Tuesday, 18 March 2014

Tajalli-Mu Kembang Purnama*(ITBM)

Aku selalu yakin
pada langit
walaupun ada sewaktu-waktu
kau bertanya ke mana
sudah menghilang warna biru.

Kau tak menyangka
di tanah ini
memang perlu kesabaran
esok, entah membawamu
ke mana.

Kau pulang sambil
mengucap berulang kali
kata-kata baru kau pelajari.

Kini kau telah pandai bertanya.

Aku hanya dapat menyatakan
sabar dan bertenang
kau tumbuh di tanah gembur
di hutan jati.

Dari dulu kau telah dapat bertahan
hari mendatang khabar suka.

Jelas, antara kita
tak ada rahsia.
Masa silam bukan dogengan
tangis sezaman
menderamu telah berakhir.

Kau mencium bau tanah
kebenaran itu adalah
langit samawi
tajalli-Mu
kembang purnama
dalam sukmamu.

19 March 2014

*ITBM Jun 2015

Memeta Sebuah Harapan*(ITBM)

Kau semakin tajam
menusuk rongga dadamu
melayang di langit perak
lalu menolakmu ke bawah
mendamparmu tanpa tenaga.

Kau pun makin serakah
kembang peluh di kulitmu
tanda semangatmu.

Memeta sebuah harapan
lalu menghitung jauh ke depan.

Selama ini
rumahmu
tak beratap.
Mimpimu
melayang ke bintang kejora.                                                        

19 March 2014

*ITBM Jun 2015


Friday, 14 March 2014

Tajalli-Mu*(UB)(Ketuhanan)(Terbit)

Seperti letusan gunung
yang memuntahkan lahar-lahar
ke dalam lautan mimpi
dan membakar hanggus
penumpangnya.

Sejak itu malam-malam
mendatang bagai hutan
yang terdera dan hanggus
dalam langit jerebu.

Langit telah bertukar mendung
gelombang laut telah
mengembangkan sayapnya
sekawan burung yang
berhijrah ke utara
memaksakan dirinya
sekalipun matanya pedih.

Bomoh angin
berjaket tali leher
menyebut lembaga asing
di negeri anta-beranta
tahyul dalam tiap bual
menabur ketololan
dari air liur.

Akhirnya, langit samawi
dan desir lautmu
pada siul burung
nafas gelombang
turun bagai hujan
gerimis menyempurnakan
doa-doa
adalah tajallli-Mu.

14 March 2014
*Tersiar Di Utusan Borneo 23 March 2014

Langit Sukma Jerebu*(ITBM)

Aku menjabat tanganmu kekasih
tanpa menyoalmu tentang kebenaran itu
malam gegabah telah jauh kau tinggalkan
bintang-bintang telah jauh mengabur.

Kapal telah berangkat
peganglah tangan ini
kita menitih bersama
berenang ke tanah seberang.

Selamat tinggal
tanah kasih-sayang
tiap perjalanan
ada ujian dan pengorbanan
dan aku merelakan.

Aku telah meninggalkanmu
kau pun tak melihat lambaian ini
suara ini semakin menjauh
tenggelam dalam gelora lautan
rangkaian doa dan salam
buatmu, tanah kasih-sayang.

14 March 2014


*ITBM Jun 2015





Penumpang*(UB)(Ketuhanan)(Terbit)

Di negeri malam 
penumpang
buru-buru ke pintu masuk
setelah berbual dan bersalaman
akhirnya dipaksakan perpisahan.

Ada doa dan pesanan 
yang terucap
berulang-ulang.
Ada sukma yang terhiris
melepaskan perpisahan
dengan jiwa yang berat.


Langit khatulistiwa 
di waktu malam
Laut China Selatan
jerebu di siang hari
Kuala Lumpur masih bertahan
Delta Mekong tenang
bertafakur memandang
laut dan berfirasat.


Seorang penumpang
adalah seorang Musafir
ingin menggenapkan
harapan dan mimpinya.

Ketika siang tak kesampaian
seperti komet yang meletus
dalam sukmamu
tiap mata seakan masih
mencarimu dalam gelombang hari
dan remang-remang malam.


15 March 2014

*Tersiar Di Utusan Borneo April 2014


Melafaz Doa Atas Nama-Mu*(APP)

Kau cari langit biru
ingin menemukan rahsia
yang belum terbongkar.

Kau berdiri
ke laut China Selatan
mengharapkan biar sesaat
lautan tenang
tiap mata mengerdip
dalam doa kudus
tiap sukma
merindukan penampakkan nyata.

Malam, benang yang kusut
seribu satu pertanyaan
mereka berkumpul
mencari serpihan harapan
kalau ada yang terdampar
di pantai harapan.

Di langit-Mu
di laut teduh
di lembah tenang
di sukmamu.

Kau memetik kuntum-kuntum doa
lalu melepaskan dalam sukmamu
tapi langit jerebu
matari, warna kunyit.

Di sini,
Anak Segala Bangsa
berkumpul melafaz
doa atas nama-Mu.

14 March 2014

Diterbitkan dalam Antologi Perwila, MH 370.




Thursday, 27 February 2014

Mimpi Malam Tadi*(Ketuhanan)

Laut ini bergelombang lagi
pulau-pulau mutiara
tenggelam dan nafasnya
perlahan hilang dalam
deru angin laut.

Pada langit aku menyentuhmu
matamu telah lama kutatap
dan isyarat itu
telah menyerap pada dinding
sejarah.

Aku duduk sebagai penonton
melihat bayang-bayangmu
pada layar putih.

Ceritamu terlalu tenang
sedang penonton ingin
siang dikoyak-koyak seperti kertas
dan malam dibakar tanpa ampun.

Sukmamu telah biasa
dengan gempar dan gempur
dan ngonggong seringala
di malam seram.

Aku akan meninggalkanmu
ketika kau masih lena di pembaringan
tidurlah, malam masih berbintang.

Gazelku dalam mimpi malam tadi
aku melihat derap kuda semberani
di lahan baru berlari melingkari langit
dan ladang rumput muda.

Kota Kinabalu
28 Februari 2014

*dikirimkan ke Bahana, DBP KK