Sunday, 16 September 2012

Barisan Kata* (Indah)


Hujan telah turun sejak semalam, berguruh, petir
dan guntur, aku telah mendengarmu dan telah di
kerahkan barisan kata-kata yang siap maju ke depan
siap untuk dikorbankan, seperti Ismail tanpa
berdua hati, kerana mereka merasa terpanggil.
Dari sukmaku mengalir dalam darah, dari darah
merah, menjadi huruf-huruf yang segar-bugar,
lalu terkumpul menjadi kata-kata. Dalam sesaat,
telah menjadi kalimat. Mereka gagah, tak ada sekelumit
ketakutan hinggap dalam sukmanya. Kata-kata
dan kalimat ini bergerak-gerak setelah berkeliling
di dalam urat-urat nadi ke bawah dan ke atas
sampai ke dalam urat sarat otakku. Kini mereka telah
siap meloncat dan melayang keluar dari segala inderaku
tapi, bukan sebagai musuh. Kata-kata dan kalimat
adalah pembela di barisan depan. Mereka adalah
anugerah Tuhan Yang Esa. Tuhan kebenaran. Aku
tak akan merasa sangsi dan curiga pada mereka.
Kata-kata dan kalimat turun dalam letusan fikir
dan jiwa raga yang ikhlas. Aku tak akan membiarkanmu
menjadi peluru-peluru membunuh dan membawa maut.
Apa lagi sebagai kuman penyakit menular membawa
bencana kepada manusia sejagat. Aku tak akan
membiarkanmu, kata-kata dan kalimat menjadi derhaka.
Kau adalah dari huruf-huruf lahir dari jiwa yang tenang
dan harapan pada  kemanusiaan dan alam sejagat.
Kau pun bukan robot pemusnah yang dikutuk orang.
Kata-kata dan kalimat ini selalu berdiri pada kebenaran.
Kebenaran sejagat. Kebenaran yang tak akan dapat
diputar-belit. Kebenaran yang murni. Kebenaran
yang teruji. Kebenaran yang tak dapat didiamkan.
Itulah barisan kata-kata dan kalimat, niatnya selalu
mendapat restu dari langit. Ya Rabbi, biar kata-kata
dan kalimat tetap menjadi penyelamat dan obat
penyembuh pada tipu muslihat dan siasat musuh.
Mereka telah mati-matian dalam diam-diam
membuat kejahatan dan memesongkan kebenaran.
Dan berusaha menunggang-balikan dunia supaya
akur dalam tipu-muslihat. Mereka memakai barisan
kata-kata dan kalimat tapi dengan niat untuk membuat
ribut dan porak-poranda di bawah petala langit ini.
Mereka tak pernah puas menconteng-conteng atau
pun menumpahkan dawat pada kebenaran. Mereka
angkuh, kata-kata dan kalimat mereka angkuh.
Tapi, Tuhan masih ada. Tuhan yang hidup. Tuhan yang
terus berkata-kata sampai qiyamat. Tuhan kebenaran.
Tuhan yang tak akan membiarkan penghinaan bertakhta
atas kebenaran. Tuhan yang tak akan membiarkan kelicikan
mereka membawahkan kebenaran. Benar, aku mencintaimu,
barisan kata-kata dan kalimat ini hidup dan lahir dari sukma.
Kaulah, kekasih Allah, kerana itu, aku telah persiapkan
pelana dan kuda semberani, dan telah kukerahkan barisan
huruf-huruf menjadi kata  dan menjadi kalimat berderap
ke depan. Telah mereka dipersiapkan kepak-kepak
yang siap menjadi panah-panah yang terus menusuk-nusuk
ke sukma musuh. Aku tak merelakan kezaliman, apa lagi
kebohongan menetas dari musuh-musuh durjana.
Kebohongan mereka samasekali tak menyamai keindahan
kata-kata dan kalimat kekasih-Mu, Muhammad Rasulullah.
Oh Tuhan, yang menurunkan kebijaksanaan, berilah aku
sedikit, supaya setiap gerak huruf-huruf, kata dan kalimat
tak akan longlai dalam permainan tipu-muslihat musuh.
Tiap kata-kata dan kalimat dalam semaian telah siap-siaga.
Mereka seluas langit terbentang dari timur ke barat, utara
selatan, sederas air terjun mengalir, seluas samudera lautan.
Kata-kata dan kalimat itu seluas alam maya, sebebas burung-burung
yang terbang melintasi benua, sumurnya tak pernah kering.
Bukan kata-kata dan kalimat kebencian. Bukan, bukan,
bom yang membunuh. Kata-kata dan kalimat yang turun dari
sari pati Seribu Satu Malam. Dari perjuangan yang kental,
dari hidup yang murni, dari hidup yang menawan. Inilah
barisan kata-kata dan kalimat yang tak pernah menjadikan
kau bosan mendengarkannya. Kerana Allah, melindungi
alam semesta, dan aku di dalamnya. Aku berkata-kata
kepada Tuhan Rabiul Alamen, Ia berkata-kata balik kepada
aku dan dirimu. Ya Tuhan, lindungilah kata-kata dan kalimat ini
dari kebodohan dan kosong tanpa makna dan tujuan.
Kata-kata dan kalimat yang turun ke dalam sukma, biarlah,
turun dari kerendahan diri, turun dari daya artistik yang sedar.
Turun dari langit samawi. Turun membawa khabar suka.
Turun dari ketenangan di malam-malam tafakur. Turun
dari bait-bait puisi yang rindu pada kehadiran-Mu, turun
dari harapan. Dari dulu, kata-kata dan kalimat-kalimat
kekasih-Mu adalah anugerah-Mu. Tiada siapa yang dapat
merampas kedudukan kekasih-Mu yang mulia. Ya Rabbi,
tuangkanlah ke dalam huruf-huruf, kata-kata dan kalimat
ini, cahaya yang melenyapkan kegelapan dan membawa
perubahan langit dan bumi. Barisan kata-kata ini pelengkap
yang terjalin di dalam sukma, mereka terhimpun dalam
kata-kata dan kalimat bukan sebagai racun tetapi sebagai
penawar padamu.

Honiara
17 September 2012
*ITBM



Friday, 14 September 2012

Bisik-Bisik (Ketuhanan)

Ya Rabbi, aku bisikan kepada-Mu
kata-kata lembut dalam kalimat
tak terlalu keras sederhana saja.

Biarkan Kau saja mendengarkannya
yang lain aku tak bisa percaya
kerana nanti disalah mengertikan.

Kata-kata ini mengalir dari sukma
tak ada kata-kata yang mengugat
atau memaksamu atau dipaksakan.

Ini adalah salam kerinduan buatmu
kubisikkan pada langit biar nanti
turun bagai hujan gerimis di sukmamu.

Aku datang lagi dengan bait-bait kata
tiap kata ulangan berdiri santun,
mendekati-Mu, bagai anak kecil.

Aduh, aku gugup kerana memang
ini yang dirasakan, yang dibisikan
memang itu yang kau juga rasakan.

Ya, Rabbi, aku malu pada-Mu
Aku ingin ia pendamai hati
kekurangan ini telah mengujiku.

Kalau aku majnun, kaulah,
Laila, gazelku di malam kenanga
yang datang ke dalam mimpi.

Ya Rabbi, biar diulang genta rasa
dan bisikku turun menjadi doa
salam buatmu dari kejauhan.

Honiara
15 September 2012




16 September 2012*(UB) (Merdeka)

Aku mengenangkanmu, sehari sebelum hari itu,
hari perayaan yang gemilang. Beberapa hari ini
kau telah mendengar tentang hari gemilang itu.
Hari lahirnya sebuah pakatan dan masa depan.
Aku masih terlalu kecil untuk membayangkan
tugas dan tanggung jawab yang diletakkan ke
atas pundak. Sekarang, kau harus berdiri dan
menjadi sebuah bangsa, sebuah negara, yang
merdeka. Kemerdekaan rembulan penuh dan
di langit telah pun akur, ini adalah kemenangan
bangsa, bangsa Melayu, bangsa Malaysia raya,
bangsa bermartabat, yang berakar tunjang
pada tradisi yang kukuh di pusar bumi. Aku
tak akan berkata kalau itu bukan kebenaran.
Kebenaran yang tumbuh dari suara-suara
pribumi, suara-suara yang datang dari pedalaman
menuruni lembah ke banjaran Crocker lalu
menjadi air terjun dan sungai-sungai yang
mengalir jauh ke teluk dan muara, bergenang
sampai ke pulau-pulaumu. Aku mengenangimu,
sekalipun aku tak bersamamu, sukmaku telah
menyerap ke dalam sukmamu. Kita menjadi
satu, satu bumi dan satu langit. Sabah, kusebut
namamu, kerana aku telah lahir di situ. Bagaimana,
aku bisa melupakanmu. Kau, seperti Gazelku,
selalu datang dalam lamun dan mimpi di
segala musim. Kau hadir dalam bual, impian
dan mimpi. Setelah aku pergi, impian dan mimpi
itu akan hidup pada seorang aku yang kemudian,
setelah itu hidup pula pada mereka yang kemudian,
yang kemudian lagi dalam ratusan tahun dan ribu-
ribuan tahun dan sampai qiyamat. Namamu, Sabah,
hidup dalam doa-doa mutaki dari sukma yang bersujud.
Aku turunkan segala impian ini dari sukma yang
merdeka. Di sini aku terpanggil menurunkan bait-bait
kekasih yang merindukanmu. Aku hanya berdaya
mengumpul kata dan kalimat ini, sederhana, dan
tulus dari jiwa yang sedar dan bersaksi. Kuhadiahkan
kepadamu berupa salam dan perutusan doa. Setelah itu,
gelisahku akan redah, lautan ini akan tenang dan langit
akan cerah. Ungkapan kemerdekaan tak akan memberi
pengertian dan makna tanpa-Mu. Kerana kemerdekaanmu
dan kemerdekaanku, hadiah dari langit. Yang empunya
kuasa ke atas hidupku dan hidupmu. Tanpa-Mu,
kemerdekaan ini tak akan bertahan, hancur, luluh
di depan mata dalam sesaat. Seperti Tsunami, menyergapmu
dalam kau lena dan alpa. Perlukah kau diingatkan,
telah berapa kota tenggelam lenyap. Kupanggilmu,
tanah airku, yang gemilang, kerana kau memang gemilang.
Meskipun kita selalu mengharapkan yang terbaik dan
sempurna tapi ada saja kekurangan itu, namun kita
harus terus melangkah tanpa berundur. Tak semua
persoalan ada jawabnya, tapi setiap kemampuan pasti
menjanakan impian. Aku dan kau tumbuh sebaya, tapi
tak salah kalau aku katakan aku adalah abang kepadamu.
Kalau aku terkasar bukan ingin melukaimu, sekedar
mengingatkan. Kerana ketika aku telah tiada, kau
masih ada. Itu kenyataan. Aku tak akan kecewa,
Dan langit juga, tak akan kecewa, kerana kemerdekaanmu
terisi harapan sebuah bangsa, harapan sebuah negara,
Malaysia, dalam alaf 21. Bila kata dan kalimat menjadi
hambar dan kosong tak bermakna, gerhana menunggu
di horizon. Ya Rabbi, bukan itu yang kuinginkan,
samasekali bukan. Kemerdekaan ini, adalah kemerdekaan
kata dan kalimat dan berfikir, kemerdekaan anak bangsa,
kemerdekaan yang hidup bukan mati. Kekasih, menjelang
hari gemilang ini, berdandanlah seelok rupa, berkata santun
sambil berdoa, lenggang-lenggokmu yang sederhana,
kemeriahan cahaya dari rumahmu, gelak-gelak anak
di halaman, nenek tua bisa tersenyum, pejuang bangsa
duduk merendah, aku pun meletakkan tangan ke dada,
inilah bingkisan sederhana buatmu, perutusan 'merdeka.'

Honiara
15 September 2012

Nota: Tersiar Di Utusan Borneo 17 September 2012
*Antologi Kemerdekaan

Thursday, 13 September 2012

Aku Dan Puisi (Puisi) (Metamorposis)(ITBM)

Tiap hari kalau tidak diam aku akan mengumpul
huruf-huruf  lalu terkumpul menjadi sari kata
dan bait-bait puisi yang sederhana. Kata-kata
biasa dari pengucapan biasa setiap hari. Aku
suka pada kesederhanaan kerana di situ ada
rahsia keindahan yang mengalir dan tak pernah
kering. Aku tak memaksa atau terpaksa menulis
tapi terasa tolakkan dari sukmaku seperti Gazel
merontah-rontah, menerjang ke udara ingin
berlari bebas di dataran rumput hijau. Kata-kata
itu terkumpul menjadi bait-bait yang bersayap
dan mengetuk langit samawi. Kekadang seperti
burung-burung kecil di tepi danau mengibar-gibar
bulu kepaknya. Ada kedamaian setelah aku
menurunkan bait-bait itu untuk dibaca. Walaupun
ia masih bait-bait puisi yang terkumpul ingin
melangkah ke dalam kumpulan doa yang hidup
dan bernafas. Turun bait-bait puisiku di malam
tafakur. Aku terus memanggil-manggil nama-Mu,
dalam kesederhanaan, memandang dunia sebagai
gelombang-gelombang udara  yang mengepul dan
hilang sekelip mata. Bait-bait puisi ini bukan untuk
menyiksamu, apa lagi menjadi panah-panah api
yang melayang ke pusar langit turun sebagai raksasa
dan belerang. Bait-bait puisi ini, bukan, samasekali,
bukan cairan racun dipaksakan supaya kau harus
meminumnya. Bait-bait puisi ini bukan juga kumpulan
kata-kata lalu menjadi tali kalimat yang menjerat di
lehermu. Sungguh! Mereka hanya sekedar bait-bait
sederhana, dari khazana masa silam mengalir sampai
ke sini. Dalam tiap huruf-huruf itu hidup sendiri-sendiri,
dalam konsonan dan vowel. Aku menyintai semuanya.
Kalau puisi-puisi itu adalah  sebuah resepi, aku ingin
rempahnya kental dan meresap sampai ke tulang sum-sum.
Aku ingin tiap kata turunannya, kekayaan yang melimpah
dari tradisi turun-temurun. Mereka adalah barisan kata
dan kalimat yang siap siaga berkorban demi kemerdekaan
sebuah bahasa. Bahasa yang hidup dan bernyawa,
bahasa puisiku, aroma puisiku, kesederhanaan puisi dalam
bahasa ibunda. Di dalam bait-bait puisi ini, ada suaramu,
Tun Sri lanang, ada keberanianmu, kebijaksanaanmu,
Puteri Gunung Ledang. Bila kulantangkan suaraku dalam
bait-bait puisi ini, aku masih seorang yang sederhana,
aku tak akan mencari musuh. Kerana, tiap bait-bait
puisi yang terucap adalah kasih sayang bukannya dendam
kesumat. Adalah bait-bait puisi yang mendekatkan diriku
kepada-Mu. Bait-bait puisi ini adalah suara-suaramu,
tanpa sempadan, merdeka seluas alam jagat, seluas langit.
Dalam jalur-jalur genta rasaku, aku mengingatimu, dan
kau tetap terpandang seorang Mushi, Mushi Abdullah.
Bait-bait puisi ini adalah sari yang menitis, keindahanmu,
dalam ungkapan manismu. Kalau aku dapat mengambil
sedikit darimu, Usman Awang, masuk ke dalam bait-bait
puisiku, dan biarkan bait-bait puisiku tenang senang lautan
Zaihasra. Turunlah, bait-bait puisiku, meskipun kau masih
kata kalimat seorang musafir, yang pulang ke dalam
tradisi. Bait-bait puisiku ini adalah kekasih dan harapan.
Yang terkumpul dalam rembulan penuh menjadi bait-bait
puisi. Mari, kupinjam sukmamu A. Latif Mohidin, Muhammad
Hj Salleh, Agi dan Kemala ke dalam bait-bait puisiku. Siti Zainon Ismail
dan Zurinah Hasan pelengkap hiasan sebuah puisi. Sungguh,
aku dan puisi berdiri di dataran rumput musim semi. Dan,
kau, Gazelku, mari kita, berlari semaunya sampai ke langit samawi.

Honaira
14 September 2012
*ITBM

Wednesday, 12 September 2012

Pulau Bidung (Boat people)

Pernah Pulau Bidung ini sarat dengan penumpang malam
udaranya semakin tipis kerana terlalu ramai yang tiba
dan yang pergi pula terlalu kecil. Lautnya bergelora
mengirim gelombang-gelombang dan guntur dan petir. Dan
penumpang malam datang juga. Pulau Bidung merasa langit
dan lautnya tercemar. Yang tiba tetap tiba, ke pintu masuk
dunia bebas. Jumlahnya makin besar, mereka bergayutan, sesak,
dan memanjat ke tulang belakang Pulau Bidung. Orang-
orang panik dan mulai mengirim isyarat. Guruh dan petir
sambung-menyambung, kedamaian Pulau Bidung dirasakan
telah musnah buat selamanya. Jika tidak diambil tindakan
Pulau Bidung ini akan tenggelam ke dasar Lautan China Selatan
Dan namamu hanya tinggal nama. Dan hanya tinggal nama.
Jenerasi akan datang tak akan mengampunimu. Mereka
akan memperolokmu dan menyumpah. Gendang
pun dipalu, supaya rasa ketakutan meresap ke dalam
sukmamu. Siang malam kau diperingatkan. Tiada masa
kau tidak diperingatkan. Rasa kemanusiaanmu pun
dipertikaikan. Percakapanmu menjadi perbualan di mana-
mana. Tiap orang mempunyai pandangannya sendiri.
Tiap orang menghukum sendiri. Tiap orang terlalu sensitif,
tiap bual menjadi debat berjela-jela, tanpa arah dan keputusan.
Pulau Bidung, di lautan China Selatan, kini menjadi tumpuan
pelancung. Dulu, bekas-bekas penumpang malam pernah duduk,
berasak-asak dan tiap mata kuyuh dan sayu. Mereka mencari
matamu untuk sekilas belas dan harapan. Kalau diperhitungan
masa itu telah jauh ke masa silam, orang pun telah melupakan.
Penumpang malam yang menemukan wajahnya di negara-negara
Utara dan Selatan, sesekali igaunya hinggap dalam mimpinya
membawa sukmanya ke Pulau Bidung dan Lautan China Selatan.
Pulau Bidung, kau tak akan dapat dipisahkan dari pendatang,
penumpang malam, dan gemuruh samudera masa silam. Dan mereka
juga tak akan dapat melupakanmu. Pulau Bidung, kini, langitmu
cerah, bumimu, hijau, airmu manis. Kemurahan dan ramah-tamahmu
menjadi hiasan di langitmu. Pulau Bidung, selangkah lagi
mendekatimu jalan ke syurga.

Honiara
13 September 2012




Mengenangmu (Boat People)

Sendiri, berdiri di pinggir pagar melihat
tenang teluk Sandakan. Pernah di situ,
di pelabuhan Barter Trade ini sibuk,
ratusan dan berlipat sampai ke ribuan
penumpang malam berdatangan. Kapal-
kapal penuh muatan, orang-orang
dari kepulauan selatan terpaksa pergi
dan memburu cahaya di pesisir pantaimu.
Sabah, terpanggil membuka pintunya.
Perang, tembak-menembak, lari dan sembunyi,
Regim Marcos mengepong desa-desa dan
memaksamu menjadi penumpang malam.
Di lautmu, terlentang kepulauan selatan,
pulau Mindanao, Tawi-Tawi, Pahlawan dan
Pulau Jolo, di laut Sulu, benteng yang
kukuh dan tak pernah dikalahkan.
Armada Sepanyol terpukul mundur, datang
Kolonial Amerika, menerima nasib sama.
Bangsa Moro terus diburu, pembantaian
bangsamu masih hidup dalam ingatan.
Dan peristiwa hitam itu, jadi tugu dalam sukmamu.
Kini, setengah abad Sabahmu, merdeka, laut,
kepulauan dan sempadanmu, tenang. Langit
malammu menelur mimpi, kapal-kapal belayar,
datang dan pergi. Kesabaranmu sebagai rembulan
tetap ramah, berteduh dan mencari makan.
Di sini, mereka berbual, minum kopi. 
Lalu membuat pesta dan membesarkan
rumah tapi lupa menyiapkan lantainya rapi.

Honiara
13 September 2012

Tuesday, 11 September 2012

Selamat Tinggal Bumi (Boat People)

Ketika aku melangkahi halaman rumah,
turun dari anak tangga, rumah ini bukan
rumahku lagi. Tapak-tapak di atas tanah
memang tapak kakiku, setelah diulit masa
ia pun hapus tak berbayang lalu debu-debu
terseret terpukul angin ke sana ke mari.
Tiada lain dalam tas ini, ada foto keluarga
anak kunci rumah peninggalan masa silam.
Sebelum berpergian, di tanah asing atau di
pelabuhan jauh sepi, aku akan mengelus
-ngelus anak kunci ini di tangan kanan.
Aku, lelaki tanpa negara. Terpukul gelombang,
diherdik dengan bahasa kesat dan tak berkawan,
melambung ke atas, ke bawah, mencari dahan
hanyut di pulau pasir. Kini, telah kuhanyutkan
masa silam dan mengangkat sauhu, membiarkan
tofanmu memukul sepuasnya, sakitnya tak terasa.
Pernah kurasakan jasadku terangkat ke langit,
melayang-layang tanpa pelabuhan dan perhentian.
Aku melihat bumi seperti sebiji kerongsang.
Selamat tinggal, bumi. Kau tak pernah kalah
sekalipun dalam kejutan, apa lagi gegaran dan
bumi masih di situ, dan masih bernafas.
Di sini kali terakhir aku melayang-layang jauh
dari bumi dan anak kunci dan foto itu masih
kugenggammu baik. Selamat tinggal bumi.

Honiara
11 September 2012