Thursday, 9 May 2013

Kunci*(ALBDSM)

Kau masih bisa mengharap yang terbaik
ketika kau tulis surat, satu demi satu
kau kirimkan ke alamat sama
bila dikumpulkan setahun ribuan anak-anak kata
dan kalimat kau lafazkan
yang tersirat dan yang terlalu terus terang.

Kau tak ingin bertanya
apakah suratmu itu sampai kepada
pengirim dan membaca. Yang jelas
kau terus menulis. Dan setiap kali genang air
sampai ke satu paras kau mengurangkannya
sampai  ke ukuran yang diinginkan. Demikian
kau mengulang-ulang, tiap hari, kau tak
berhenti menulis surat kepada sang kekasih.

Seperti  ketika kau sarat dengan doa-doamu
di malam hari. Kau bersujud dan menangis
dalam doa-doamu, air mata dan isyakmu,
entah berapa lama kau telah berada di
kedudukan begitu. Kau tak mengira,
lafazmu mengalir terus mengalir.  Dan
kau tak pernah merasa bosan.

Suatu siang pintu diketuk
datang posman mengembalikan surat-suratmu
seperti masih tidak tersentuh, sempurna
dan nampak segar. Pulangkan kepada pengirim.

Kau melihat dirimu di depan cermin
menyentuh pipi dan meraba wajahmu
kalau memang ada yang paling
kau bimbang, terlupa nombor alamat
atau lupa ke jalan pulang.

Tiap kata membawa pesan
tiap pesan memberi peringatan
dan tiap peringatan mengingatkan
kunci itu  ada dalam dirimu.

Pulau Pinang
9 Mei 2013

*Antologi Puisi, 'Lirik Bulan Di Sukma Malam', Sabahuddin Senin dan Kamaria Buang, Borneo Top Publishing House, 2013




Merindukan Bau Lautan*(ALBDSM)

Aduhai, kau masih merindukan bau
lautan, dan hujan tengah malam
dan perkebunan kelapa yang terasing.

Ayuh maju ke pulau impian
pasir putih, tanah gembur dan
pepohonan hijau.

Aku melihat diriku dan dirimu
di dalam perahu di
lautan samudera luas
langit biru mentari pagi
aku hirup udaramu
dan mandi dalam cahayamu
melihat ke depan
menyempurnakan impian
dalam mimpi semalam.

Di lantai lautan ini
aku pernah menyerahkan sukma
lautan ini telah menyimpan ribuan
rahsia
yang kalah dan menang
dalam pertarungan
membina rumah-rumah impian
dan mencipta bulan dan mentari
di langit sukma.

Dan aku baca mata angin dan
dan riak lautan. Aku tak akan
dikalahkan.

Setiap gelombang datang
membawa kapal dan penumpang
dan kau jangan meruntuhkan
impian, apa lagi menghapuskan
grafiti dan
artifak di halaman sejarah bangsa
menjelang hari Kemerdekaan.

Sayang, di sini aku himpun rangkaian
mimpimu
di Pulau Mantanani, dan kubebat luka-lukamu
di Simpang Mengayau, sepimu di Long Pa Sia,
dan rinduku di lembah Danum.

Kota Kinabalu
9 Mei 2013

*Antologi Puisi, 'Lirik Bulan Di Sukma Malam', Sabahuddin Senin dan Kamaria Buang, Borneo Top Publishing House, 2013
*Antologi Puisi kemerdekaan









Wednesday, 8 May 2013

Setelah Jam 4 Petang*(ALBDSM)

Aku datang mencium bau tanahmu
sekalipun tanah-tanahmu telah tertimbus
jalan lama telah tumbuh semak
dan desa telah ditinggalkan
membawa pergi penghuninya
jauh ke dalam rimba kotaraya
ke selatan.

Tapak-tapak kaki telah hanggus
membakar masa silam sampai
ke akar-akarnya. Kaukah
kekasih berjalan dalam keramaian
dan aku tak mengenalimu?

Di dalam pertarungan
kau dipaksa dan terpaksa
tanpa mengeluh, kau di barisan depan
menunggu perintah.
Ketika genderang  perang dipalu
dan nafiri ditiupkan
kau tak akan mengucapkan
selamat tinggal.
Kau menarik nafas dalam
melihat ke depan dan menerpa
dalam satu korus
dan kau berlari dan berlari
tanpa menoleh
bom meledak dan peluru yang mendesing
kemudian senyap.

Sendiri. Di dataran. Waktu
mengalir, perlahan dan kering.
Suaramu terkandas di kerongkongan
la ilaha illallah Muhammadur rasulullah.
Aku mencintai kalimat itu
tak pernah walau sesaatku akan melepaskannya.

Pada angin dorong aku ke depan
pada tanah di telapak kaki,
ke mana pun aku akan menciummu
pada alam raya dan cakerawala
aku adalah sebahagianmu.

Pulau Pinang
9 Mei 2013

*Antologi Puisi, 'Lirik Bulan Di Sukma Malam', Sabahuddin Senin dan Kamaria Buang, Borneo Top Publishing House, 2013

Setelah Jam 8 Pagi*(ALBDSM)

Di sepanjang jalanan ini
bendera-bendera masih
terpacak. Hujan semalam
tak mengusik jalan ke
pekan. Angin kekadang bertiup
mengibarkan layar
bendera. Melihat bendera seperti
mendengar
ribuan orang berarak menuju
kotaraya. Tapi jelas, sunyi
dan senyap.

Pagi Ahad.
Aku berdiri di
persimpangan
melihat jalan bulatan
diperbaiki. 

II
Tiga hari telah berlalu
nahas di jalan raya.

III
Mereka masih gundah
Tapi suara itu menjauh
dalam hujan petang.

IV
Orang kecil hanya
mencium bau
udara kemenangan
dan melihat mereka itu
tergesa-gesa menjadi
orang penting sekarang.

Kota Kinabalu
9 Mei 2013

*Antologi Puisi, 'Lirik Bulan Di Sukma Malam', Sabahuddin Senin dan Kamaria Buang, Borneo Top Publishing House, 2013



Tuesday, 7 May 2013

Di Lidahmu* (Kata)(Metamorposis)

Di lidahmu telah tumbuh lalang
suaramu penuh dengan dahak
malammu bagaikan terpotong sekerat
menjauh tak perlu mengharapkan
dan aku tak akan bertanya.

Kota Kinabalu
9 Mei 2013




Wednesday, 1 May 2013

Di Tanah Ini, Igau Orang Kecil*(ALBDSM)

Tiba-tiba, entah dari mana kau ingin merebut
apa saja pada sekujur tubuh ini. Aku bilang,
tiada apa-apa selain ini yang tinggal. Lihatlah,
hanya tinggal tenggorak dan tulang belulang.
Syukur, di tanah ini aku masih bisa berdiri.
Dan melangkah, tidak terlalu panjang, tapi
selangkah demi selangkah aku akan sampai
ke tanah seberang. Aku orang kecil, suaraku
pun orang kecil. Harapanku adalah harapan
orang kecil. Dan impianku seperti impianmu,
kesenanganmu ingin meratah dunia mentah-
mentah tak ada pula dalam agenda. Yang jelas
ada keadilan yang saksama. Antara aku dan
kau jangan terlalu lebar.Setiap hari ketika jarak
itu semakin merenggang, aku akan berusaha
merapatkan. Kalau tidak kau terus dibawa
arus ke tengah lautan atau  hilang di langit
malam. Suaraku ada di mana-mana. Gemanya
adalah ruh kehidupan itu sendiri. Aku melihat
mereka memukul genderang berarak, mengutip
suara di jalan-jalan, atau kepul-kepul dalam
gelombang suara. Dan suara ini, peninggalan
zaman silam. Sekalipun kau paksa, aku tak akan
memberikan kepadamu. Tanpa suara, harianmu
datar dan kosong. Kau masih mendesak, sekali
pun aku berulang kali mengingatkanmu. Tapi
kau masih merayu. Suaraku, harga diri dan maruah
bukan menjadi angka dan jumlah. Sekiranya kau
memakai kekerasan aku akan menjauh. Suaraku
adalah suara orang kecil. Aku tak akan memberikan
suara ini kepadamu kerana aku terpukul ke
penjuru.

Kota Kinabalu
27 April 2013

*Antologi Puisi, 'Lirik Bulan Di Sukma Malam', Sabahuddin Senin dan Kamaria Buang, Borneo Top Publishing House, 2013

Cinta Sejati*(ALBDSM)


Kau telah datang ke
tanah kasih sayang ini
dan membawa ruh
perjuangan sejati dan
memberi makan burung
dara di tapak tanganmu.

Dari matamu yang bening,
kau tak menyimpan amarah
apa lagi mata menghukum
dan mendustakan
kerana dalam matamu
ada pengorbanan, dan
persaudaraan sejagat.

Aku melihat suara-suara
songsang itu seperti
berterbangan ditiup angin
memenuhi raung langit,
terombang-ambing ke sana ke
mari. Satu persatu terjunam ke
tanah kasih sayang.
Ke tanah jasad asal.

Di mana ditemui cinta sejati?
Bukan di puncak gunung,
di tanah terasing dan pulau sepi.

Cinta sejati turun
dari langit samawi meresap
terus ke dalam sukmamu.
Begitu indah disebutkan dan
lunak untuk dihadamkan.

Kota Kinabalu
1 Mei 2013


*Antologi Puisi, 'Lirik Bulan Di Sukma Malam', Sabahuddin Senin dan Kamaria Buang, Borneo Top Publishing House, 2013
*Antologi Kemerdekaan