Suara ini tak seberapa
datangnya bukan sebagai guntur
kekadang aku terpaksa menyerah,
melepaskan memori sekalipun
barangkali terbaik dari yang banyak.
Kumasuki hutan di halaman
tak mungkin akan tersesat
sebenarnya ia hanya hutan
sedikit di pinggir kota.
Ketika berada di hutan
pinggir kota, kupatahkan
ranting supaya dapat ke depan
dan balik ke jalan pulang.
Bukankah sukma pun telah tumbuh
reranting kering dari musim silam
menunggu peralihan musim .
Tiap yang hidup dimakan waktu
tak terasa, lebih baik dari
berselindung dalam kegelapan
yang terciptakan.
Di sini aku masih
mencium bau,
cahaya dan landskapmu
masih.
Kota Kinabalu
7 November 2012
This collection of poetry is the work of Sabahuddin Senin. All the poems are copyright of the poet. Any publication must get permission from the poet. Most of the poems are written in the Malay language. Sabahuddin Senin is a writer from East Malaysia, Sabah.He studied at the Universiti Sains Malaysia, Penang, NIDA, University New South Wales and the Australian National University, Canberra. He spends most of his time in Malaysia, Australia and Solomon Islands. 13th April, 2011
Tuesday, 6 November 2012
Monday, 5 November 2012
Kita Harus Mencipta Impian (Kembara Bahasa 2012) (Lanskap)(Metamorposis)(ITBM)
Kita tak saling mengenal
tapi bisa mengucapkan salam
Lahad Datu, kau punya impian
dari sebuah desa, menjadi pekan,
dari pekan kepada bandar dan kotaraya.
Di sini, kita harus mencipta impian
sekalipun punya segenggam tanah
atau perigi di halaman. Ma, bermimpi
anaknya pulang selamat dari rantau.
Penyairmu bermimpi, huruf-huruf
menjadi kata-kata dan bait-bait puisi.
Aku tak meminta lebih darimu
dan kau pun tak perlu bersusah
payah mengenal kami. Ketika
orang lain sibuk pada pembangunan,
kami memartabatkan bahasa dan
mencipta balada perjuangan.
Kami tak akan berhenti di sini.
esok kami terus mengingatkanmu
dengan bahasa paling mudah
tapi jiwanya lambang hidup
impian anak segala bangsa.
Lahad Datu
3 November 2012
*ITBM
tapi bisa mengucapkan salam
Lahad Datu, kau punya impian
dari sebuah desa, menjadi pekan,
dari pekan kepada bandar dan kotaraya.
Di sini, kita harus mencipta impian
sekalipun punya segenggam tanah
atau perigi di halaman. Ma, bermimpi
anaknya pulang selamat dari rantau.
Penyairmu bermimpi, huruf-huruf
menjadi kata-kata dan bait-bait puisi.
Aku tak meminta lebih darimu
dan kau pun tak perlu bersusah
payah mengenal kami. Ketika
orang lain sibuk pada pembangunan,
kami memartabatkan bahasa dan
mencipta balada perjuangan.
Kami tak akan berhenti di sini.
esok kami terus mengingatkanmu
dengan bahasa paling mudah
tapi jiwanya lambang hidup
impian anak segala bangsa.
Lahad Datu
3 November 2012
*ITBM
Penyairku, Masih Ada Kilatan Menembus Sukma (Kembara Bahasa 2012) (Puisi)(Metamorposis)(ITBM)
Langkah ini tak seberapa jauh
sekalipun begitu, telukmu damai
melihat senja turun berendam.
Aku melihat lautmu tenang
kerana di situ ada suaramu.
Kerinduan ini adalah kerinduan
seorang sahabat.
Kerinduan ingin mendengar
syair-syair dan puisi-puisimu.
Meskipun pantaimu
telah banyak berubah
langitmu masih tetap
menurunkan kata-kata
dan bait-bait yang indah.
Dari seribu malam
malam ini terpilih
aku bersua muka denganmu,
penyairku.
Rambutmu masih keterampilanmu
hanya wajahmu barangkali
gunung yang tersayat
tapi, suaramu masih menerobos
ke dalam sukma hingga ke galaksi
dalam impian kejora.
Ketika aku menjabat tanganmu
genggamanmu lemah.
"Kau sakit penyairku?"
Tak ada pesanan dari wajahmu
tapi dari matamu
ada kilatan yang menembus sukma.
Bahasamu, bahasa penyair
kerinduanmu adalah kerinduan
langit dan bumi
dari sukma yang satu.
Kudat
1 November 2012
*ITBM
sekalipun begitu, telukmu damai
melihat senja turun berendam.
Aku melihat lautmu tenang
kerana di situ ada suaramu.
Kerinduan ini adalah kerinduan
seorang sahabat.
Kerinduan ingin mendengar
syair-syair dan puisi-puisimu.
Meskipun pantaimu
telah banyak berubah
langitmu masih tetap
menurunkan kata-kata
dan bait-bait yang indah.
Dari seribu malam
malam ini terpilih
aku bersua muka denganmu,
penyairku.
Rambutmu masih keterampilanmu
hanya wajahmu barangkali
gunung yang tersayat
tapi, suaramu masih menerobos
ke dalam sukma hingga ke galaksi
dalam impian kejora.
Ketika aku menjabat tanganmu
genggamanmu lemah.
"Kau sakit penyairku?"
Tak ada pesanan dari wajahmu
tapi dari matamu
ada kilatan yang menembus sukma.
Bahasamu, bahasa penyair
kerinduanmu adalah kerinduan
langit dan bumi
dari sukma yang satu.
Kudat
1 November 2012
*ITBM
Sandakan, Ditemuimu Di antara Pulau Berhala Dan Buli-buli Sim-Sim (Kembara Bahasa 2012) (Lanskap)
Melihatmu dari dekat
terasa melihat diri ini telanjang
kekadang terlupa, rupanya
aku telah berada di halaman
sendiri.
Malam itu
aku rendahkan telinga
ke pusar bumimu
dan melihat kunang-kunang
mencari beritamu.
Aku asing di tanah ini
tak mungkin, halaman ini
aku pernah bermain.
luka lara dan
tawa masih tersimpan
antara Pulau Berhala dan
Buli-buli Sim-sim.
Di hujung jembatan
ada seorang anak melihat
purnama penuh
terangkat
perlahan naik ke atas.
Matanya tak bergerak
memandang tetap
seakan dirinya
melebarkan kepaknya
terbang bersayap ke langit
lalu hinggap di dahan rembulan.
Ketika ditemui diri redah
ia terbang
menuruni benua dan lautan.
Melayang-layang dalam udara.
Jiwanya masih ingin
merondah galaksi.
Seorang anak di hujung jembatan
tersenyum sendiri.
Laut tenang.
Kalau aku ada selaksa kata
akan disemat padamu, tiap
bintang, supaya kau dapat
menghidupkan impian.
Memang di situ, ada artifact
dan seorang anak di hujung
jembatan pernah ke sana.
Sandakan,
akan selalu menjadi pepohonan rendang
mendambakan cahaya dari tangan
yang kasih. Lalu dalam keindahan
bahasa, selalu ada harapan dan impian
dari bumimu.
Kota Kinabalu
6 November 2012
*Dikirimkan kepada Badan Bahasa Sabah Cawangan Sandakan untuk diterbitkan antologi puisi pada 6 Februari 2013
*ITBM
terasa melihat diri ini telanjang
kekadang terlupa, rupanya
aku telah berada di halaman
sendiri.
Malam itu
aku rendahkan telinga
ke pusar bumimu
dan melihat kunang-kunang
mencari beritamu.
Aku asing di tanah ini
tak mungkin, halaman ini
aku pernah bermain.
luka lara dan
tawa masih tersimpan
antara Pulau Berhala dan
Buli-buli Sim-sim.
Di hujung jembatan
ada seorang anak melihat
purnama penuh
terangkat
perlahan naik ke atas.
Matanya tak bergerak
memandang tetap
seakan dirinya
melebarkan kepaknya
terbang bersayap ke langit
lalu hinggap di dahan rembulan.
Ketika ditemui diri redah
ia terbang
menuruni benua dan lautan.
Melayang-layang dalam udara.
Jiwanya masih ingin
merondah galaksi.
Seorang anak di hujung jembatan
tersenyum sendiri.
Laut tenang.
Kalau aku ada selaksa kata
akan disemat padamu, tiap
bintang, supaya kau dapat
menghidupkan impian.
Memang di situ, ada artifact
dan seorang anak di hujung
jembatan pernah ke sana.
Sandakan,
akan selalu menjadi pepohonan rendang
mendambakan cahaya dari tangan
yang kasih. Lalu dalam keindahan
bahasa, selalu ada harapan dan impian
dari bumimu.
Kota Kinabalu
6 November 2012
*Dikirimkan kepada Badan Bahasa Sabah Cawangan Sandakan untuk diterbitkan antologi puisi pada 6 Februari 2013
*ITBM
Di Sepanjang Jalan Kalabakan (Kembara Bahasa 2012)(Lanskap)
Kuhirup udara kelapa sawit
di sepanjang jalan Kalabakan.
Aku merelakan mata
bagai membuka jendela
pertama kali.
Di perhentian
ada suara gusar
meletus bagai
gelombang udara
dari bibirnya
lalu menghilang di hujung rambut.
Ia masih menunggu
pada siang
atau suatu hari
datang seorang tamu
paling tidak ladang sawit
di pinggir jalan Kalabakan
tetap hijau dan berbuah.
Kusentuh
wajahmu, hutan jati
dan sungaimu mengalir
seperti dari masa silam
hujan khatulistiwa
turun
membasahi lembah
nalurimu mendakap sukma
dan terdengar suara-suara
dari pergunungan
aku terpanggil.
Kukirimkan kata
dan bait puisi ini
ke telingamu.
Aku tak akan membiarkanmu
sendiri, apa lagi
mencederaimu di siang
yang luka.
Tiap bisikmu
jalinan sukma
nafasmu,
berdenyut dalam kurun-kurun mendatang.
Kerana bahasamu,
adalah nadi
dan jiwa
mekar dalam taman
hidup dalam pelbagai musim.
Kalabakan
6 November 2012
*ITBM
di sepanjang jalan Kalabakan.
Aku merelakan mata
bagai membuka jendela
pertama kali.
Di perhentian
ada suara gusar
meletus bagai
gelombang udara
dari bibirnya
lalu menghilang di hujung rambut.
Ia masih menunggu
pada siang
atau suatu hari
datang seorang tamu
paling tidak ladang sawit
di pinggir jalan Kalabakan
tetap hijau dan berbuah.
Kusentuh
wajahmu, hutan jati
dan sungaimu mengalir
seperti dari masa silam
hujan khatulistiwa
turun
membasahi lembah
nalurimu mendakap sukma
dan terdengar suara-suara
dari pergunungan
aku terpanggil.
Kukirimkan kata
dan bait puisi ini
ke telingamu.
Aku tak akan membiarkanmu
sendiri, apa lagi
mencederaimu di siang
yang luka.
Tiap bisikmu
jalinan sukma
nafasmu,
berdenyut dalam kurun-kurun mendatang.
Kerana bahasamu,
adalah nadi
dan jiwa
mekar dalam taman
hidup dalam pelbagai musim.
Kalabakan
6 November 2012
*ITBM
Sunday, 4 November 2012
Biar Kau Sentuh Sukma Angkasa Rayamu* (Puisi)(Metamorposis)
Aku meluncur ke angkasaraya
melihat bumi seperti sebiji telur
kebiru-biruan dan sentuhan warna putih.
terasa kini telah lepas dari graviti
memandang ke depan, aku berangkat
satu misi. Bumi sayang, kesabaranmu
sejak masa silam. Sekarang kau masih,
masih menyerap dan memberi.
Sejak dulu, anak adam menafsirkan
kata-kata, kekadang mencederai
kemanusian sejagat. Setelah keruntuhan
dibangunkan lagi sebuah peradaban,
dan menyanyi kata-kata, melahirkan
puisi menjadi kegemilangan bangsa.
Ke mana saja aku pergi, tetap masih
berbau tanah. Dan aku tak akan
melupakan air bening dan udara gunung.
Laut dan malammu, kedamaian
meraih-Mu. Meninggalkanmu,
bumi kesayangan bukan melupakan.
Biarkan perjalanan ini, berangkat
dari kesedaran dan ilmu. Menjangkau
angkasaraya dengan sukma. Kejauhan
itu tak terasa, kerana aku akan menulis
dalam gaya bahasa dalam bait-bait
puisi yang indah. Biarkan ada yang
melakukan langkah permulaan. Tiap
perjuangan dan pengorbanan harus
ada mentor dan tokoh-tokoh yang
berjiwa bumi. Kini, aku memulai
kembara ini, kalau tidak sekarang
nanti, biar kau sentuh sukma
angkasarayamu dan ia pasti memberi
reaksi sebagai seorang sahabat
dalam era kemerdekaan, satu
bahasa, satu bangsa dan satu negara,
Malaysia.
Tawau
5 November 2012
melihat bumi seperti sebiji telur
kebiru-biruan dan sentuhan warna putih.
terasa kini telah lepas dari graviti
memandang ke depan, aku berangkat
satu misi. Bumi sayang, kesabaranmu
sejak masa silam. Sekarang kau masih,
masih menyerap dan memberi.
Sejak dulu, anak adam menafsirkan
kata-kata, kekadang mencederai
kemanusian sejagat. Setelah keruntuhan
dibangunkan lagi sebuah peradaban,
dan menyanyi kata-kata, melahirkan
puisi menjadi kegemilangan bangsa.
Ke mana saja aku pergi, tetap masih
berbau tanah. Dan aku tak akan
melupakan air bening dan udara gunung.
Laut dan malammu, kedamaian
meraih-Mu. Meninggalkanmu,
bumi kesayangan bukan melupakan.
Biarkan perjalanan ini, berangkat
dari kesedaran dan ilmu. Menjangkau
angkasaraya dengan sukma. Kejauhan
itu tak terasa, kerana aku akan menulis
dalam gaya bahasa dalam bait-bait
puisi yang indah. Biarkan ada yang
melakukan langkah permulaan. Tiap
perjuangan dan pengorbanan harus
ada mentor dan tokoh-tokoh yang
berjiwa bumi. Kini, aku memulai
kembara ini, kalau tidak sekarang
nanti, biar kau sentuh sukma
angkasarayamu dan ia pasti memberi
reaksi sebagai seorang sahabat
dalam era kemerdekaan, satu
bahasa, satu bangsa dan satu negara,
Malaysia.
Tawau
5 November 2012
Aku Masih Bermimpi Orbit Baru* (Indah)(Metamorposis)
Rupanya setengah abad telah
terbang, menjauh ke bintang
Suriya dan aku masih bermimpi
orbit baru. Aku masih di sini,
berkemas dan berangkat. Ketika
malam turun, aku telah berada
di pinggir kotamu. Aku terpanggil.
Kembara ini, perjalanan kasih.
Aku tetamumu memasuki
halamanmu, beradab. Usah
kau ragu tentang burung yang
terbang di langitmu, kepayahan
ini menjadi penawar sukma.
Kau bertanya, "Apakah kau
tak merasa lelah?" Jawabnya,
"Tentu tidak." Tiap kali gong
dipalu terasa langitmu segar.
Dan bumi adalah hamparan
anak-anak kata tumbuh menjadi
dewasa dan puitis. Danau
mengalir ke rembulan di malam
purnama, cahayamu hinggap
pada tiap kata, menjadi pantun
dan syair. Ladang kata-katamu
terpelihara dalam segala musim
doa ini turun-temurun di lidah
jenerasi sebelum, sekarang dan
akan datang. Matamu saujana
dan sukmamu melayu dan Malaysia.
Tawau
4 November 2012
terbang, menjauh ke bintang
Suriya dan aku masih bermimpi
orbit baru. Aku masih di sini,
berkemas dan berangkat. Ketika
malam turun, aku telah berada
di pinggir kotamu. Aku terpanggil.
Kembara ini, perjalanan kasih.
Aku tetamumu memasuki
halamanmu, beradab. Usah
kau ragu tentang burung yang
terbang di langitmu, kepayahan
ini menjadi penawar sukma.
Kau bertanya, "Apakah kau
tak merasa lelah?" Jawabnya,
"Tentu tidak." Tiap kali gong
dipalu terasa langitmu segar.
Dan bumi adalah hamparan
anak-anak kata tumbuh menjadi
dewasa dan puitis. Danau
mengalir ke rembulan di malam
purnama, cahayamu hinggap
pada tiap kata, menjadi pantun
dan syair. Ladang kata-katamu
terpelihara dalam segala musim
doa ini turun-temurun di lidah
jenerasi sebelum, sekarang dan
akan datang. Matamu saujana
dan sukmamu melayu dan Malaysia.
Tawau
4 November 2012
Subscribe to:
Posts (Atom)