Sejak aku menerimamu sebagai hadiah dari langit
tak pernah sedikitpun aku gusar sekalipun langit
tetap langit, ke manapun kau pergi di situ ada langit.
Aku cinta padamu seperti cinta pada langit dan bumi,
mentari, rembulan, bintang dan cakrewala.
Langit, Kau selalu menggenapkan harapan
kepadamu malam gelap menjadi terang
sedang kaki ini masih berdiri di atas bumi.
Pergelutan ini dipengaruhi waktu
keinsafan ini setelah ada kesedaran
perjuangan ini menjanakan kebenaran
di bumi merdeka.
Kota Kinabalu
7 Jun 2013
*Antologi Puisi, 'Lirik Bulan Di Sukma Malam', Sabahuddin Senin dan Kamaria Buang, Borneo Top Publishing House, 2013
*Antologi Puisi Kemerdekaan
This collection of poetry is the work of Sabahuddin Senin. All the poems are copyright of the poet. Any publication must get permission from the poet. Most of the poems are written in the Malay language. Sabahuddin Senin is a writer from East Malaysia, Sabah.He studied at the Universiti Sains Malaysia, Penang, NIDA, University New South Wales and the Australian National University, Canberra. He spends most of his time in Malaysia, Australia and Solomon Islands. 13th April, 2011
Thursday, 6 June 2013
Wednesday, 5 June 2013
Kedamaian*(ALBDSM)
Kedamaian langitmu selalu teruji
kau bertahan hingga urat-uratmu
putus seribu, dan otot-ototmu
kejang dan meletus. Kau merontah
seperti gunung berapi
memuntah jerebu di langitmu
tapi kau tak pernah menyerah.
Kau tak akan tewas, sekalipun
hanya kau sendiri yang tinggal
dan terkepung oleh musuh-musuh
durjana. Sekalipun ini pertahananmu
terakhir.
Aku tak pernah iri padamu
yang mencapai kesempurnaan
tanpa melewati lorong gelap
yang sepi. Atau ke dalam hutan
dengan hewan buas berkeliaran
dan siap untuk menerkam.
Kota Kinabalu
5 Jun 2013
*Antologi Puisi, 'Lirik Bulan Di Sukma Malam', Sabahuddin Senin dan Kamaria Buang, Borneo Top Publishing House, 2013
kau bertahan hingga urat-uratmu
putus seribu, dan otot-ototmu
kejang dan meletus. Kau merontah
seperti gunung berapi
memuntah jerebu di langitmu
tapi kau tak pernah menyerah.
Kau tak akan tewas, sekalipun
hanya kau sendiri yang tinggal
dan terkepung oleh musuh-musuh
durjana. Sekalipun ini pertahananmu
terakhir.
Aku tak pernah iri padamu
yang mencapai kesempurnaan
tanpa melewati lorong gelap
yang sepi. Atau ke dalam hutan
dengan hewan buas berkeliaran
dan siap untuk menerkam.
Kota Kinabalu
5 Jun 2013
*Antologi Puisi, 'Lirik Bulan Di Sukma Malam', Sabahuddin Senin dan Kamaria Buang, Borneo Top Publishing House, 2013
Terbanglah Burung Terbang*(ALBDM)
Terbanglah burung terbang,
aku telah melepaskanmu
dengan kasih sayang dan
terbanglah, burung terbang,
kerinduan padamu adalah
seperti menunggu siang
bertukar malam dan malam
pula bertukar menjadi siang.
Ingin kupercepatkan waktu
dari siang ke malam
malam ke siang.
Terbanglah burung terbang
kau pasti pulang langit luas,
kerana setelah langit ada langit
setelah itu masih ada langit
dan langit itu tak akan pernah
kehilangan langit dan langit atas
langit.
Di belantara sepi itu kau
datang bukan membawa
kematian. Hutan jati itu
telah bernafas, berdenyut semula.
Terbanglah burung terbang
pedulikan musim silih berganti.
aku telah melepaskanmu dengan
redha.
Kota Kinabalu
5 Jun 2013
*Antologi Puisi, 'Lirik Bulan Di Sukma Malam', Sabahuddin Senin dan Kamaria Buang, Borneo Top Publishing House, 2013
aku telah melepaskanmu
dengan kasih sayang dan
terbanglah, burung terbang,
kerinduan padamu adalah
seperti menunggu siang
bertukar malam dan malam
pula bertukar menjadi siang.
Ingin kupercepatkan waktu
dari siang ke malam
malam ke siang.
Terbanglah burung terbang
kau pasti pulang langit luas,
kerana setelah langit ada langit
setelah itu masih ada langit
dan langit itu tak akan pernah
kehilangan langit dan langit atas
langit.
Di belantara sepi itu kau
datang bukan membawa
kematian. Hutan jati itu
telah bernafas, berdenyut semula.
Terbanglah burung terbang
pedulikan musim silih berganti.
aku telah melepaskanmu dengan
redha.
Kota Kinabalu
5 Jun 2013
*Antologi Puisi, 'Lirik Bulan Di Sukma Malam', Sabahuddin Senin dan Kamaria Buang, Borneo Top Publishing House, 2013
Tuesday, 4 June 2013
Penumpang Sukma*(ALBDSM)
Mentari masih mendakap kotaraya
belum ingin melepaskan
Pemandu bus masih mengejar
penumpang pinggir jalan
ke kota. Sesekali membunyikan hon.
Pembantunya memberi isyarat
tempat duduk masih ada.
Lampu isyarat, satu lepas satu.
Jalan ke kota tak semestinya
langsung ke terminal. Baru
saja menekan minyak harus
berhenti, kalau bukan
penumpang di belakang menekan
isyarat berhenti, ada penumpang
menunggu di depan stesyen bus.
Ada
lagu-lagu, menghibur penumpang.
Ketika dalam bus
boleh menunggang mimpi
jauh ke kaki langit.
Bus berhenti, di jalan panjang
sekumpulan penumpang masuk
9 wanita, bayi dan anak lelaki
dan anak perempuan, bukan
berdiri, duduk di tengah bus.
Kulitnya terbakar matahari
baunya, bau lautan. Gerak-geraknya
hati-hati. Dan waspada. Mulut mereka
kering dan lapar.
Bus terus
menyerbu kotaraya. Tanpa bertanya
dan peduli, penumpang baru masuk.
Tiap mata memandang
dan tak berkata apa-apa.
Aku pun hanya memandang
seperti memandang alam dalam
sesaat. Sosok-sosok tubuh ini
adalah orang kecil yang
mencari dinding untuk menempel.
Mereka ingin menempel pada langit
terlalu tinggi dan luas untuk dijangkau
mereka ingin menempel pada lautan
terlalu memabukkan dan berhempas
pulas mencari daratan. Mereka ingin
berteduh pada sukmamu walau sebentar
lalu meneruskan perjalanan nanti.
Adakah kau akan berhenti di tepi jalan
membiarkan penumpang sukma masuk
sebagai penumpangmu?
Kota Kinabalu
5 Jun 2013
*Antologi Puisi, 'Lirik Bulan Di Sukma Malam', Sabahuddin Senin dan Kamaria Buang, Borneo Top Publishing House, 2013
belum ingin melepaskan
Pemandu bus masih mengejar
penumpang pinggir jalan
ke kota. Sesekali membunyikan hon.
Pembantunya memberi isyarat
tempat duduk masih ada.
Lampu isyarat, satu lepas satu.
Jalan ke kota tak semestinya
langsung ke terminal. Baru
saja menekan minyak harus
berhenti, kalau bukan
penumpang di belakang menekan
isyarat berhenti, ada penumpang
menunggu di depan stesyen bus.
Ada
lagu-lagu, menghibur penumpang.
Ketika dalam bus
boleh menunggang mimpi
jauh ke kaki langit.
Bus berhenti, di jalan panjang
sekumpulan penumpang masuk
9 wanita, bayi dan anak lelaki
dan anak perempuan, bukan
berdiri, duduk di tengah bus.
Kulitnya terbakar matahari
baunya, bau lautan. Gerak-geraknya
hati-hati. Dan waspada. Mulut mereka
kering dan lapar.
Bus terus
menyerbu kotaraya. Tanpa bertanya
dan peduli, penumpang baru masuk.
Tiap mata memandang
dan tak berkata apa-apa.
Aku pun hanya memandang
seperti memandang alam dalam
sesaat. Sosok-sosok tubuh ini
adalah orang kecil yang
mencari dinding untuk menempel.
Mereka ingin menempel pada langit
terlalu tinggi dan luas untuk dijangkau
mereka ingin menempel pada lautan
terlalu memabukkan dan berhempas
pulas mencari daratan. Mereka ingin
berteduh pada sukmamu walau sebentar
lalu meneruskan perjalanan nanti.
Adakah kau akan berhenti di tepi jalan
membiarkan penumpang sukma masuk
sebagai penumpangmu?
Kota Kinabalu
5 Jun 2013
*Antologi Puisi, 'Lirik Bulan Di Sukma Malam', Sabahuddin Senin dan Kamaria Buang, Borneo Top Publishing House, 2013
Monday, 3 June 2013
Merayau di Langit-Mu*(AZB)
Aku duduk seperti di puncak Nabalu
memandang jauh ke dalam sumur waktu
melihat bulu-bulu sayapku jatuh satu
demi satu ditiup angin jauh ke belantara
hutan jati.
Selama ini apakah aku berkira-kira?
Aku pernah menjadi burung merayau
di langit-Mu. Dan turun di atas batu
kerikil dan lahan tanah gembur dan
lautan tanah sepi.
Aku melihat ranting-ranting di pohon
tumbuh tunas muda dan daun kering
terlepas dari gagangnya, melayang-
melayang dan akhirnya menjunam ke
bumi.
Kota Kinabalu
3 Jun 2013
*AP Puisi Religi (Grup Sanggar Kembang Langit), Qomaruddin Assa'adah, 4 Jun 2013. telah diterbitkan dalam antologi bersama 'Ziarah Batin', 250 halaman.
memandang jauh ke dalam sumur waktu
melihat bulu-bulu sayapku jatuh satu
demi satu ditiup angin jauh ke belantara
hutan jati.
Selama ini apakah aku berkira-kira?
Aku pernah menjadi burung merayau
di langit-Mu. Dan turun di atas batu
kerikil dan lahan tanah gembur dan
lautan tanah sepi.
Aku melihat ranting-ranting di pohon
tumbuh tunas muda dan daun kering
terlepas dari gagangnya, melayang-
melayang dan akhirnya menjunam ke
bumi.
Kota Kinabalu
3 Jun 2013
*AP Puisi Religi (Grup Sanggar Kembang Langit), Qomaruddin Assa'adah, 4 Jun 2013. telah diterbitkan dalam antologi bersama 'Ziarah Batin', 250 halaman.
Tamu di Depan Tenda*(ALBDSM)
Tamu di depan tenda
mengucapkan salam.
Kau mendongak siapa yang
datang?
Tamumu tersenyum
membawa khabar suka.
Tamu di depan tenda
kini duduk makan sajian.
Nubuat langit turun
kau mendengar tekun.
Tamu di depan tenda telah pergi
kau mengurut janggut seakan tak percaya.
Kota Kinabalu
3 Jun 2013
*Antologi Puisi, 'Lirik Bulan Di Sukma Malam', Sabahuddin Senin dan Kamaria Buang, Borneo Top Publishing House, 2013
mengucapkan salam.
Kau mendongak siapa yang
datang?
Tamumu tersenyum
membawa khabar suka.
Tamu di depan tenda
kini duduk makan sajian.
Nubuat langit turun
kau mendengar tekun.
Tamu di depan tenda telah pergi
kau mengurut janggut seakan tak percaya.
Kota Kinabalu
3 Jun 2013
*Antologi Puisi, 'Lirik Bulan Di Sukma Malam', Sabahuddin Senin dan Kamaria Buang, Borneo Top Publishing House, 2013
Tujuh Ekor Burung Bangau (Suasana)*
Tujuh ekor burung bangau
di tepi tebing muara sungai.
Hujan baru berhenti
seorang ibu menutup
kepala bayinya
menyeberangi jembatan.
Aku berlari kecil
ke stesyen Bus.
Senja cepat mencair
kini masuk ke ambang malam
anak-anak ikan bergegas
pulang ke laut pasang.
Kota Kinabalu
3 Jun 2013
di tepi tebing muara sungai.
Hujan baru berhenti
seorang ibu menutup
kepala bayinya
menyeberangi jembatan.
Aku berlari kecil
ke stesyen Bus.
Senja cepat mencair
kini masuk ke ambang malam
anak-anak ikan bergegas
pulang ke laut pasang.
Kota Kinabalu
3 Jun 2013
Subscribe to:
Posts (Atom)