat
kasih-sayangmu selalu lembut
dan penuh pengorbanan
kau tak pernah meminta
tapi, terus memberikan khidmatmu
seperti matari dan bulan
tak pernah bosan atau berpaling.

Aku mengenalmu dengan kasih-sayang
bualmu seperti air madu menitis di lidah
dan tiap nasihat, kau tak akan terasa
atau merasa.

Katamu, tak pernah kau melawan arus
atau melanggar peratoran alam
semua kita lakukan demi kebaikan
justru itu jangan tersinggung
kemajuan harus ditatah dengan
semangat pengorbanan dan jati diri.
Seribu malam tak akan bererti apa-apa
kalau hadirnya tanpa sukma dan ketulusan.

Kalau kasih-sayang telah menjadi
kacau dalam pembendaharaan fikir
kata-kata dan tindakan bercelaru
menjadi tofan dalam sukmamu.

24 March 2014

*ITBM Jun 2015




Air Gunung*(ITBM)

Aku, air dari pergunungan
mengalir perlahan turun ke lembah
sekalipun tak meluncur seperti air terjun
mengalir dan bernyanyi di sepanjang
perjalanan.

Kalaupun mengusik sukmamu
ia menyentuhmu dengan kasih-
sayang.

Biarkan selalu jernih.

Aku bukan orang asing
di bumi pribumi ini
aku biasa membaca bahasa
dan gerak-gerak pertukaran musim.

Bagaimana aku berlaku keras
itu bukan fitrat dan cara
lebih baik diam dan sekali-sekali
memutarkan haluan dan tebing tanah
jatuh ke dalam arus.

Teman terbaik menasihatkan
kalau terlalu banyak bicara
kau membuat banyak musuh akhirnya.

Biarlah aku air jernih
yang mengalir dari gunung
selalu jernih dan dingin.

Dan air mengalir jernih tetap
tak pernah derhaka di sepanjang
perjalanan.

24 March 2014

*ITBM Jun 2015



Thursday, 20 March 2014

Malam Tajalli*((ITBM)

Masihkah kau ingat doa-doa
mengalir dari pintu sukmamu
tiap kata bergetar mengirim maksud
degup jantungmu berdenyut pasrah.

Kau mendaki ke puncak langit samawi
perlahan dan pasti, memandang ke depan.
tiap langkah telah disuratkan
dan tiap tersirat telah dizahirkan
aku tak akan berpatah.

Gazelku, selama ini kau
adalah kekasih rohani
yang perasa dan tetap perasa
dan kuda semberani,
kita masih bersama
derapmu adalah penyataan
hidup yang tak pernah kendur.

20 March 2014
*ITBM Jun 2015

Wednesday, 19 March 2014

Memandang Langit Aurora*(ITBM)

Lama aku ingin menyatakan
suara-suara yang tersirat ini pada
suatu waktu kau 
melafazkannya kerana kita masih
belum terlambat.

Tari cahaya di langit Aurora
bukan kerana kemarahan atau
tipu muslihat 
di sini tak akan ada
yang terbunuh dan dibunuh
yang ada
keyakinan dan pengorbanan.

Samasekali aku tak ingin 
menipumu, sekali pun sekelumit
dendam lalu menderamu
kemudian berdalih-dalih di-
kelayakan ramai
bertopeng seorang pembela kebenaran.

Sekarang aku berani 
meredupkan mata
sebagai saksi pada
zamannya.

Menatapmu, bagai
Lembah yang terbongkar
kerana perang dan kekerasan
mata pedih dan suara yang
sakit, menghisap jembol udara jerebu.

Biarkan gema suara 
yang sampai padamu
bukan kata-kata amarah
tapi rasa syukur dan kasih sayang
menemukan jalan pulang,
jalan kemenangan.

Gazelku dan Kuda Semberani
dengarkanlah, Pesan Keamanan itu
sekalipun hanya terucapkan
oleh seekor burung Serindip
atau sekawan Merpati.

Ia datang menghidangkan
padamu, ikan tak bertulang
sederhana, dengan salam.

Kalau memang ada dalam
sukmamu kerinduan pada
keamanan, pintu itu selalu terbuka.

19 March 2014

*ITBM Jun 2015